KOLOMMS TAJUDDIN

Demo, Ramadan dan Kande-kande Mantega

KACO tidak tahu harus memilih alasan apa untuk menolak ajakan Cicci teman terbaiknya yang satu kampus dengannya untuk ikut berdemonstrasi. Siang itu saat ia tengah asyik berselancar di gadget miliknya bersama Cicci di taman kampus tempat ia tercatat sebagai mahasiswa.

Aha, kande-kande mantega yang spontan berkelebat di kepalanya dan itu pula yang seketika ia utarakan kepada Cicci sebagai alasan untuk tidak ikut berdemo. Ya, dirinya akan membantu kindo’na untuk membuat kande-kande mantega persiapan lebaran nanti.

“Duh, alasan apa itu. Masak laki-laki sejantan kamu lebih memilih membuat kande-kande mantega? Bukankah itu artinya kamu memang tidak peduli terhadap keadaan banua kita sekarang ini? Mana ideologimu itu? Katanya, kamu itu agent of change. Agent of change kok, malah lebih mengurusi urusan perempuan seperti itu?” sergah Cicci saat mendengar alasan Kaco yang nyaris tidak bisa masuk diakalnya itu.

“Loh apa yang salah dengan kande-kande mantega? Kamu ini malah yang keliru, mana mungkin urusan membuat kande-kande mantega adalah urusan perempuan semata. Coba kamu lihat begitu banyak chef yang justru diperankan oleh banyak laki-laki. Kamu ini agent of change kok malah menjadi amat sangat bias gender. Lagi pula, bukankah membantu orang tua adalah tindakan baik dan perintah agama. Apatalagi kita ini tengah berada di bulan baik. Bulan puasa seperti ini, kita harus banyak menabung kebaikan karena pahalanya berlipat-lipat,” sergah Kaco balik menyalahkan Cicci.

Cicci yang tadinya hendak menyalahkan Kaco, malah balik dirinya yang merasa tersudutkan dengan kalimat dan jawaban Kaco yang meluncur dari mulutnya yang telah menyeruakkan bau naga, lazimnya aroma mulut orang yang tengah berpuasa itu.

“Baiklah kalau begitu. Silahkan kamu membantu kindo’mu membuat kande-kande mantega. Tetapi ingat, kita turun ke jalan kali ini adalah panggilan ibu pertiwi. Bagi saya amat sangat penting untuk direspon. Terlebih di tengah kondisi banua kita kini, yang seakan-akan konstutusinya kembali hendak dibongkar pasang seperti mainan bongkar pasang seenak perut para punggawa banua. Saya tidak akan memaksa dirimu Kaco. Tetapi ingat, ini akan menjadi catatan sejarah buram bagimu, yang tidak mau terlibat untuk ikut menorehkan catatan sejarah yang baik bagi kepentingan besar banua kita,” tandas Cicci sesaat sebelum dirinya bergerak meninggalkan Kaco dan menuju gedung perpustakaan kampusnya siang itu.

Dalam benak Kaco, ada rasa menang dalam berargumen dengan Cicci yang dikenal sebagai perempuan vokal di kampusnya itu. Namun jauh di lubuk hatinya, muncul juga rasa bersalah. Tetapi rasa bersalah itu tidak kepada Cicci, tetapi kepada ibu pertiwi yang dijadikan alasan urgen Cicci untuk harus turun ke jalan keesokan harinya dan ikut menerikkan kebenaran.

Tetapi kebenaran apa yang harus diteriakkan, sebab jika dipikir-pikir, bagi Kaco memilih membantu orang tua dan tidak mengumpat pamaretta banua dan berteriak lantang dengan menggunakan toa dan memacetkan jalan itu adalah pilihan yang jauh lebih penting di bulan ramadan.

Ya, bulan ramadan bagi Kaco hendaknya lebih dimanfaatkan baik untuk beribadah dan fokus hanya untuk menyauk pahala dan mengaplikasikan kebaikan sosial dan solidaritas. Bukan malah memilih, turun demo, berteriak lantang menyalahkan pamaretta, atau memacetkan jalan bagi warga banua lainnya.

Bukankan saluran berdemonstrasi kini telah tersedia begitu banyak kanal dan salurannya. Tanpa harus turun ke jalan memacetkan dan mengumpat serta berteriak lantang menyalahkan. Seakan kita lupa, bahwa kita juga telah begitu banyak melakukan kekeliruan dan kesalahan, dan karenanya kita membutuhkan ramadan sebagai momentum pertobatan atas kesalahan dan kekeliruan yang telah kita perbuat?

Begitu pikir Kaco, tetapi itu sesaat setelah Cicci meninggalkannya dan berlalu darinya. Sebab malam sepulang dirinya salat tarwih berjamaah di masjid, dirinya kembali merenung dan mengisap rokoknya seraya menatap rembulan yang nyaris separuh itu dari teras rumah panggungnya.

Bahwa sebagai warga yang baik, sudah seharusnyalah Kaco belajar pula untuk menggenapkan ibadah puasanya dengan ikut terlibat demo demi kemaslahatan banuanya. Tentu saja dengan turun ke jalan dan ikut terlibat aktif dalam upaya mendorong perbaikan banua tempat ia dilahirkan.

Semacam upaya untuk mengikuti jalan nabi yang juga ikut turun ke medan perang tanggal 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadhan tahun kedua Hijriah yang dalam sejarah, sebagaimana yang pernah Kaco baca disebut sebagai Perang Badar.

Sebuah pertarungan di medan perang yang dipimpin langsung oleh Rasulullah Saw di bulan Ramadhan dan sukses membunuh tiga pemimpin kaum Quraisy, yaitu Utbah, Syaibah, dan Walid bin Utbah. Namun Kaco kembali berpikir adakah demontrasi yang akan dilakukan oleh dirinya dan kawan-kawannya itu adalah bagian dari jalan para nabi. Sementara dirinya terlambat berbuka dan terlambat dibangunkan untuk sahur saja, Kaco kadang lippu, macai dan meradang dalam hati.

Sungguh antara berdemonstrasi turun ke jalan di tengah bulan ramadan dan kande-kande mantega adalah suatu soal yang tidak saja harus dipikirkan matang secara philosofis, tetapi juga membutuhkan pertimbangan matang dan ketepatan bersikap serta bertindak.

Selesai, ia berpikir keras, Kaco membuka ponselnya, hendak menghubungi Cicci. Namun batal, karena dari dalam rumahnya, Kindo Kaco keburu memanggilnya untuk menyelesaikan sisa-sisa buka beberapa jam yang lalu.


Catatan: Sebelumnya tulisan ini telah dimuat di Koran Cetak Harian Sulbar Express Edisi Selasa 12 April 2022

MS TAJUDDIN

belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button