Rabu , Oktober 21 2020
Home / KOLOM / Amma Cammana; Kelembutan, Rasa dan Spritual

Amma Cammana; Kelembutan, Rasa dan Spritual

SAYA belum pernah memiliki kesempatan bertemu langsung dengan sosok perempuan hebat itu. Saya selalu mendengar namanya disebut dari sudut diskusi atau cerita dari para sahabat, rekan pekerja seni budaya Mandar-Sulawesi Barat atau tulisan-tulisan dari orang-orang yang begitu tulus mencintainya. Dirinya telah dijadikan panutan kesungguhan berkesenian, juga dijadikan ikon sekaligus pengejewantahan ikatan cinta, yang menggambarkan sosok perempuan yang begitu dalam kerinduannya kepada Penciptanya. Juga kepada Rasulullah, baginda Nabi Muhammad SAW melalui lantunan shalawat bersama tabuhan ritmik rebana.

Saya membayangkan perempuan itu seperti punggawa negeri atau tokoh wanita yang namanya terkenal hingga seantero negeri ini atau seorang sosok tokoh sekelas penyair WS.Rendra dalam sebuah panggung megah dengan tata lampu dan tata suara yang hebat. Namun kenyataan itu sangat jauh berbeda, dia merupakan perempuan desa kebanyakan, yang mengerjakan segala kewajiban juga rutinitasnya sebagai ibu dalam keluarganya. Tak ada yang istimewa dalam kacamata duniawi.

Panggungnya kebanyakan dari rumah ke rumah memenuhi hajatan warga. Sesekali memenuhi undangan dari satu daerah atau keluar negeri, sebagai penyampai “keberadaan” seni budaya Mandar Sulawesi Barat untuk publik dan khalayak yang lebih luas. Namun sejatinya panggung Amma Cammana yang paling otentik sesungguhnya adalah ruang hubungan cintanya dengan sang Rabb-Nya juga Rasul-Nya begitu mendalam, yang terkadang jauh dari jangkauan logika pikiran kebanyakan kita.

Dia sosok perempuan yang telah berusia sepuh, berbagai deret lipatan kehidupan telah dia lalui. Seiring nafasnya tak lepas melantunkan zikir dan doa ketika masih berhembus. Tangannya begitu piawai dalam memainkan ketukan irama rebana. Mengalirkan ketenteraman dan kedamaian yang dalam. Pada suaranya yang begitu khas, yang hingga kini masih terngiang dalam pikiran para pengagumnya juga adalah sebuah ihwal penyampai kepada kita betapa suara khas hanya akan diperoleh oleh mereka yang memiliki keterikatan dengan Sang Pemilik Suara sejati.

Kalimatnya selalu menyemburkan energi dalam ruang-ruang kehidupan. Tak ayal ranah pendidikan, kebudayaan, juga kemanusiaan menjadi tema-tema yang selalu hadir dalam lantunannya. Hingga jauh menggapai ke titik tertinggi dalam kecintaan seorang hamba kepada Sang Penciptanya.

Melihat dirinya jauh ke belakang, Amma Cammana tumbuh dalam keluarga yang begitu menghargai nilai-nilai budayanya yang seiring dan sejalan dengan nuansa religiusitas yang diyakininya. Dalam pusaran waktu, dirinya telah ditempa pada lingkungan yang kental dengan darah seniman juga religius.

Keistimewaan itu diturunkan langsung oleh kedua orang tuanya. Pada sang Ayah, Dzani, dikenal sebagai sosok yang giat mengajarkan tasawuf, pandai bermain rebana hingga mengajarkan ilmu silat dan bahkan sang Ayah dipercaya memangku jabatan sebagai juru tulis kepala kampung.

Pada ibunya tak jauh berbeda dengan sang Ayah. Sang Bunda bernama Joe pun dalam kehidupannya mengabdi menjadi seorang guru ngaji, dalam seni sang ibu lincah memainkan kecapi mengiringi syair-syair tentang nasihat, kehidupan dan juga tentang Rabbnya. Ibunya pun dikenal dan dipercaya oleh warga kampung menjadi guru spritual, yang memiliki kelebihan pada hal-hal di luar dari kebiasaan.

Di usiannya yang masih belia bagi Amma Cammana, bermain rebana adalah sebuah pengabdian sekaligus titian untuk menemukan jalan menuju Tuhan. Lantunan shalawat dalam syair puji-pujian kepada sang pemilik semesta. Seirama dalam tabuhan rebana yang selalu menjadi penanda di setiap pentasnya. Suaranya menjadi ciri khas yang membumikan tentang wejangan atau nasihat, juga sebagai ladang menularkan kebajikan sesama makhluk yang setia bersujud hanya kepada-Nya.

Rebana dan shalawat menjadi penebus kerinduan, Rebana bagai belahan jiwanya setelah cinta bagi anak-anaknya dan keluarganya. Hampir semua hari dihidupnya diisi dengan zikir dan shalawat, mengajarkan warga kampung tentang mengeja dan membaca Alquran.

Amma Cammana, pada dirinya adalah sosok jelmaan perempuan Mandar dalam sebuah totalitas. Darinya kita bisa belajar tentang makna Kelembutan, Rasa dan Spritual. Menyatu dalam dirinya sebagai jalan kerinduan dan kecintaan kepada Rabb dan Rasul-Nya.

Saat dirinya masih hidup diusianya telah uzur, tangannya tetap lincah menempatkan sisi kelembutan dalam menabuh rebana namun tetap memberi kesan energik seperti kala dia masih muda. Permainannya sebagai “Parrawana Towaine” (penabuh rebana perempuan) pun konsisten sebagai manhaj dalam menyebarkan dakwah yang berbalut irama, menentramkan pikiran juga mengikis beban mareka yang memiliki kerinduan kepadaNya.

Kelembutan sikapnya tercermin dalam ucapan yang selalu hadir mengisi setiap kata dalam petuahnya. Begitupun dalam lantunan syairnya yang penuh kehidmatan dan kekhusyu’an, menghadirkan kedamaian juga ketentraman bagi yang mendengarkan. Semua dia hidupkan dalam kelembutan, sebagai cara untuk memperbaiki tabiat manusia untuk mengajaknya pada jalan kebaikan. Namun pada hal lain, dia akan tetap konsisten pada sikap yang membutuhkan ketegasan.

Permainan rebana oleh Amma Cammana wujud dari jiwa seni yang bersemayam dalam dirinya, sehingga rebananya kian menjadi permainan yang begitu apik. Dengan latar belakang itu pula Amma Cammmana mampu memasukkan rasa sejati pada setiap pentas dan pertunjukkannya. Itupula yang menjadikan jalan dan mampu mengekspresikan situasi transendentalnya sebagai pengharapan mahabbah sang Pencipta.

Dalam tabuhan rebananya selalu menghadirkan rasa di dalamnya. Mengejewantahkan wujudkan rasa syukur dan rasa menghamba yang teriring lantunan shalawat dalam kekhusyu’an serta ketenangan saat didengarkan. kemudian akan masuk ke dalam batin membentuk rasa pada wujud kelembutan, getaran dalam hati, rasa takut juga ketenangan bagi yang mendengarkan. Semua digerakkan pada sebuah rasa terdalam sebagai pergumulan perjalanan batin, hingga akhirnya sampai pada titik kehalusan rasa yang sejati.

Ini pula yang menjelaskan mengapa Amma Cammana begitu kuat dalam hal spritualnya. Sesuatu yang diartikan sebagai energi dalam kehidupan manusia. Dimensi spritual telah menjadi inti dalam kehidupannya. Sebagaimana Amma Cammana begitu dekat Tuhannya, matanya yang terkadang sembab dengan air mata ketika melantunkan zikir dan kadang disaat menabuh rebananya dalam sebuah panggung. Amma Cammana memiliki cara tersendiri dan unik untuk “berkomunikasi” dengan Rabbnya. Kadang itu menjadi sesuatu yang tak dimengerti dan di luar logika kita sebagai manusia biasa. Namun baginya, Amma Cammana sendirilah yang mampu memahami itu.

Dalam hal lain, kehidupan Amma Cammana penuh dengan kesederhanaan, dia jalani hidup dan tinggal dalam sebuah rumah panggung seperti masyarakat Mandar kebanyakan. Jauh dari kesan hingar bingar kemewahan duniawi. Dirinya bagai sungai Mandar, mengalirkan air dari hulu ke muara yang tenang dan memiliki kedalaman batin.

Bagi kebanyakan orang yang dekat dan mengenalnya, Amma Cammana telah menjadi sosok panutan atau “guru spritual”. Eksistensi nilai luhur yang diajarkan olehnya, selalu menjadi kiblat bagi mereka dan simbol keabsahannya. Banyak penggalan-penggalan cerita yang menuturkan kelebihan Amma Cammana dalam soal spritualitas.

Bahkan seorang Emha Ainun Nadjib atau yang karib disapa Mbah Nun, selalu berkunjung ke rumah Amma Cammana. Mbah Nun sangat memuliakan Amma Cammana, dirinya begitu mencintainya dan telah menjadikan dia sebagai sosok Ibu untuknya. Hal itu dia gambarkan dalam satu tulisannya “Narasi Cinta dan Airmata Bunda Cammana”, pada bagian akhir paragraf Mbah Nun menuliskan; “Bunda, Mamak kami semua, seluruh waktu ini penuh sesak tak cukup untuk menuliskan hidupmu yang penuh cinta. Engkau adalah aplikasi dari Rahman Rahim dalam kehidupan manusia. Selamat kembali ke kampung halaman sejati”. Penggalan tulisan itu mentasbihkan bagaimana sosok Mbah Nun begitu dekat dengan diri Amma Cammana.

Bahkan dalam kesempatan lain, saat Mbah Nun bertemu dengan Amma Cammana. Diceritakan, jika dalam pertemuan itu tak ada tuturan dan dialog yang terbangun bahkan terucapkan diantara mereka. Mbah Nun dan Amma Cammana hanya berpelukan, menangis, dan lalu keduanya sama menghanyut dalam sebuah dialog batiniah yang begitu dalam pula intens. Tak ada yang memahami apa yang terjadi diantara keduanya, sebab dialog pada tingkatan itu, hanyalah mereka berdua yang benar-benar mengetahuinya.

Pada kisah lain dari seorang Sahabat yang sebelumnya aktif bergiat dalam sebuah komunitas teater di Polewali Mandar, ihwal persentuhannya dengan Amma Cammana yang begitu berkesan. Menurutnya ada sejumlah “kelebihan” yang dimiliki oleh sosok Amma Cammana dan itu tidak dimiliki oleh banyak orang. Rekaman kejadian itu, saat dirinya akan mengikuti sebuah pentas pertunjukan kesenian bersakala nasional. Seperti kebiasaannya, dan seakan telah menjadi tradisi, sebelum berangkat mengikuti undangan pertunjukan ke berbagai event selalu didahului dengan berkunjung ke rumah Amma Cammana. Maksudnya adalah untuk meminta doa restu untuk kelancaran kepesertaaanya dalam beragam event itu, dan atau sekedar peroleh berkah dari Amma Cammana.

Dan anehnya, diluar jangkauan nalar manusia biasa, Amma Cammana saat ditandangi rumahnya untuk meminta doa restu keberangkatan itu tidak jarang mengingatkan dan bahkan menyampaikan bahwa, jika diantara personil komunitas teater itu, nantinya akan ada yang mengalami sakit atau mungkin menemui kendala dalam perjalanannya. Sehingga disarankan berhati-hati dan menjaga diri serta tetap berlaku baik selama perjalanan.

Dan benar apa yang dikatakan oleh Amma Cammana pun terjadi, salah seorang personil mereka sebagaimana yang disebutkan nama dan orangnya itu, benar-benar sakit dalam perjalanannya menuju pentas pertunjukan. Persis sama seperti apa yang diucapkan Amma Cammana, sebelum mereka berangkat dan bahkan tepat mengenai orang yang disebutkan itu.

Kemampuan yang dimiliki oleh Amma Cammana seperti mampu membaca tanda dan kejadian. Perjalanan spiritual Amma Cammana telah sampai pada kemampuan dasar mensikapi sebuah lompatan kehidupan. Sebuah usaha yang tak biasa dalam rentetan pengolahan jiwa dan batinnya. Maka wajar jika dalam diri Amma Cammana bersemayam kelembutan, rasa dan spritual yang selalu melekat pada dirinya.

Hingga akhirnya terdengar kabar kepergiannya menemui Sang Penciptanya. Kesedihan bagi yang ditinggalkan, namun sebuah kebahagiaan untuk Amma Cammana. Setelah kerinduannya yang selama ini dia dendangkan dalam tabuh rebana, shalawat dan zikirnya sampai di titik pertemuan sejati.

Kelender menunjuk hari Senin tanggal tujuh bulan september 2020 Amma Cammana telah pamit dan menuju pertemuan dengan Sang Khalik yang dicintainya. Namun setumpuk warisan dan kebaikan serta kesungguhan akan tetap memenuhi ruang-ruang seni, kebudayaan dan spritualitas tanah Mandar-Sulbar tanah tempat Amma Cammana dilahirkan, juga tanah tempat ia kembali menuju pertemuan sejati.

Tak berbilang torehan kebaikan dan catatan indah yang dia torehkan. Tak bisa hanya didekati dalam definisi seorang maestro rebana atau seni budaya saja. Tetapi Amma Cammana telah sampai pada kesejatian makna keindahan, kerinduan dan kebaikan serta kemanusiaan sebagai puncak seni budaya yang tertinggi. Amma Cammana, dia akan abadi dalam ingatan dan akan selalu dikenang dalam setiap lembar-lembar zaman.[**]

About SULHAN SAMMUANE

Selain Menulis dirinya juga dikenal aktif sebagai pemerhati pendidikan anak usia dini

Check Also

Apa Kabar Pilkada Serentak?

PILKADA serentak yang akan dihelat tanggal 09 Desember Tahun 2020 dipastikan akan jauh lebih menantang …

Perayaan 75 Tahun Kemerdekaan Jangan Sekedar Euforia

USIA 75 tahun perjalanan bangsa telah mengalami berbagai ujian. Berlipat-lipat kenangan telah pula terlewati. Berbagai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]