MURSYID SYUKRI

MURSYID SYUKRI

Aktif dalam pergerakan seni budaya Mandar dan serius menghibahkan waktunya sebagai Ketua Sekolah Adat Adolang Pamboang
  • KOLOM

    Hardi Jamal

    SORE itu langit Tinambung mulai meredup. Angin dari arah laut perlahan masuk melalui sela-sela pepohonan yang tumbuh di sekitar kawasan Buttu Cipping. Hari telah berada di penghujung kegiatan Workshop Talenta Bahasa dan Sastra yang dilaksanakan sejak Kamis 22 Mei hingga Jumat 23 Mei 2026. Aktivitas peserta mulai berkurang. Sebagian telah beristirahat, sebagian lagi sibuk bersiap untuk acara penutupan. Di Bawah…

    Read More »
  • KOLOM

    Antara Kemampuan dan Keikhlasan

    PERJALANAN ziarah makam sering kali bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang menghadirkan renungan panjang tentang hidup, kematian, ibadah, dan nilai pengorbanan. Setelah menziarahi pusara Ayah dan Ibu di Pekuburan Islam Panrita di Pamboang, lalu melanjutkan perjalanan ke makam To Salama’ Syekh Abdul Mannan di Salabose, hati terasa dipenuhi rasa haru. Makam Ibu dan Bapak terpisah jarak Antara…

    Read More »
  • KOLOM

    Takbiran Tak Menggetarkan Hati

    SORE menjelang malam Idul Adha sering menghadirkan suasana yang berbeda di dalam hati manusia. Di langit terdengar gema takbir, di masjid orang-orang mulai berkumpul, sementara di tanah suci jutaan jamaah haji sedang berdiri di Padang Arafah. Namun di tengah ramainya suara takbir, ada satu keadaan yang diam-diam mengusik jiwa manusia, yaitu ketika “takbiran tidak lagi menggetarkan hati”. Suara takbir terdengar…

    Read More »
  • KOLOM

    Sehat Raga, Jiwa Egois

    SETIAP Minggu pagi, kawasan Stadion Prasamya berubah menjadi ruang hidup masyarakat. Orang-orang datang dari berbagai wilayah di Majene hingga daerah Tinambung untuk berjalan kaki, berlari kecil, senam, bercengkerama bersama keluarga, hingga menikmati jajanan kuliner dari pelaku UMKM. Aktivitas itu dikenal dengan istilah CFD atau Car Free Day hari dimana ruang jalan seharusnya dikembalikan kepada manusia, bukan kepada kendaraan. Pemandangan ini…

    Read More »
  • KOLOM

    Apa Itu Hari Buku Untuk Generasi?

    APA sebenarnya makna Hari Buku bagi generasi hari ini? Apakah ia hanya sebatas tanggal peringatan di kalender, ucapan seremonial di media sosial, atau sekadar pajangan foto buku yang diunggah lalu dilupakan? Ataukah Hari Buku seharusnya menjadi momentum besar untuk membangunkan kembali kesadaran berpikir sebuah bangsa? Melihat kondisi hari ini, kita hidup di tengah zaman yang penuh ironi. Teknologi berkembang begitu…

    Read More »
  • KOLOM

    Bangga Dengan Mandar Kappung Pembolongan

    DI penghujung kegiatan Workshop Talenta Bahasa dan Sastra, suasana ruangan sebenarnya terlihat biasa saja. Para peserta sibuk menyimak pembacaan karya, beberapa berdiskusi kecil, sementara sebagian lainnya hanya duduk mendengarkan dengan tenang. Namun di tengah suasana yang tampak sederhana itu, terdengar sebuah percakapan yang menyentuh kesadaran tentang identitas dan asal-usul. Percakapan itu datang dari diskusi kecil antara Ramli Rusli bersama beberapa…

    Read More »
  • KOLOM

    Ketika Dunia Mengajarkan Pergi, Siapa Mengajarkan Pulang?

    PADA penghujung sebuah kegiatan Workshop Bahasa dan Sastra di Taman Budaya dan Museum UPT Taman Budaya di Buttu Cipping, di hadapan peserta, pemateri M. Syariat Tajuddin membacakan sebuah Kisah Cerita yang ditulis sendiri olehnya. Sebuah kisah sederhana, namun mengguncang batin saya yang mendengarnya dari kejauhan. Ia membacakan cerita tentang seorang tua bernama Puayi Kaco. Bukan tokoh besar. Bukan bangsawan. Bukan…

    Read More »
  • KOLOM

    Bustan Basir Maras: Asal Sehat Jiwa Raga, Faham, Bisa dan Mengerti Baca Tulis, Menulislah!

    UNGKAPAN “Asal sehat jiwa raga, faham, bisa dan mengerti baca tulis, menulislah” merupakan sebuah seruan intelektual dan kebudayaan yang sangat mendalam maknanya. Kalimat ini bukan sekadar ajakan untuk menulis, tetapi juga sebuah panggilan moral kepada generasi muda agar mencatatkan jejak kehidupan, budaya, bahasa, dan peradaban masyarakatnya sendiri. Dalam konteks Tanah Mandar, ungkapan ini menjadi sangat penting karena Mandar memiliki kekayaan…

    Read More »
  • KOLOM

    Tuttu’ Rawana dan Rampak Dzikir

    TUTTU’ rawana dalam masyarakat Mandar bukan sekadar bunyi pukulan rebana, melainkan jejak panjang peradaban spiritual yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat pesisir Sulawesi Barat. Dalam bahasa Mandar, tuttu berarti pukulan atau rempakan, sedangkan rawana adalah sebutan lokal untuk rebana. Akan tetapi, Rawana dalam kebudayaan Mandar memiliki ciri yang berbeda dengan rebana pada umumnya. Ukurannya lebih besar, berdiameter sekitar 60 hingga…

    Read More »
  • KOLOM

    Etika Mappasa’bi Leluhur Mandar

    DALAM kehidupan masyarakat Mandar, tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari sistem nilai yang menjaga hubungan manusia dengan Tuhan, alam, leluhur, dan sesama manusia. Salah satu tradisi yang masih dikenal dalam kehidupan masyarakat adat Mandar adalah Mappasa’bi. Tradisi ini dipahami sebagai suatu bentuk penyampaian niat, permohonan restu, serta penghormatan sebelum melaksanakan suatu kegiatan penting, terutama hajatan, upacara adat,…

    Read More »
  • KOLOM

    Seandainya Saya Diminta Memilih

    SEANDAINYA saya diminta untuk memilih, di tengah situasi yang masih menyisakan ruang kosong dalam kepemimpinan Wakil Gubernur Sulawesi Barat pasca berpulangnya Mayjen Salim S Mengga, maka pilihan itu tentu bukan sekadar soal politik, tetapi juga tentang rasa, nilai, dan keberlanjutan cita-cita yang pernah dirintis bersama. Hingga hari ini, harus diakui bahwa belum ada sosok dari kandidat lain yang benar-benar menghadirkan…

    Read More »
Back to top button