Maulid Rumpun Poralle di Salabose: Tradisi yang Bertahan di Tengah Keterbatasan
SISA sepekan lagi, tepatnya Selasa, 25 Agustus 2026, masyarakat Rumpun Poralle Salabose, Kabupaten Majene, kembali akan melaksanakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Salabose. Bagi sebagian orang, perayaan ini mungkin hanya terlihat sebagai agenda keagamaan tahunan. Namun bagi masyarakat Poralle Salabose, Maulid bukan sekadar seremonial. Ia adalah warisan sejarah, tradisi, identitas, spiritualitas, sekaligus kebudayaan yang diwariskan lintas generasi.
Ketika Maulid Poralle Salabose telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), muncul pertanyaan mendasar, sejauh mana perhatian pemerintah terhadap tradisi yang hidup dan dijaga masyarakat ini?
Tahun ini, pelaksanaan Maulid berlangsung dalam kondisi yang memprihatinkan. Tidak ada bantuan dana dari pemerintah dengan alasan keterbatasan anggaran. Namun masyarakat tidak menyerah. Rumpun Keluarga Besar Poralle Salabose memilih untuk tetap melaksanakan tradisi ini dengan kekuatan sendiri, melalui dana pribadi dan swadaya keluarga. Di satu sisi, masyarakat terus diminta menjaga adat dan warisan budaya. Di sisi lain, ketika mereka benar-benar berjuang mempertahankannya, dukungan pemerintah justru terasa minim.
Masyarakat Poralle tidak meminta belas kasihan. Mereka telah membuktikan mampu berdiri di atas kaki sendiri. Yang dipertanyakan adalah komitmen pemerintah terhadap kebudayaan yang telah diakui sebagai WBTB. Pengakuan administratif saja tidak cukup. Warisan budaya hanya akan hidup jika terus dipraktikkan, diwariskan, dan didukung. Tanpa itu, WBTB berisiko menjadi sekadar label kebanggaan tanpa makna nyata bagi masyarakat pemiliknya.
Apapun kondisinya, Maulid akan tetap berlangsung pada 25 Agustus 2026. Bukan karena anggaran besar, melainkan karena tanggung jawab moral menjaga amanah leluhur. Dana berasal dari kantong pribadi dan gotong royong masyarakat. Pelestarian budaya bukan hanya urusan program pemerintah. Masyarakat adalah garda terdepan. Namun pertanyaan yang muncul: sampai kapan mereka harus berjuang sendiri?
Keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan minimnya kepedulian. Pemerintah masih bisa hadir melalui kebijakan, fasilitasi, promosi, dokumentasi, pembinaan generasi muda, dan perlindungan tradisi. Membangun kebudayaan tidak selalu identik dengan biaya besar, tetapi dengan keberpihakan.
Tradisi tidak hilang dalam semalam. Ia memudar perlahan, dimulai ketika generasi muda tidak lagi mengenalnya. Karena itu, jangan menunggu Maulid Poralle Salabose kehilangan generasinya baru kemudian bertanya bagaimana menyelamatkannya. Hari ini tradisi itu masih hidup. Hari ini masyarakat masih berkorban. Maka hari ini pula pemerintah seharusnya hadir.
Maulid Poralle Salabose tahun ini mungkin tidak semeriah perayaan dengan dukungan anggaran besar. Namun justru dalam kesederhanaannya tersimpan pesan kuat: masyarakat masih mencintai warisan leluhur, masih bergotong royong, dan masih menjaga tradisi agar tidak terputus. Ironisnya, ketika masyarakat mampu melakukan semua itu, pemerintah yang memiliki perangkat dan kewenangan justru beralasan minim anggaran.
Jangan hanya hadir ketika budaya membutuhkan panggung. Hadirlah ketika budaya membutuhkan perlindungan. Jangan hanya bangga ketika WBTB disebut dalam forum resmi. Tunjukkan kebanggaan itu melalui perhatian nyata kepada masyarakat pemilik budaya.
Pada akhirnya, Maulid Poralle Salabose tetap akan dilaksanakan. Dengan atau tanpa bantuan pemerintah. Karena bagi masyarakat Poralle Salabose, Maulid adalah amanah leluhur, bagian dari identitas, dan wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus penghormatan terhadap sejarah dan kebudayaan.
Dan ketika 25 Agustus 2026 tiba, masyarakat Poralle Salabose akan kembali membuktikan bahwa sebuah tradisi dapat tetap hidup karena masyarakatnya memilih untuk menjaga, meski harus berkorban dari kantong sendiri.
Namun pemerintah harus menjawab satu pertanyaan: jika masyarakat pemilik budaya saja masih begitu peduli, mengapa pemerintah yang memiliki tanggung jawab terhadap pemajuan kebudayaan justru belum menunjukkan kepedulian yang sepadan?
Maulid Poralle Salabose tetap hidup, bukan karena pemerintah membiayainya, tetapi karena masyarakatnya tidak mau warisan leluhur itu mati.
Mursyid Syukri, 16 Agustus 2026




