KOLOMMURSYID SYUKRI

Maulid Nabi Besar Muhammad SAW Poralle Salabose

Sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Dilaksanakan dengan Dana Warga Rumpun Poralle Salabose

Ketika masyarakat menjaga warisan leluhur dengan uang kantong sendiri

Seminggu lagi, tepatnya Selasa, 25 Agustus 2026, Masyarakat Rumpun Poralle Salabose, Kabupaten Majene, kembali akan melaksanakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Salabose.

Bagi sebagian orang, mungkin kegiatan ini hanya dipandang sebagai agenda keagamaan tahunan. Tetapi bagi masyarakat Poralle Salabose, Maulid ini jauh lebih besar dari sekadar sebuah acara seremonial. Ia merupakan bagian dari warisan sejarah, tradisi, identitas, spiritualitas, dan kebudayaan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, ketika Maulid Poralle Salabose ditempatkan dalam konteks Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), muncul sebuah pertanyaan yang sangat mendasar:

Di manakah perhatian pemerintah terhadap warisan budaya yang selama ini hidup dan dijaga oleh masyarakat ?.

Tahun 2026, Seremonial Maulid Poralle Salabose kembali akan dihelat tepatnya di Halaman depan Masjid Purbakala Syekh Abdul Mannan di Salabose. Namun pelaksanaannya berlangsung dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Tidak ada bantuan dana dari pemerintah dengan alasan keterbatasan atau minimnya anggaran. Masyarakat tidak kemudian menyerah. Rumpun Keluarga Besar Poralle Salabose memilih untuk tetap melaksanakan tradisi tersebut dengan kekuatan sendiri, menggunakan dana pribadi dan swadaya keluarga. Inilah sebuah ironi kebudayaan.

Di satu sisi, masyarakat terus didorong untuk menjaga adat, tradisi, sejarah, dan warisan budaya. Di sisi lain, ketika masyarakat benar-benar berjuang mempertahankan warisan tersebut, dukungan pemerintah justru terasa begitu minim.

Bukan Meminta Dikasihani, Tetapi Mempertanyakan Kepedulian

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk meminta pemerintah mengasihani masyarakat Poralle Salabose. Masyarakat Poralle telah membuktikan bahwa mereka mampu berdiri dengan kaki sendiri. Yang patut dipertanyakan adalah komitmen pemerintah terhadap kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat.

Jika sebuah tradisi telah diakui dan ditempatkan sebagai bagian dari WBTB, maka semestinya perhatian terhadap keberlangsungannya tidak berhenti pada pencatatan atau pengakuan administratif semata. Warisan budaya tidak akan hidup hanya karena tercatat di atas kertas.

Ia membutuhkan masyarakat yang menjaga, generasi muda yang memahami, dan pemerintah yang memberikan ruang, perlindungan, pembinaan, serta dukungan yang nyata. Jangan sampai WBTB hanya menjadi sebuah label kebanggaan, tetapi masyarakat pemilik tradisinya justru harus berjuang sendiri setiap kali hendak melaksanakan.

Maulid ini Akan Tetap Dilaksanakan

Apapun kondisi yang ada, Rumpun Keluarga Besar Poralle Salabose tetap akan melaksanakan Maulid pada Selasa, 25 Agustus 2026. Bukan karena memiliki anggaran yang besar. Bukan karena mendapatkan dukungan dana pemerintah. Tetapi karena ada tanggung jawab moral untuk menjaga amanah leluhur.

Uang yang digunakan berasal dari kantong pribadi keluarga dan swadaya masyarakat. Mereka mengumpulkan kemampuan yang ada agar tradisi tersebut tidak terputus. Di sinilah terlihat bahwa pelestarian kebudayaan bukan hanya persoalan program pemerintah. Masyarakat adalah garda terdepan dalam mempertahankan kebudayaannya.

Namun pertanyaan berikutnya adalah:

Sampai kapan masyarakat harus menjaga warisan budaya seorang diri ?

Ada satu hal yang perlu ditegaskan secara terbuka.

Apabila Maulid Poralle Salabose tahun 2026 terlaksana tanpa bantuan pendanaan pemerintah, maka pelaksanaan kegiatan tersebut merupakan bentuk kemandirian Rumpun Keluarga Besar Poralle Salabose. Kegiatan tersebut bukanlah kegiatan yang dilaksanakan atas nama pemerintah daerah atau institusi pemerintahan tertentu. Ini adalah kegiatan yang lahir dari inisiatif, kepedulian, swadaya, dan gotong royong Rumpun Keluarga Besar Poralle Salabose. Pemerintah tentu tetap dapat hadir sebagai bagian dari masyarakat memberikan penghormatan, dukungan moral, perhatian, dan ruang bagi kebudayaan.

Tetapi jangan sampai ketika kegiatan telah berhasil dilaksanakan dengan susah payah oleh masyarakat, keberhasilannya kemudian diposisikan seolah-olah sebagai keberhasilan pemerintah. Tidak ada bantuan dana, jangan mengambil kredit atas perjuangan masyarakat. Sebab yang mempertaruhkan tenaga, pikiran, waktu, dan uang dalam pelaksanaan ini adalah masyarakat Poralle Salabose sendiri.

Pemerintah Harus Hadir Dalam Kebudayaan

Keterbatasan anggaran memang dapat menjadi alasan administratif. Tetapi minimnya anggaran tidak boleh menjadi minimnya kepedulian. Pemerintah masih dapat hadir melalui kebijakan, fasilitasi, promosi, dokumentasi, pembinaan generasi muda, perlindungan tradisi, penguatan kelembagaan budaya, dan berbagai bentuk dukungan lain yang memungkinkan. Sebab membangun kebudayaan tidak selalu identik dengan mengeluarkan anggaran besar. Yang paling penting adalah keberpihakan. Apakah pemerintah benar-benar menganggap warisan budaya masyarakat sebagai bagian penting dari pembangunan daerah?

Ataukah kebudayaan hanya menjadi indah ketika ditampilkan dalam acara-acara resmi dan pidato-pidato ?

Jangan Menunggu Budaya Itu Mati

Kebudayaan tidak mati dalam satu malam. Ia mati secara perlahan. Dimulai ketika generasi muda tidak lagi mengenalnya. Kemudian masyarakat tidak lagi melaksanakannya. Kemudian tidak ada lagi orang yang mau mengajarkan. Dan pada akhirnya, sebuah tradisi hanya tersisa sebagai cerita dalam buku sejarah.

Karena itu, jangan menunggu Maulid Poralle Salabose kehilangan generasinya untuk kemudian pemerintah bertanya bagaimana cara menyelamatkannya.

Hari ini tradisi itu masih hidup. Hari ini masyarakat masih mau berkorban. Hari ini generasi tua masih memiliki pengetahuan. Hari ini generasi muda masih dapat dilibatkan. Maka hari ini pula pemerintah seharusnya hadir.

Maulid Poralle Salabose Adalah Cermin Kepedulian Kita Terhadap Budaya

Maulid Poralle Salabose tahun 2026 mungkin tidak akan semeriah kegiatan yang mendapatkan dukungan anggaran besar. Tetapi justru di balik kesederhanaannya terdapat sebuah pesan yang sangat kuat:

Masyarakat masih mencintai warisan leluhurnya. Mereka tidak menyerah hanya karena tidak mendapatkan bantuan. Mereka tetap bergerak. Mereka tetap bergotong royong. Mereka tetap menyisihkan uang dari kantong pribadi. Dan mereka tetap menjaga tradisi agar tidak terputus.

Ironisnya, ketika masyarakat mampu melakukan semua itu, pemerintah yang memiliki perangkat, kewenangan, dan kebijakan justru beralasan minim anggaran.

Maka kritik ini patut disampaikan:

Jangan hanya hadir ketika budaya membutuhkan panggung. Hadirlah ketika budaya membutuhkan perlindungan. Jangan hanya bangga ketika WBTB disebut dalam forum resmi. Tunjukkan kebanggaan itu melalui perhatian nyata kepada masyarakat pemilik budaya. Dan jangan biarkan masyarakat menjadi satu-satunya pihak yang membayar harga untuk mempertahankan warisan leluhurnya.

Pada akhirnya, Maulid Poralle Salabose akan tetap dilaksanakan.

Dengan atau tanpa bantuan pemerintah. Dengan anggaran besar ataupun sederhana. Karena bagi Rumpun Keluarga Besar Poralle Salabose, Maulid bukan sekadar agenda tahunan.

Ia adalah amanah leluhur, bagian dari identitas, dan bentuk kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW sekaligus penghormatan terhadap sejarah dan kebudayaan yang diwariskan kepada generasi hari ini.

Dan ketika tanggal 25 Agustus 2026 tiba, masyarakat Poralle Salabose akan kembali membuktikan bahwa sebuah warisan budaya dapat tetap hidup karena masyarakatnya memilih untuk menjaga, meskipun harus membayar dengan uang dari kantong mereka sendiri.

Namun pemerintah harus menjawab satu pertanyaan:

“Jika masyarakat pemilik budaya saja masih begitu peduli, mengapa pemerintah yang memiliki tanggung jawab terhadap pemajuan kebudayaan justru belum menunjukkan kepedulian yang sepadan ?”

Maulid Poralle Salabose tetap hidup, Bukan karena Pemerintah Membiayainya, tetapi karena Masyarakatnya Tidak Mau Warisan Leluhur itu Mati.

25 Agustus 2026 Poralle Salabose, Majene.

Dilaksanakan Secara Mandiri oleh Rumpun Kelurga Besar Poralle Salabose.

MURSYID SYUKRI

Aktif dalam pergerakan seni budaya Mandar dan serius menghibahkan waktunya sebagai Ketua Sekolah Adat Adolang Pamboang

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: