Thursday , January 23 2020
Home / KOLOM / Saat Nonton Biduan (part 4)

Saat Nonton Biduan (part 4)

SELALUNYA, dalam acara hiburan yang bergenre Orkes di kampung , sesi utama penampilan artis andalan atau bintang panggung, disajikan pada akhir-akhir acara. Atau sebagai strategi, kadang diawal untuk memancing kerumunan penonton.

Jika sudah ramai, maka penonton akan disuapi Janji-janji, bahwa penampil selanjutnya adalah Biduan tadi yang seksi dan aduhaiiii. Namun kenyataannya, ada Biduan lain sebagai pengantar sebelum bintang panggung itu tampil. Jelas, seperti saya bilang tadi, sang bintang akan tampil pada penutupan, biar penonton tetap ramai dan terus merangsek di depan panggung.

Di atas panggung, sang MC dengan gaya asik, Stelan celana berwarna hitam dipadukan dengan atasan kemeja berwarna merah muda plus bretel suspender hitam, berupa tali baju ala-ala gaya jojon, cukup memberi kesan jika dialah penguasa hiburan malam ini.

Mulutnya terus berkoar-koar, seperti tak memberi kesempatan bagi artis Biduan untuk tampil di atas panggung, padahal sedari tadi mataku tak mau berpaling dari tiga Biduan yang uuuuuuuhhhh adduuhhhaaiiii, sedang duduk manis di sudut belakang panggung, menanti untuk tampil menggoda.

Rasa kelakianku tiba-tiba muncul, ingin rasanya menarik paksa si MC turun dari atas panggung, kemudian “menggendong” si Biduan untuk segera beraksi di tengah panggung, menghibur penonton yang sepertinya sudah kalap bin beringas, bagai srigala kelaparan.

Situasi ini dapat saya baca, jika si MC memang sengaja mengulur-ulur waktu, seperti memancing lalu mengaduk-aduk emosi penonton yang sudah diujung orgasme, tapi sayang belum bisa kesampaian.

Tiba-tiba suara si MC menggelegar di sound Orkes..
“baaaaiiikkklaahh, saatnya menampilkan artis Biduanita kita yang cantik menggodaaahh… godahhh.. godahhh…., teriak MC dengan echo, sembari merapatkan bibirnya diujung Mic.

“siapkaannnn dirimu anak muda, kalian akan digoyang oleh sicantik sampai muncrat.
dan yang tua… hhhhmmmm maaf saya tak bisa beri garansi”, saya tak peduli ucapan si MC, juga maksudnya digoyang sampai muncrat itu. saya sudah ambil posisi tanggung di depan panggung. Akan menikmati “tumpahnya” goyangan seksi Biduan cantik itu.

Pengennya saya jika yang tampil perdana nanti, si cantik yang make rok pendek sejengkal diatas lutut dengan kulit putih mulus bak porselen. Dibalut baju putih samar-samar agak transparan. Diwajahnya berhias bibir merah, rambut lurus sebahu yang diberi warna agak kemerahan bercampur sedikit hijau. Dibagian bawah memakai sepatu hak tinggi, dengan betis putih berisi..

Ohhh puange… Tak tahan rasanya, bang MC plessss dong ahhhh…. !!!!

About SULHAN SAMMUANE

Selain Menulis dirinya juga dikenal aktif sebagai pemerhati pendidikan anak usia dini

Check Also

Saat Nonton Biduan (part 2)

BARU kali ini bisa melanjut cerita tentang bagaimana riuhnya hiburan ala-ala kampung ditempatku saat nonton …

Saat Nonton Biduan (part 1)

SEBAGAI orang yang tinggal di desa, hiburan tentu menjadi barang mewah dan dinanti. Orang-orang di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]