Bedah Film Marlina, Kartini Manakarra Soroti Kekerasan Gender
Bedah Film, Kartini Manakarra Perkuat Bahas Isu Kekerasan Berbasis Gender pada Lembaga di Majene

Majene, tayang9.com — Kartini Manakarra menggelar kegiatan nonton bareng dan bedah film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (Marlina The Murderer in Four Acts) pada Rabu (10 Juni 2026). Film ini mengisahkan perjuangan Marlina, seorang perempuan kepala keluarga di Sumba yang berani melawan komplotan perampok demi mempertahankan diri dan martabatnya.
Melalui perjalanan cerita yang terbagi dalam empat babak, para pemantik membedah film dari berbagai perspektif, khususnya terkait hak perempuan dan kekerasan berbasis gender. Diskusi menyoroti dua isu utama, yakni hak atas tubuh dan keamanan, yang menggambarkan bagaimana perempuan berupaya merebut kembali kedaulatannya ketika sistem hukum tidak berpihak, serta kekerasan berbasis gender (KBG) yang mengungkap realitas patriarki, ancaman kekerasan seksual, hingga fenomena secondary victimization atau kecenderungan menyalahkan korban. Selain itu, peserta juga diajak membaca berbagai simbol dan pesan sosial yang disampaikan melalui film tersebut.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 18.30 WITA di Griya Unsulbar Blok B No. 23 ini ditutup dengan sesi diskusi santai. Dalam sesi tersebut, peserta bersama pemantik mengupas lebih dalam mengenai upaya pencegahan kekerasan berbasis gender serta kritik sosial yang dihadirkan dalam film.
Acara dibuka oleh Direktur Kartini Manakarra, Dian Daniati, kemudian dilanjutkan dengan bedah film oleh dua pemantik, yaitu Irwan Syamsir, penulis sekaligus pekerja film, serta akademisi Universitas Sulawesi Barat, Sri Wiyata.
Dalam pemaparannya, Irwan mengajak peserta melihat film dari sudut pandang yang lebih mendalam.
“Pada pembacaan film, mengapa judulnya menyebut Marlina sebagai pembunuh dalam empat babak, padahal adegan pembunuhan yang dilakukan tokoh utama hanya terjadi pada babak pertama? Bisa jadi yang dibunuh bukan hanya secara fisik, tetapi juga ketakutan, stigma, dan berbagai bentuk penindasan yang selama ini membelenggu perempuan. Di situlah letak kekuatan makna film ini,” jelas Irwan.
Film ini memang mengangkat tema kekerasan seksual dan memuat sejumlah adegan yang cukup intens sehingga diperuntukkan bagi penonton dewasa. Namun demikian, *Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak* juga mendapat apresiasi luas di tingkat internasional berkat sinematografinya yang memukau serta penggambaran sosok perempuan yang kuat, berani, dan tangguh dalam menghadapi ketidakadilan.
Antusiasme peserta yang berasal dari berbagai organisasi yang tergabung dalam Cipayung Plus menjadi energi baru bagi Kartini Manakarra untuk terus mengintensifkan kampanye dan edukasi terkait isu kekerasan berbasis gender, khususnya di Majene dan Sulawesi Barat secara lebih luas.




