KOLOMMURSYID SYUKRI

Giat Penggerak Literasi Mestinya Literat

MAJENE sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan di Provinsi Sulawesi Barat. Julukan sebagai “Kota Pendidikan” bukan sekadar slogan, melainkan lahir dari sejarah panjang perkembangan pendidikan yang telah melahirkan banyak tokoh, akademisi, birokrat, pendidik, dan pemimpin dari tanah Mandar. Oleh karena itu, Majene sesungguhnya memiliki posisi strategis untuk menjadi pilot project pengembangan literasi di Sulawesi Barat.

Berbicara tentang literasi, kita tidak hanya berbicara tentang kemampuan membaca huruf dan kata. Dalam perspektif ilmu pendidikan modern, literasi merupakan kemampuan seseorang untuk membaca, memahami, menganalisis, mengolah informasi, dan menghasilkan gagasan baru dalam bentuk tulisan maupun karya lainnya. Literasi bukan sekadar aktivitas membaca, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan produktif.

Selama beberapa tahun terakhir, berbagai komunitas dan penggerak literasi di Sulawesi Barat telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa. Gerakan Gelar Buku yang berlangsung sekitar tahun 2018 hingga 2020 menjadi salah satu contoh nyata bagaimana semangat literasi pernah tumbuh dan menghidupkan ruang-ruang intelektual di tengah masyarakat. Kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan buku sebagai objek bacaan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan gagasan antara penulis, pembaca, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Namun, pandemi Covid-19 yang melanda dunia pada tahun 2020 memberikan dampak besar terhadap berbagai aktivitas sosial, termasuk gerakan literasi. Pembatasan kegiatan masyarakat menyebabkan banyak agenda literasi terhenti. Akibatnya, sebagian gerakan yang sebelumnya aktif perlahan meredup dan kehilangan ritme hingga saat ini.

Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah, khususnya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, untuk kembali membangkitkan semangat literasi di Sulawesi Barat. Apalagi saat ini Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat telah meluncurkan berbagai program yang mendorong budaya membaca, salah satunya melalui Program MANDARRAS yang menyerukan kepada para pelajar untuk membaca minimal 20 judul buku serta memahami sejumlah buku prioritas yang telah direkomendasikan.

Program semacam ini merupakan langkah yang sangat positif. Berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa budaya membaca memiliki hubungan erat dengan peningkatan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kemampuan komunikasi, dan kualitas sumber daya manusia. Negara dan daerah yang memiliki tingkat literasi tinggi umumnya juga memiliki tingkat inovasi dan daya saing yang lebih baik.

Selain program membaca, pemerintah juga mulai memberikan dukungan kepada para penggerak literasi melalui berbagai bentuk fasilitasi, termasuk pemberdayaan relawan literasi. Dukungan ini patut diapresiasi karena menunjukkan adanya keseriusan dalam membangun ekosistem literasi yang lebih kuat.

Namun demikian, muncul sebuah pertanyaan yang penting untuk direnungkan bersama: sudahkah gerakan literasi itu sendiri dijalankan secara literat?

Penggerak literasi tentu memiliki tugas mengajak masyarakat untuk membaca. Akan tetapi, gerakan literasi yang ideal tidak berhenti pada kegiatan menggelar buku, membuka lapak baca, atau menyelenggarakan diskusi semata. Gerakan literasi yang matang seharusnya juga melahirkan karya-karya literasi.

Seorang penggerak literasi mestinya bukan hanya menjadi pengajak membaca, tetapi juga menjadi teladan dalam menulis. Sebab membaca dan menulis adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Membaca memperkaya wawasan, sedangkan menulis menjadi sarana untuk mengabadikan pengetahuan dan pengalaman agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam konteks Sulawesi Barat yang kaya akan sejarah, budaya, adat istiadat, tradisi lisan, cerita rakyat, dan kearifan lokal, ruang untuk melahirkan karya tulis sesungguhnya sangat luas. Konten budaya lokal dapat menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah habis untuk ditulis dan didokumentasikan.

Langkah awal yang sangat baik sebenarnya telah dilakukan oleh Dinas Perpustakaan Provinsi Sulawesi Barat melalui pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal. Kegiatan ini mempertemukan para penggerak literasi, mahasiswa, pegiat budaya, dan calon penulis dengan para sastrawan serta penulis buku yang memiliki pengalaman dalam dunia kepenulisan.

Saya sendiri merasakan manfaat dari kegiatan tersebut ketika mendapat kesempatan mengikuti Bimtek Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal. Dalam kegiatan itu terlihat jelas bahwa minat menulis di kalangan masyarakat sebenarnya cukup besar. Banyak peserta memiliki ide, pengalaman, dan pengetahuan yang layak dituangkan menjadi tulisan. Mereka hanya membutuhkan pendampingan, pembinaan, dan ruang untuk berkembang.

Karena itu, perhatian pemerintah terhadap kegiatan semacam ini perlu diperkuat. Bimtek kepenulisan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial yang selesai setelah pelatihan berakhir. Justru setelah pelatihan itulah proses pembinaan yang sesungguhnya harus dimulai.

Peserta yang telah mendapatkan pelatihan perlu terus didampingi, diarahkan, dan difasilitasi hingga mampu menghasilkan karya nyata berupa artikel, buku, karya ilmiah populer, dokumentasi budaya, maupun karya sastra. Jangan sampai mereka yang telah digembleng dan menunjukkan semangat menulis kemudian dibiarkan berjalan sendiri tanpa pendampingan lanjutan.

Hal yang sama juga berlaku bagi para sastrawan dan penulis buku yang selama ini telah berkontribusi membangun tradisi literasi di Sulawesi Barat. Mereka merupakan aset intelektual daerah yang memiliki peran penting dalam membimbing generasi muda. Oleh sebab itu, apresiasi dan perhatian pemerintah terhadap para penulis daerah perlu ditingkatkan agar ekosistem literasi dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Literasi yang kuat bukan hanya ditandai oleh banyaknya buku yang dipamerkan, tetapi juga oleh banyaknya karya yang dilahirkan. Keberhasilan gerakan literasi tidak hanya diukur dari jumlah orang yang hadir dalam kegiatan membaca, melainkan dari lahirnya generasi yang mampu berpikir, menulis, mendokumentasikan pengetahuan, serta menghasilkan buku yang dapat diwariskan kepada masyarakat.

Karena itu, gerakan literasi yang saat ini kembali digaungkan hendaknya tidak berhenti pada kegiatan gelar buku semata. Gerakan tersebut harus berkembang menjadi gerakan yang mampu membangun budaya menulis, melahirkan penulis-penulis baru, mendokumentasikan budaya lokal, serta menghasilkan karya-karya yang menjadi identitas intelektual Sulawesi Barat.

Sebab pada akhirnya, penggerak literasi yang sejati bukan hanya mereka yang mengajak orang membaca, melainkan mereka yang mampu mengubah bacaan menjadi pemikiran, pemikiran menjadi tulisan, dan tulisan menjadi warisan peradaban.

Maka benar adanya, giat penggerak literasi mestinya juga literat.

Mandar, 02 Juni 2026

MURSYID SYUKRI

Aktif dalam pergerakan seni budaya Mandar dan serius menghibahkan waktunya sebagai Ketua Sekolah Adat Adolang Pamboang

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
%d blogger menyukai ini: