Hardi Jamal
Cerita antara Makam Wali dan Syekh Tanah Jawa dan Makam Syekh Abdul Mannan di Poralle Salabose Kabupaten Majene
SORE itu langit Tinambung mulai meredup. Angin dari arah laut perlahan masuk melalui sela-sela pepohonan yang tumbuh di sekitar kawasan Buttu Cipping. Hari telah berada di penghujung kegiatan Workshop Talenta Bahasa dan Sastra yang dilaksanakan sejak Kamis 22 Mei hingga Jumat 23 Mei 2026. Aktivitas peserta mulai berkurang. Sebagian telah beristirahat, sebagian lagi sibuk bersiap untuk acara penutupan.
Di Bawah Kolom Baruga Taman Budaya, tiga orang duduk berbincang panjang. Saya sendiri, Mursyid, bersama Subhan pegawai Taman Budaya Mandar dan Kak Hardi Jamal. Awalnya percakapan itu biasa saja. Kami membicarakan komunitas adat, kebudayaan Mandar, silsilah rumpun keluarga, hingga kisah lama tentang buaya yang sering muncul di Sungai Tinambung. Subhan kemudian mengisahkan cerita pendaratan Ammana I Wewang di Bababulo, sebuah kisah yang hidup di tengah ingatan masyarakat Mandar dan masih terus diwariskan secara lisan.
Namun seperti arus sungai yang perlahan membawa ranting menuju muara, percakapan kami bergerak semakin jauh. Dari budaya dan sejarah, pembicaraan masuk ke wilayah spiritualitas, tentang makam para wali, para syekh, dan orang-orang saleh yang diyakini memiliki karamah semasa hidupnya.
Kak Hardi Jamal mulai berkisah tentang kegemarannya berziarah ke makam-makam To Salama’. Bukan hanya di Mandar Sulawesi Barat, tetapi juga hingga ke berbagai makam wali dan syekh di Sulawesi Selatan maupun Tanah Jawa. Beliau pernah berziarah ke makam Syekh Jumadil Kubro atau Sayyid Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini di kawasan Masjid Tua Tosora, Kabupaten Wajo. Beliau juga sering mendatangi makam Tuanta Salama Syekh Yusuf di Katangka, Gowa, hingga makam Syekh Abdul Mannan di Poralle Salabose, Kabupaten Majene.
Menariknya, Kak Hardi Jamal lebih senang berziarah pada malam hari.
Menurutnya, malam adalah waktu paling sunyi untuk berzikir dan bermunajat. Tidak banyak suara manusia, tidak ada hiruk-pikuk kendaraan, hanya desir angin dan kesunyian yang membuat hati lebih mudah khusyuk. Dalam tradisi tasawuf, kesunyian malam memang sering dianggap sebagai ruang paling dekat bagi manusia untuk melakukan perenungan spiritual.
Beliau kemudian menceritakan sebuah pengalaman yang sangat membekas ketika berziarah ke makam Syekh Yusuf di Katangka, Gowa.
Malam itu beliau datang bersama seorang teman karena ada sebuah kegiatan di daerah tersebut. Setelah acara selesai, Kak Hardi Jamal mengajak temannya menuju makam Syekh Yusuf. Akan tetapi, beliau meminta temannya tetap berada di mobil dan menunggu dari luar area makam. Bukan karena takut datang sendiri, melainkan karena beliau memang ingin memasuki area makam dalam keadaan tenang dan sunyi.
Di tengah malam yang hening, beliau melangkah perlahan memasuki kawasan makam. Suasana begitu sunyi. Hanya suara dedaunan yang bergerak diterpa angin malam. Beliau duduk dekat makam, lalu mulai berzikir dan melafalkan doa.
Menurut penuturannya, beberapa saat kemudian muncul aroma harum yang sangat kuat di sekitar makam. Wangi itu bukan seperti minyak wangi biasa. Harumnya lembut tetapi tajam menusuk hidung dan terasa memenuhi ruang di sekitar area makam.
Yang membuat beliau semakin heran, ternyata aroma itu juga tercium hingga ke mobil tempat temannya menunggu, padahal jaraknya sekitar lima belas meter dari makam. Dan mobil tertutup rapat agar tak ada orang yang berniat mengganggu temannya dari dalam mobil.
Ketika beliau kembali ke mobil, temannya langsung bertanya dengan nada heran,
“Apa yang engkau lakukan di dalam makam Syekh ? Kenapa ada wangi harum yang sangat tajam sampai ke sini ?”
Kak Hardi Jamal tidak menjawab panjang. Beliau hanya diam sambil menyimpan rasa takjub dalam hati. Menurut beliau, pengalaman itu bukan untuk dibanggakan, melainkan sebagai isyarat batin yang sulit dijelaskan dengan logika biasa.
Dalam kajian psikologi spiritual dan antropologi agama, pengalaman seperti ini sebenarnya banyak ditemukan dalam tradisi masyarakat religius. Aroma harum sering dipahami sebagai simbol kesucian, ketenangan jiwa, dan sugesti spiritual yang lahir dari kekhusyukan seseorang. Dalam tradisi sufi, wewangian bahkan menjadi simbol metaforis dari kemuliaan akhlak dan kehadiran rahmat Tuhan. Karena itu, pengalaman spiritual seseorang sering kali tidak dapat diukur hanya melalui pendekatan material semata, sebab ia berhubungan dengan pengalaman batin yang sangat personal.
Setelah kisah itu selesai, Subhan pun ikut menambahkan cerita yang tak kalah menarik.
Beliau berkisah tentang seorang temannya yang keturunan Tionghoa dan telah menjadi mualaf. Temannya itu gemar melakukan ziarah ke makam-makam wali dan syekh di Tanah Jawa. Dalam salah satu perjalanan ziarahnya, ia bertemu dengan salah seorang keluarga penjaga makam seorang syekh.
Orang itu kemudian bertanya kepadanya,
“Anda ini berasal dari mana?”
Ia menjawab,
“Saya dari Majene, Sulawesi Barat.”
Mendengar jawaban itu, keluarga syekh tersebut justru berkata dengan nada serius,
“Kenapa jauh-jauh datang ke sini? Di Majene ada makam seorang syekh di atas bukit yang sangat tinggi karamahnya dibandingkan banyak makam wali yang ada di sini.”
Perkataan itu membuat temannya Subhan terkejut. Ia tidak menyangka bahwa nama seorang syekh di Majene ternyata dikenal hingga di kalangan keluarga para syekh di Tanah Jawa.
Setelah diingat-ingat, syekh yang dimaksud ternyata adalah Syekh Abdul Mannan yang makamnya berada di Poralle Salabose, di atas perbukitan Majene.
Cerita itu menjadi menarik karena menunjukkan adanya jaringan ingatan spiritual yang hidup di tengah masyarakat Nusantara. Dalam sejarah Islam di Indonesia, hubungan antara ulama, wali, dan penyebar agama memang tidak berdiri sendiri-sendiri. Mereka terhubung melalui jalur dakwah, silsilah keilmuan, tarekat, dan hubungan antarpesantren yang sudah berlangsung ratusan tahun. Karena itu, tidak mengherankan apabila nama seorang ulama di Mandar dikenal pula oleh komunitas spiritual di Jawa maupun daerah lainnya.
Bagi masyarakat Majene sendiri, makam Syekh Abdul Mannan bukan sekadar tempat pemakaman biasa. Ia telah menjadi ruang spiritual, tempat masyarakat datang berdoa, berzikir, dan mengenang perjuangan dakwah para ulama terdahulu. Letaknya yang berada di atas bukit Poralle Salabose juga memberi kesan tersendiri seolah mengajarkan bahwa perjalanan menuju ketenangan batin membutuhkan usaha untuk mendaki dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Menurut cerita Subhan, sepulang dari ziarah di Tanah Jawa itu, temannya langsung menuju makam Syekh Abdul Mannan. Ia merasa tersentuh setelah mendengar pengakuan keluarga syekh di Jawa tentang besarnya karamah Syekh Abdul Mannan. Sejak saat itu, ia mulai membantu memperbaiki fisik bangunan Makam serta memberikan fasilitas Ac yang berada di area makam agar para peziarah lebih nyaman datang berkunjung.
Sore itu percakapan kami bertiga terasa begitu panjang. Dari cerita budaya Mandar, kisah buaya Sungai Tinambung, pendaratan Ammana I Wewang, hingga pengalaman spiritual di makam para wali, semuanya menyatu dalam satu ruang dialog yang hangat.
Saya kemudian menyadari bahwa ziarah bukan hanya perjalanan menuju makam orang-orang saleh. Ziarah sesungguhnya adalah perjalanan menuju ingatan, menuju sejarah, menuju penghormatan kepada para pendahulu, dan yang paling penting adalah perjalanan untuk mengenali diri sendiri.
Di tanah Mandar, cerita-cerita seperti itu mungkin akan terus hidup. Ia akan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebab masyarakat tidak hanya hidup dari bangunan fisik dan kemajuan zaman, tetapi juga dari ingatan kolektif, nilai spiritual, dan penghormatan kepada jejak para ulama yang pernah menerangi jalan kehidupan masyarakatnya.
Enam Hari Setelah Cerita Itu “Antara Percaya dan Tidak”
Tidak ada seorang pun di antara kami yang menyangka bahwa percakapan sore di Buttu Cipping Tinambung itu akan menjadi salah satu pertemuan terakhir bersama Kak Hardi Jamal.
Hanya enam hari setelah kami duduk bertiga bercerita tentang adat Mandar, makam para wali, kisah-kisah spiritual, hingga sejarah para leluhur berita itu datang begitu cepat dan mengejutkan. Kak Hardi Jamal berpulang Kerahmatullah meninggalkan dunia yang selama ini begitu dicintainya.
Berita itu pertama kali saya lihat dari media sosial. Dari beranda facebook hingga telah menyebar secara luas ke teman-teman melalui media Whatsapp hingga menyebar dan seakan ada rasa tidak percaya. Kak Subhan yang ikut dalam percakapan tiga orang waktu itu, beliau menyampaikan kabar duka melalui Whats App mengatakan “Hardi yang ditemani bercerita banyak di naung Baruga Kayyang telah berpulang. Maka tambah kuat percaya saya bahwa beliau telah Pergi Untuk selamanya.
Banyak orang seakan tak percaya akan berita itu meskipun sebagian sahabat dan teman-temannya sudah merasakan kehilangan dan sedih. Saya ikut merasakan sedih dan kehilangan dengan beliau meskipun enam hari lalu kami baru saja bercerita bersama.
Sebab bagi kami, Kak Hardi Jamal bukan hanya seorang sahabat, bukan sekadar pegiat budaya, tetapi juga ruang hidup bagi lahirnya ide, tawa, dan cerita.
Beliau dikenal sebagai pribadi yang unik.
Di mana ada perkumpulan atau pertemuan tentang kegiatan seni dan kebudayaan, di situ biasanya ada Hardi Jamal yang mampu mencairkan suasana. Cara bicaranya spontan, terkadang kritis, kadang jenaka, namun selalu mengandung makna. Beliau memiliki kemampuan melihat sesuatu dari sudut yang berbeda. Bahkan hal-hal kecil yang dianggap biasa oleh orang lain, dapat berubah menjadi bahan diskusi panjang yang menarik ketika keluar dari pikirannya.
Karena itulah banyak orang menjulukinya sebagai “Karni Ilyasnya Mandar.”
Bukan semata karena gaya berbicaranya, melainkan karena kemampuan beliau memancing percakapan, membuka gagasan, dan menghidupkan ruang dialog secara spontan. Ide-idenya sering muncul tanpa diduga. Terkadang lahir dari obrolan santai di warung kopi, di sela perjalanan budaya, atau bahkan di tengah acara kesenian.
Apa yang dipikirkannya sering menjadi ruang bersama bagi teman-temannya.
Beliau tidak menyimpan gagasan untuk dirinya sendiri. Setiap ide selalu ingin dibagikan. Setiap pemikiran selalu ingin didiskusikan. Dalam dirinya, budaya Mandar bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi sesuatu yang harus terus dihidupkan melalui percakapan, kesenian, dan kebersamaan.
Sebagai senior di Teater Flamboyan Mandar, Kak Hardi Jamal dikenal dekat dengan banyak kalangan. Beliau dapat duduk bercengkerama dengan seniman, budayawan, mahasiswa, tokoh adat, hingga masyarakat biasa tanpa membangun jarak.
Keramahannya membuat siapa saja mudah akrab dengannya.
Beliau senang menghadiri kegiatan seni budaya Mandar. Bagi beliau, kesenian bukan sekadar hiburan, tetapi cara masyarakat menjaga ingatan dan jati dirinya. Karena itu, hampir di setiap kegiatan budaya, namanya selalu hadir baik sebagai penggagas, pengamat, teman diskusi, maupun sekadar penikmat suasana.
Dan mungkin itulah sebabnya kepergiannya terasa begitu sunyi bagi banyak orang.
Apalagi beliau berpulang pada hari Tasyrik, hari-hari mulia setelah Hari Raya Idul Adha, hari-hari yang dalam tradisi Islam dipenuhi takbir, dzikir, rasa syukur, dan penyembelihan qurban.
Sebagian orang menganggap waktu berpulang seseorang adalah rahasia Tuhan. Namun dalam kehidupan masyarakat religius, wafat pada hari-hari baik sering dipandang sebagai pertanda husnul khatimah akhir kehidupan yang baik.
Karena itu teman-temannya tidak terlalu heran ketika mendengar beliau dipanggil pulang pada hari-hari Tasyrik. Bukan karena mereka telah siap kehilangan, tetapi karena mereka mengenal siapa Hardi Jamal selama hidupnya.
Beliau adalah orang yang dekat dengan silaturahmi.
Dekat dengan dunia kebudayaan.
Dekat dengan cerita-cerita spiritual.
Dan dekat dengan orang-orang kecil di sekitarnya.
Saya kemudian teringat kembali percakapan sore kami enam hari sebelumnya. Tentang ziarah makam wali, tentang aroma harum di makam Syekh Yusuf, tentang Syekh Abdul Mannan di Salabose, dan tentang keyakinan bahwa orang-orang saleh selalu meninggalkan jejak yang baik bagi manusia lain.
Kini cerita itu terasa berbeda.
Sebab tanpa kami sadari, pada sore itu Kak Hardi Jamal seakan sedang menitipkan potongan-potongan kenangan kepada kami. Tawa beliau masih teringat jelas. Cara beliau menyela cerita dengan spontanitas yang menghidupkan suasana masih terasa dekat di telinga.
Tidak ada tanda bahwa enam hari kemudian beliau akan pergi.
Tetapi begitulah kehidupan.
Manusia sering merencanakan banyak hal untuk masa depan, sementara Tuhan telah menetapkan waktu pulang yang tidak pernah diketahui siapa pun.
Kehidupan Kak Hardi Jamal mungkin telah selesai di dunia, tetapi cerita tentang dirinya akan tetap hidup di tengah masyarakat Mandar. Dalam diskusi budaya. Dalam pertunjukan seni. Dalam obrolan warung kopi. Dalam perjalanan ziarah para sahabatnya. Bahkan dalam kisah-kisah sederhana yang kelak akan diceritakan kembali oleh generasi berikutnya.
Sebab manusia baik sesungguhnya tidak benar-benar pergi.
Ia tinggal dalam doa orang-orang yang mengenangnya.
Ia hidup dalam kenangan sahabat-sahabatnya.
Dan ia menetap dalam jejak kebaikan yang pernah ditinggalkannya di tengah kehidupan masyarakat.




