Friday , September 20 2019
Home / GAGASAN / Mandar Berduka, Mursyid Tarekat Khalwatiah Samman Berpulang

Mandar Berduka, Mursyid Tarekat Khalwatiah Samman Berpulang

”Jika seorang pahlawan alim meninggal, terjadilah lubang dalam komunitas yang tidak tertutupi hingga datang alim lain yang menggantikannya.” (Sayyidina Ali Bin Abi Thalib RA)

SAMPAI juga kami disini,Kampung Baru, Desa Padang Timur, Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Sebuah tempat yang untuk pertama kalinya saya kunjungi.

Dusun yang dikelilingi nyiur pohon kelapa dan dihuni tak sampai lima puluhan kepala keluarga. Jaraknya, sekitar dua kilometer dari pasar Campalagian.

Perkampungan kecil ini tengah dirundung duka. Semua sudut jalan disesaki parkiran kendaraan. Isak tangis dan raut sedih orang-orang sangat jelas terlihat.

Mereka adalah sebahagian besar jamaah Tharekat Khalwatiah Samman yang datang dari berbagai penjuru tempat. Tak kurang dari 24 jam yang lalu, Sang Mursyid: Almagfurlah Prof Dr AGH Muhammad Tahir Syamsuddin (Puang Lolo), berpulang keharibaan Ilahi, untuk selamanya.

Puang Lolo menghembuskan nafas terakhir, pada ba;da magrib malam sabtu kemarin, dikediamannya, di pelataran masjid Khalwatiah Samman yang beliau bangun bersama jamaahnya.

Beliau dimakamkan, tepat dibelakang masjid yang menyatu dengan rumah tempat tinggalnya.

Dari bincang-bincang penulis dengan pelayat yang hadir, Annanggurutta Puang Lolo memiliki ribuan jamaah yang tersebar di berbagai tempat di Polewali Mandar, Mamuju, Sulawesi Selatan(mayoritas Di Sengkang Wajo Dan Camba Maros), hingga Kalimantan.

Setiap memasuki bulan Maulid dan malam 27 Ramadan, ribuan jamaah akan berkumpul disini: masjid Khalwatiah Samman Kampung baru, untuk meraup berkah dari Sang Mursyid.

Berpulangnya Annanggurutta Puang Lolo meninggalkan kesan yang mendalam bagi orang-orang yang pernah mengenal beliau.

“Prototype ulama yang priyayi atau priyayi yang ulama menyatu dalam diri beliau, beliau ulama sekaligus bangsawan yang mengajarkan hidup sederhana dan bersahaja,” tutur seorang pelayat yang bercerita tentang kealiman serta kearifan semasa Annanggurutta hidup.

Masyarakat yang datang silih berganti akan dilayani dengan baik. Baik  dekat maupun jauh tak akan dibiarkan pulang, sebelum menyantap jamuan makan bersama beliau.

Annanggurutta Puang Lolo meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Seorang anaknya tengah menempuh pendidikan agama di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.

Jarak yang begitu jauh antara Mandar dan Negeri Firaun sana, membuat sang anak urungkan niat menatap wajah sang ayah, sekaligus mursyid penuntun jalan suluknya untuk terakhir kalinya.

Di Mandar, di Kampung baru, Campalagian, ribuan pelayat merasakan sepi, juga kesedihan yang mendalam. Tak terbilang kebaikan amal yang Annanggurutta torehkan semasa hidup, serta ketulusan yang tak tertakar untuk melayani ummat, siang dan malam.

INNALILLAHI WAINNAILAIHI RAJIUN

Selamat Jalan Puang, doakan kami tatkala engkau berjumpa dengan Allah SWT, bercanda mesra dengan kekasih-kekasih-Nya. Jika tak memberatkan, mohon sampaikan bahwa kami para pendosa ini juga kelak ingin pulang sama sepertimu.
Bi Husnul Khatimah
Al-Fatihah.(*)

About MUHAMMAD ARIF

Selain dikenal sebagai aktivis yang produktif menulis, dirinya kini tercatat sebagai pimpinan pengurus cabang Gerakan Pemuda Ansor Polewali Mandar

Check Also

Pakansi dalam Lampu Warna Warni

Untuk Ahmad Ghilban Syariati serupa laron kita bergerak ditemani musik yang mengalun pelan. tetapi ini …

Tasrif, Mahasiswa Palang Pintu Kampus

MEMASUKI tahun ajaran penerimaan Mahasiswa Baru, Tasrif dengan antusiasnya ikut mendaftar di sebuah kampus ternama …

One comment

  1. Selamat Berpindah Puang Guru..!!!😢🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]