Tuesday , July 23 2019
Home / GAGASAN / Harga Adat
ILUSTRASI Puisi Harga Adat

Harga Adat

berjalan semalam suntuk
mengusir kantuk
ingin segera tiba di bukit itu

lewat jalan setapak
tak henti aku mengulur tangan untuk berjabat
mungkin subuh gigil aku tiba di sana
sejenak kupandangi lagi jalan baru saja kulalui

tiba di ujung bukit
lega menghirup udara
sebab tangan teman dapat kugapai
sebagai sanak

tangan-tangan kami bergenggaman
di tengah kaki kami berpijak
sebuah tungku dengan asap wangi kemenyan
kami seperti merayakan upacara sakral
seperti doa-doa dipajatkan ke langit
juga seperti merangkai janji atas nama Muhammad kekasih Allah

hikmad
hening
hanya ada degup jantung
saling berbisik
dan memahami bahasa masing-masing

dari balik asap dupa
melintas satu bayangan
seperti sihir dalam angan
asap meleleh kemudian
teranglah di mataku wajah Rahmat

tangannya yang hamil
melahirkan Ashari
bergegas aku menggendong seperti bayiku sendiri

ah, terlalu mahal harga adat
hanya untuk satu perkawinan bisik semut

Galeso, Juli 2019

About SYUMAN SAEHA

Lahir di Campalagian 17 Agustus 1975 Menulis puisi sejak usia 15 tahun. Selain puisi juga menulis cerpen dan naskah lakon. Menekuni dunia teater sejak tahun 1997. Dan sekarang berkecimpung di teater PALATTO. Karya-karyanya yang sudah dibukukan, Interogasi, kumpulan cerpen bersama (2015), Requiem Terakhir, kumpulan puisi bersama (2016) dan antologi puisi tunggalnya, Bayi Langit (2016)

Check Also

Romli, Sisi Lain dari Konferwil III NU Sulbar

IBU kantin sibuk mengaduk kopi. Kali ini kantinnya begitu ramai oleh pengunjung dan itu tidak …

Noena Dewi Hardianti

entah bagaimana kita bisa berhadap-hadapan di satu meja perjamuan lilin meredup di atasnya hanya ada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]