Friday , August 23 2019
Home / GAGASAN / Dua Sudut Yang Tidak Sama Sisi
Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Barat Suhardi Duka. (Foto :Net)

Dua Sudut Yang Tidak Sama Sisi

DISUDUT barat dengan hiruk pikuk kehidupan yang material, dengan dinamika politik yang labil yang cepat berubah, dan rapuh toleransi adalah satu sudut kehidupan yang menjadi ajang pertarungan bebas.

Dalam konsep politik Plato (Trias Politika), lembaga eksekutif adalah pemegang kekuasaan pemerintahan sebuah negara, dan legislatif adalah pembuat undang undang untuk mengikat kekuasaan dalam memberikan pelayanan publik, serta lembaga yudikatif untuk penegakan hukum  negara.

Untuk mengisi ketiga lembaga tersebut dibuatlah sistim demokrasi dengan berbagai farian sesuai dengan kultur budaya suatu negara. Dan demokrasi adalah proses politik yang dinamis, yang didalamnya ada kompetisi yang sejatinya untuk mendapat kan kwalitas dan integritas orang pilihan untuk mengisi 3 lembaga trias politika diatas.

Pemilu 2019 telah usai sebentar lagi hasil pemilu disahkan/dilantik mulai tingkat kabupaten, provinsi dan puncaknya 1 oktober untuk DPR-RI atau DPD-RI, dan 20 oktober untuk presiden. Apa hasilnya, ? Dan siapa yang terpilih…?

Apakah pemilu ini sebagai pesta demokrasi ,,, ?……. siapa yang berpesta apakah rakyat, atau hanya kaum kaum borjuis  ? …… semua pertanyaan itu menggelitik saya untuk menulis artikel ini.

Dalam dunia kapitalis, persaingan adalah keniscayaan untuk itu dibuat pasar sebagai ajang persaingan yang yang minim nilai agar pelaku ekonomi tidak dibatasi dalam bertempur utamanya dalam hukum deman and suplay. Kaum kapitalis selalu meminta kepada penguasa agar pasar tidak dikendalikan tapi dibuat sebebas mungkin agar persaingan lebih sehat dan menghasilkan harga yang equilibium, kualitas dan harga menjadi se imbang.

Demokrasi indonesia yang baru lalu, semua orang sepakat bahwa belum mencapai harapan sebagai demokrasi pancasila, justru semakin jauh bahkan bebas nilai, fitnah, janji, pembohongan, pembodohan serta kecurangan menjadi bagian dari kebanggaan sebagian caleg terpilih.

Pasarnya bebas tapi tidak sehat, karena hasilnya tidak eqiliubrium justru harganya mahal tapi kualitasnya renda, barang dengan kualitas tinggi justru murah dan tidak terpilih bahkan banyak yang sudah lama bertengger dipasar justru terdepak dari proses ini.

Intinya adalah politik kita saat ini masih kotor dan tidak mencerminkan nilai nilai pancasila dan agama serta kultur keindonesiaan kita. Politik kepentingan melibas persahabatn, persaudaraan dan kebersamaan. Tidak ada musuh yang abadi tapi kepentinganlah diatas segalanya. Begitupun tidak ada teman yang setia dan bahkan  bisa menjadi musuh.

Saat ini saya mencoba menjelajahi sudut timur kehidupan ini, merasa haus ditengah perjalanan panjang didunia politik, dimana ukuran diri saya dijadikan standard pada orang lain akibatnya menjadi sesuatu yang tidak sinkron dan kecewa.

Saya berada di komunitas sederhana dan menyedehanakan diri, walau kata sederhana tidak berarti material. Apa yang saya temukan ?,,,, Sederhana saja yaitu MANUSIA pasti MATI.

Komunitas ini kelihtan sederhana, tapi justru pandangannya jauh bahkan lebih jauh dari pandangan para politisi, menanamkan dirinya pada yang in material, mencari kehidupan yang kosong untuk ditegakkan dan diyakini bahwa ditengah kekosongan itu ada kekuatan yang sangat dahsyat dan tidak dapat dijangkau oleh kekuatan material apapun.

Anda akan menemukan kehidupan yang egaliter, bukan hanya ikatan persahabatan tapi persaudaraan yang murni walau tidak sedarah, ada kasih sayang ada ke ibaan, dan ada ketulusan. Rasa malu hanya tertuju kepada Nya, akan kelalaian dan kealpaan dalm kehidupan, untuk hinaan, dan cemoohan serta bully sekalipun dari manusia hanya dijawab dengan senyum, dan istikfar.

Dua sudut yang tidak sama sisi ini, sedang tarik menarik dalam kehidupan manusia, dapat ditekuni dua – duanya untuk bisa saling mengoreksi, dan ada juga orang justru meninggalkan secara total sisi – sisi yang gelap untuk menuju terang.

Tuhan itu ada dan sangat adil, untuk itu mari kita jejaki komunitas ini untuk sekedar wukuf/berhenti sejenak merenung, mencoba menganilasa pertanyaan siapa diri kita, dari mana kita dan akan kemana kita.Wallahua’lam.

Puncak  14 agustus 2019.

About SUHARDI DUKA

Ketua DPD Partai Demokrat Sulbar juga Mantan Bupati Kabupaten Mamuju dua periode. Menyelesaikan pendidikan strata satu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas Makassar dan strata dua jurusan manajemen sumber daya manusia di Surabaya serta alumnus S.3 jurusan Ekonomi Islam di Unair Surabaya.

Check Also

Saya Mengagumimu Sahabatku

Akhirnya sampai disini. Kau tak bisa lagi menanti. Derita harus segera berganti. Cukup sudah, usah …

IJS “Bunuh 2 Kakaknya”

Siapa itu IJS? Ia adalah sebuah lembaga lokal bagi Wartawan yang ada di Mamuju — …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]