Thursday , January 23 2020
Home / GAGASAN / Untuk Inge Suatu Ketika di Dondori Literasi
ILUSTRASI Untuk Inge Suatu Ketika di Dondori Literasi

Untuk Inge Suatu Ketika di Dondori Literasi

“Dalam keadaan sejarah sekarang, semua tulisan politik hanya bisa menegaskan suatu police universe, sama tulisan intelektual hanya bisa menghasilkan para literatur yang tidak berani lagi menyebutkan namanya” Roland Barthes

SIAPA Inge dan bagaimana dia, sering nama menjadi sangat dan teramat penting. Tetapi seringkali juga nama menjadi tidak penting. Itu biasanya terjadi tatkala kita diserang semesta wacana yang menenggelamkan sejumlah nama.

Dalam posisi ini, nama tertimbun oleh wacana dan diskursus. Ia meraib, dan yang tertinggal hanyalah catatan-catatan yang lebih banyak berisi tentang makna-makna yang lebih menyita ingatan. Sering kita membaca tulisan lepas di bak-bak damtruck terbuka, “lupa namanya tetapi ingat rasanya”.

Nama hilang, rasa yang tertinggal. Seperti kita menenggak kopi, di sebuah cafe atau warung kopi, kita lupa nama atau brand cafe dan warung kopinya, tetapi ingatan kita melekat pada nikmat dan rasa kopinya.

Begitulah sering nama begitu saja tidak memiliki makna, walau dalam dimensi yang lain nama menjadi doa. Nama menjadi harapan dan sudah pasti, nama memuat hikayat perjalanan sejarah atau sesuatu. Tetapi pertanyaannya kemudian adalah, apakah nama dan ataukah rasa yang paling penting.

Kembali tentang Inge, siapa dia, dia adalah nama yang tertinggal dan tercetak dalam buku Manusia Satu Dimensi yang ditulis oleh Herbert Marcuse dan terbaca oleh saya, sat menulis catatan ini. Atau tepatnya, tengah belajar menekuni kesendirian di sebuah cafe literasi yang bernama Dondori milik sahabat saya yang baik.

Kebaikannya otentik dan tak dibuat-buat atau sekedar dijadikan sampul dari tata laku pergaulannya. Ia baik karena ia tampak begitu sadar bahwa tugas kemanusiaan kita adalah berbuat baik. Tak ada pilihan lain dalam kehidupan selain berbuat baik.

Saat saya menuliskan catatan ini mendadak ponsel saya kemasukan pesan dari sahabat saya, ia menanyakan posisiku saat menulis catatan ini. Saya katakan, saya tengah belajar menekuni kesendirian seraya mendekati dan hendak menemui surga yang ada di bawah telapak kaki ibuku.

Ibu bukanlah nama, ia adalah subtansi. Padanya surga diletakkan, bukan pula surga sekedar nama belaka. Tetapi surga yang memuat subtansi kebaikan dan kesedapan pula kedamaian.

Dan terakhir siapakah Inge? ia adalah nama yang terbaca dihalaman awal buku yang terbaca olehku di suatu setika di Dondori literasi. Milik sahabat saya yang baik. Seorang sahabat yang namanya, terasa tidaklah begitu penting untuk saya sebutkan. Karena intinya ia baik dan tidak seakan-akan baik. Dan itu yang saya cecap, selain kopi yang sedang saya seruput.

About IYAT TEHA

Belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Check Also

“Ada” Gusdur di Jalan Pemuda

Oleh : Muh.Wahyu Hidayat Akhir-akhir ini, di penghujung tahun terjadi akan sebuah fenomena tsunami informasi, …

Rindu Orde Baru di Era Milenial

DEMOKRASI subtansinya dari rakyat untuk Rakyat, rakyat memilih pemimpinnya secara lansung dan juga memilih wakilnya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]