Jumat , Oktober 30 2020
Home / GAGASAN / CERPEN / Kisah Tonggo, Pepa’ dan Ringis
Wahyu (depan) penulis cerpen Tokoh Pepa' dan Tonggo

Kisah Tonggo, Pepa’ dan Ringis

SUATU waktu, ada tiga sahabat yang pergi ke Gunung, namanya Pepa’, Tonggo dan Ringis.

Pada saat sampai di puncak, mereka pun segera membuat tenda untuk ditempati bermalam di atas gunung tersebut. Malam tiba, Tonggo dan Ringis yang sudah lelap tidurnya lantas terbangun karena angin tiba-tiba masuk di tenda mereka, tahu kan bagaimana di atas gunung kalau malam. Dingin.

Angin tersebut masuk melalu pintu tenda yang terbuka.

Tonggo: “Apa na tibua die tenda e?” lantas bertanyalah tonggo
Ringis: “iya mori, tapi inna Pepa’??” khawatir Ringis karena tidak melihat Pepa’.

Mereka pun bersiap-siap untuk mencari Pepa’. Senter kepala telah terpasang, mereka pun segera mencari Pepa’ yang tiba-tiba pergi entah kemana.

“PEPA’…ooo Pepa’ apa na merupa sandal eiger o? Simata pa’da,” teriak Tonggo di malam yang dingin itu

“Ehh da ragi-ragi mupau e, ndang ai membali, apalagi di buttu tau die, medi tuu penunggunna die buttu, na iranni ai a,” bentak Ringis

Selepas ringis berkata demikian, tiba-tiba buku kuduk kedua sahabat tersebut tinda’/berdiri, dibalik semak-semak rerumputan mereka mendengar suara merintih.

“Eee’eee’eee pruuttt croott..psssshhh”

Ringis dan Tonggo merinding bukan kepalang, sebab suara itu sangatlah menyeramkan, seperti suara air yang muncrat keluar, mereka mengira itu ialah setan yang yang sedang memangsa buruannya dan darah yang lansung muncrat tersebut merupakan asal muasal suara aneh tersebut.

Masih dalam keadaan merinding, Tonggo dan Ringis kembali dikejutkan dengan suara laki-laki yang tiba-tiba hadir setelah suara yang tadi terdengar, suara laki-laki itu berat. Mereka berpikir itu suara Pepa’, tapi ini berbeda. Hal itu pun membuat mereka semakin takut.

“Muaq ndango messung mai, u para’besoangoooo suuu” suara tersebut berbunyi

Lantas tonggo dan ringis pun, pingsan karenanya, mereka tak mampu menahan rasa takut mereka.

Matahari terbit, tak terasa sudah jam 8 pagi cahaya matahari yang langsung menerusuk mata Tonggo dan Ringis membuat mereka terbangun dari pingsan mereka.

Mereka pun langsung pergi ke tenda mereka, dan ternyata Pepa’ ada disana, tidur nyenyak dengan sleeping bag nya, langsung saja Tonggo dan Ringis membangunkan pepa’.

“oo Pepa’…dimana ko tadi malam? Mussanggi…lambao di itai, mane na parakke tau dini e cehh, apa inna muola io itingooo” ucap Tonggo bertanya

Pepa’ pun langsung menjawab.

“lamba’a tittai luare, titteres a do bongi, mane moka sannal messung penghabisan terakhir na, tersangkut i di polle’u aiii” pepa’ menjawab jujur.

Tonggo dan ringis saling menatap, ia baru sadar ternyata suara air yang muncrat tdi malam bukan lah suara setan yang menyantap mangsanya.

Tapi, suara titteres dari i Pepa’

About EDITOR

Redaksi Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Check Also

Bersepeda Seraya Belajar Meraih Berkah Jumat

SAHALAWAT dilantunkan. Sejumlah wirid dan dzikir juga dikumandangkan dalam suara yang pelan. Sejumlah orang tampak …

Apa Kabar Pilkada Serentak?

PILKADA serentak yang akan dihelat tanggal 09 Desember Tahun 2020 dipastikan akan jauh lebih menantang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]