BERITAFEATURE

Hipnotis Gulintang: Kidung Sunyi yang Nyaris Senyap di Pesisir Bambalamotu

Catatan Perjalanan Menjemput yang Nyaris Punah menuju Mandar Musik Ethno Concert 2026

SIANG itu, terik matahari di Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, terasa begitu menyengat, seolah bersiap memanggang kulit siapa saja yang nekat beraktivitas di bawahnya. Di tengah kepungan hawa panas itu, gawai di saku saya bergetar berulang kali. Layar menampilkan beberapa panggilan tak terjawab dari Muhammad Fadel.

Fadel, sapaan karibnya, bukan pemuda biasa. Berasal dari salah satu desa di Kecamatan Alu, ia adalah seorang “maniak” musik tradisi yang sebelum kini mengabdi sebagai dosen muda di Kelas Musik Universitas Negeri Makassar (UNM), tempat dulu ia menimba ilmu pada level strata satu dan kemudian menyelesaikan strata duanya, pada program pasca sarjana di Institute Seni Indonesia Jogjakarta. Hari itu, ia sedang ingin menunaikan “ibadah musikologi” sebuah riset mendalam tentang musik tradisi Mandar.

Selama ini, dalam benak saya dan sebagian besar masyarakat, kiblat musik tradisi Sulawesi Barat selalu tertuju pada tiga wilayah utama: Majene, Polewali Mandar, dan Mamasa. Pasangkayu? Hampir tidak pernah terdengar. Ketika Fadel menyebut ada mutiara tersembunyi di wilayah pesisir ini, saya yang awam soal musik hanya menjawab santai, “Tidak ada musik tradisi khusus di daerah ini.”

Namun, Fadel mengoreksi dengan nada tegas. Informasi dari seorang seniman Mandar yang bermukim di Sulawesi Tengah menyebutkan bahwa Bambalamotu menyimpan sebuah alunan tradisi yang pernah berjaya di era 1970-an hingga 1990-an, namun kini berada di ambang kepunahan. Panggilan telepon itulah yang akhirnya menyeret saya ke dalam sebuah ekspedisi visual dan rasa: memburu alunan Gulintang yang hampir hilang.

Dengan pelan dan pasti, pencarian pun dimulai. Bersama beberapa kawan, kami menyusuri sudut-sudut Bambalamotu, mengumpulkan remah-remah informasi demi melacak siapa saja saksi hidup yang masih tersisa.

Pencarian itu membawa kami ke sebuah rumah yang amat sangat sederhana. Di sana, kami bertemu Ambo Sia, maestro Gulintang generasi pertama di kampung itu. Pria sepuh ini telah kehilangan penglihatannya, namun ingatan dan cintanya pada Gulintang tetap menyala-nyala. Saat kami menyinggung soal alat musik pukul tersebut, matanya yang redup tampak berbinar, digerakkan oleh kerinduan yang membuncah.

“Biar sudah buta seperti ini, jika ada Gulintang di hadapan saya, saya pasti masih lihai memainkannya, Nak,” ucap Ambo Sia dengan suara bergetar namun penuh penegasan.

Namun, realitas menampar kami hari itu. Di seluruh penjuru Bambalamotu, tidak ada lagi satu pun instrumen Gulintang yang tersisa. Semua telah lapuk, hilang, atau hancur dimakan waktu. Lebih menyedihkan lagi, seluruh rekan segenerasi Ambo Sia telah berpulang. Ia adalah pilar terakhir dari generasi awal.

Beruntung, Ambo Sia memberikan seberkas harapan. Ia menyebutkan bahwa denyut nadi musik ini masih tersimpan di tangan generasi kedua, para muridnya yang kini juga sudah menjadi lansia.

Generasi kedua Gulintang di Bambalamotu adalah barisan ibu-ibu dan nenek-nenek berusia 60 hingga 80 tahun. Rumah pertama yang kami sambangi adalah kediaman Ibu Nurmi, atau yang akrab disapa Nenek Galang.

Reaksi Nenek Galang saat kami menyebut kata “Gulintang” sungguh di luar dugaan. Bukannya bernostalgia dengan air mata, ia justru langsung menantang kami.

“Di mana ada Gulintang, Nak? Mau sekali ka’ ini main kalau ada!” cetusnya bersemangat.

Untuk standar pelaku tradisi yang sudah puluhan tahun vakum, semangat ini jelas bukan “kaleng-kaleng”. Api itu belum padam. Namun, Gulintang tidak bisa berdiri sendiri. Musik pukul yang sekilas mirip gamba-gamba (silofon kayu tradisional) ini harus dimainkan dalam satu kesatuan ansambel bersama gong dan gendang.

Kami pun bergerak mencari pelengkap harmoni. Maka bertemulah kami dengan Ibu Deritawati, atau yang akrab disapa Mama Parman, bersama Ibu Hj. Rabiah, dua perempuan tangguh yang di masa mudanya bertugas sebagai penjaga ritme lewat tabuhan gendang dan gong.

Berlatih dengan Ember dan Baskom Plastik

Sebuah misi besar kemudian dirancang: membawa para ibu-ibu tangguh Bambalamotu ini untuk tampil di ajang Mandar Musik Ethno Concert 2026 di Taman Budaya dan Museum (TBM) Sulawesi Barat, Tinambung, Polewali Mandar.

Namun, bagaimana bisa berlatih jika alat musiknya gaib? Melacak instrumen Gulintang di Pasangkayu berujung pada jalan buntu. Jangankan sanggar seni, inventaris sekolah pun nihil. Tak hilang akal, kami melacak hingga ke provinsi tetangga, Sulawesi Tengah. Di sana, kami berhasil menemukan dan meminjam satu unit Gulintang model gamba-gamba untuk dibawa pulang ke Bambalamotu.

Masalah belum selesai. Gong dan gendang asli tetap tidak berhasil kami temukan hingga hari latihan dimulai. Di sinilah keajaiban tradisi itu terjadi. Tanpa keluhan, Ibu Hj. Rabiah berjalan ke dapur, membalikkan ember plastik dan baskom, lalu menjadikannya sebagai pengganti gong dan gendang.

Jadilah hari itu suara gulintang Kayu ditambah tabuhan ember plastik dan ketukan baskom menjadi harmoni kerinduan yang magis.

Melihat ibu-ibu ini memukul ember dengan ritme yang presisi demi menyelaraskan nada Gulintang adalah pemandangan yang mengharukan sekaligus ironis. Mengapa mereka mau bertahan dalam keterbatasan akut ini? Jawabannya sederhana: mereka tahu mereka adalah benteng terakhir. Jika panggilan ini mereka abaikan, maka Gulintang resmi berubah menjadi sekadar dongeng pengantar tidur.

Dari obrolan di sela-sela latihan yang diiringi tawa dan sesekali petuah filosofis, terungkap tiga faktor utama mengapa musik yang terkenal dengan alunannya yang lembut dan melankolis ini bisa sekarat, pertama invasi musik modern, dimana hiburan pesta pernikahan di pesisir kini telah bergeser total ke musik elektronik komersial yang akrab disebut elekton. Kedua, minimnya minat generasi muda untuk menyentuh, mempelajari, dan bangga pada musik warisan leluhur itu. Dan yang ketiga absennya sarana dan prasarana dari pihak terkait untuk merawat keberadaan fisik alat musik tersebut.

Padahal, secara historis, musik yang dibawa dari pesisir Sulawesi Tengah ini bukan sekadar hiburan pesta pernikahan. Bagi masyarakat setempat, Gulintang adalah musik penyembuh. Alunannya yang repetitif dan teduh dipercaya memiliki efek katarsis dan mampu membius, menghipnotis, dan meredakan kecemasan baik bagi yang mendengarkan maupun yang memainkannya.

Akhir Perjalanan, Gulintang Mengguncang Panggung Tinambung

Keterbatasan alat terbayar lunas ketika rombongan ibu-ibu dari Bambalamotu ini menginjakkan kaki di panggung Mandar Music Ethno Concert (MMEC) 2026 yang dihelat UPTD Taman Budaya dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Barat di Buttu Ciping Tinambung Polewali Mandar. Di hadapan para pengamat musik, budayawan, dan penonton, kidung sunyi dari pesisir Pasangkayu itu akhirnya didengungkan kembali dengan gagah.

Perjalanan singkat mendampingi mereka menyadarkan saya bahwa menyelamatkan Gulintang tidak bisa bertumpu pada pundak rapuh para lansia ini sendirian. Dibutuhkan tangan dingin pemerintah daerah, kepekaan para pegiat budaya, dan yang paling penting,  rasa penasaran dari anak-anak muda.

Di luar ada atau tidaknya bantuan formal kelak, kami, bersama ibu-ibu perkasa ini, pelan membatin betapa pentingnya mengasah tekad untuk tidak membiarkan ketukan ini berhenti. Gulintang adalah musik yang menghipnotis. Dan jika Anda belum percaya, datanglah ke Kecamatan Bambalamotu. Detak jantung tradisi itu, semoga pelan kembaili bangkit dan kembali hidup. Yah, hidup dan menolak mati dipenggal tebasan waktu.

FAUZAN AZIMA

Penikmat dan penggiat seni budaya Mandar ini, selain aktivis juga dikenal gandrung pada berbagai gerakan spritualitas dan pencerahan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: