Thursday , January 23 2020
Home / KOLOM / Saat Nonton Biduan (part 1)

Saat Nonton Biduan (part 1)

SEBAGAI orang yang tinggal di desa, hiburan tentu menjadi barang mewah dan dinanti. Orang-orang di kota biasanya akan ramai dan membanjiri sebuah konser, itu pun jika yang tampil di atas panggung adalah artis keren atau yang bergenre luar negeri.

Lain ladang lain belalang, cerita tentu lain ditiap tempat. Di kampung tempatku, hanya dengan syukuran sunatan yang kemudian acaranya dilanjutkan jelang malam. Tuan rumah biasanya memakai jasa hiburan bernama electon dan plus Biduan yang tampil menor seksi menggoda. Dari empat penjuru angin, tanpa komando warga dusun datang bak air “bah” yang tumpah ruah, datang dengan segala perlengkapan, penuh sesak di sekitaran rumah yang punya hajatan.

Tiket atau karcis tentu takkan ditemukan, cukup bapak Hansip yang menjaga keamanan dan ketertiban, Tak ada batasan umur, anak-anak sampai yang tua pun ikut ambil bagian dan cari posisi nyaman untuk bisa menikmati hiburan yang cukup langka ini. Untuk yang muda mudi, hhhhmmmm…. dan punya kekasih hati, tentu ini akan menjadi moment yang tak akan disia-siakan. Dan yang Jomblo, hiburan malam itu tentu akan menjadi malam “perburuan” sebagai pembuktian untuk mendapatkan hati gadis pujaan yang selama ini ditaksir.

Untuk hiburan ala kampung ini cukup menarik perhatian. Aksi dan gaya panggung para sang Biduan-lah sebenarnya yang menjadi penantian. Tentu bukan cuma saya, semua yang sejak sore tadi sudah dahaga bak dipadang pasir yang haus menanti siraman goyang patah-patah dari sang Biduan.

Aksi panggung sang Biduan biasanya dimulai lepas ba’da maghrib dan Isya. Mungkin ini sebagai antisipasi saja. Khawatir pas seru-serunya dan asiknya dengan gaya ala duo srigala campur trio macan, tiba-tiba harus berhenti ditengah lagu untuk melewatkan panggilan adzan dulu. Gimana coba, saat sang Biduan lagi asyik nyanyi dengan gaya nungging, tiba-tiba berhenti ditengah punggung untuk melewatkan panggilan itu….
Aaahhh ya salam…
Gregetnya minta ampungggggg…

About SULHAN SAMMUANE

Selain Menulis dirinya juga dikenal aktif sebagai pemerhati pendidikan anak usia dini

Check Also

Saat Nonton Biduan (part 3)

SONTAK saja penonton langsung bertepuk tangan dengan riuh, suara siulan yang melengking seperti menggoda para …

Saat Nonton Biduan (part 2)

BARU kali ini bisa melanjut cerita tentang bagaimana riuhnya hiburan ala-ala kampung ditempatku saat nonton …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]