BERITASTRAIGHT NEWS

Ribuan Hektar Lahan Dialih Fungsikan, Kakao di Sulbar Berpotensi Musnah

Polewali – Tayang9 – Akademisi Universitas Al-Asyariyah Mandar (Unasman) Provinsi Sulawesi Barat Harli A.Karim, mengatakan bahwa kondisi Kakao di Sulbar saat ini sangat memprihatikan.

Menurut Harli A. Karim, salah satu penyebab utama yang membuat kakao di Provinsi Sulawesi Barat menjadi sangat memperhatikan, lantaran produksinya yang sudah 4 tahun terakhir, terus mengalami penurunan.

“Penurunan terjadi terutama disebabkan penurunan luasan kakao. Ribuan hektar kakao dialihfungsikan ke komoditi lain seperti jagung dan kelapa sawit,” ucap Harli Karim, saat menjadi narasumber dalam diskusi Salimerah Institute, di Warkop Macoa, Kamis, 24/10/19.

Selain itu juga menambahkan, bahwa saat ini ribuan hektar kakao petani dalam kondisi yang tidak terawat, animo masyarakat menurun dalam membudidayakannya, dan kondisi terparah berada di Kabupaten Mamuju serta Polewali Mandar.

“Kalau ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kakao di Sulawesi Barat ini akan hilang,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, salah satu problem utama yang membuat kakao saat ini berada dalam situasi memprihatinkan, lantaran tidak adanya regenerasi khsusnya dikalangan petani.

“Tidak banyak kalangan muda, yang mau terjun di dunia pertanian,” jelasnya.

Sementara itu Sriwiyata Ismail selaku peneliti riset magister dengan judul “The Dynamics of Sustainability Certification Scheme on the Ground Level of Cocoa Global Value Chain in West Sulawesi Barat, menjelaskan, bahwa program sertifikasi kakao di Bumi Malaqbi itu, dinilai cenderung lebih berpihak pada kepentingan para user biji kakao, namu manfaat ke petani sangatlah minim

“Program sertifikasi kakao di Sulawesi Barat, cenderung lebih berpihak kepada kepentingan para user biji kakao. Manfaat kepada petani sangat sedikit,” jelas Sriwiyata.

Di tempat yang sama pula, hal berbeda disampaikan oleh salah seorang petani kakao Nurdin Halil, yang mengakui jika pihaknya saat ini sangat membutuhkan adanya kehadiran kehadiran pemerintah, sehingga para petani kakao dapat kembali bersemangat.

“Petani butuh support dari pemerintah, agar petani kembali bergairah dalam menekuni bisnis kakao,” terang Nurdin Halil.

Sementara itu narasumber lain Akbar mengemukakan, bahwa dibutuhkan adanya dukungan dari semua kalangan, dalam rangka keberlanjutan kakao, khususnya produk kakao macoa.

“Kami butuh dukungan dari berbagai kalangan untuk tetap bertahan,”katanya.

Ia juga berharap produk kakao Macoa tersebut, dapat menjadi oleh-oleh khas daerah, dan icon bagi Provinsi Sulawesi Barat.

“Ke depan, akan terus mengembangkan kakao Macoa, yang pada ujungnya akan berpengaruh positif terhadap kesejahteraan petani kakao di Sulawesi Barat,” tutupnya.(*/FM)

MASDAR

lahir dari keluarga petani, dan kini tengah serius menjadi seorang jurnalis dan penulis baik.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button