Selasa , Agustus 4 2020
Home / GAGASAN / CERPEN / Perayan Tulisan Perayaan Buku
COVER Buku Kumpulan Cerpen 'Kuntum Sepatu Dea' karya Hamdan

Perayan Tulisan Perayaan Buku

MALAM belum lagi begitu matang pula khatam, rinai baru saja jatuh membasahi bumi. Pada musim kemarau yang kering. Entah pertanda apa. Sebab yang jelas rinai baru saja turun. Setelah sebelumnya begitu lama meraib dan menghilang diselumuti kabut asap. Bertepatan dengan serbuan berita kebakaran hutan yang terjadi disejumlah tempat.

Ditemani kopi susu dan kepul asap rokok, tulisan ini mulai bergerak. Dari teras warkop tempat tulisan ini bergerak melamban, sesekali mata ini mengamati ruang warkop. Tampak orang tekun dengan laptop, dan tak sedikit pula yang khusyuk dengan telepon genggamnya.

Sebuah buku tiba-tiba disodorkan oleh kawan baik saya, kepada saya ia menyerahkan buku kumpulan cerpennya. Sebuah buku yang tentu saja adalah peta jalan pengembaraan kreatifitasnya yang tidak lagi meragukan.



Sepintas saya membacanya. Dan alhasil terbaca olehku sepenggal cerita dalam narasi yang diolah oleh orang baik yang kreatif. Seorang alumnus pondok yang khatam dengan dunia santrinya dan itu tecium baik sebagai aroma indah dalam sejumlah cerpennya dalam buku yang kini ada di tangan saya.

Hamdan begitu nama penulisnya, ia yang dalam keyakinanku telah mempertaruhkan hidupnya demi kemaslahatan peradaban dan itu bernama tulisan. Sebuah upaya baik meninggalkan artefak bagi generasi berikutnya. Tentang kegelisahan, tentang peristiwa dan tentang gagasan serta tentang letupan pemikiran yang terkombinasi baik dengan hati dan suara sunyi batinnya.

Dan jadilah penggalan terakhir dari cerpen yang berjudul ‘kuntum sepatu dea’ sebagaimana juga judul cover buku itu, tertulis tentang kesepian dan kesunyian dan sakit indah serta romantiknya merindu. Sebagaimana “kerinduan adalah mushaf tafakur yang menegaskan keseimbangan,” tulis Hamdan, sahabtku yang baik itu.



Yah, ia yang tengah bersama penulis perempuan hebat dan juga produktif tengah bersamaku merayakan tulisan dan merayakan pemberian buku kumpulan cerpen itu. Ditemani kopi susu, air hangat pake gula dan thai tea dingin.

Dan akhirnya tulisan ini harus juga saya akhiri, tersebab timbang buku dari berbagai pihak yang sebagai endorsement buku kumpulan cerpen itu telah membuatku tak cukup pede untuk melanjutkan catatan ini.

Demikianlah dalam buku yang lengkap dengan ilustrasi kreatif sebagai pembatas setiap cerpen itu, telah genap total oleh catatan tukilan dari sejumlah nama top yang hebat dan tidak lagi meragukan kepakarannya.

Mereka tampak ikut mengamini baik dan dahsyat serta laik rekomendasinya buku ini. Mulai dari Ishak Ngeljaratan, Ahyar Anwar, Muhammad Sabri hingga Alwi Rachman. Sedang saya, biarlah sami’na wa atho’na kepada tukilan endorsement mereka, seraya mencoba mengkhatamkan pembacaan buku itu saat malam nanti kian matang.

About MESA IYAT

belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Check Also

Apresiasi Terhadap Buku “Tuhan Lagi Ngapain?”

BEREDARNYA kabar tentang terbitnya buku “Tuhan Lagi Ngapain; Sapaan Seorang Hamba pada Tuhannya” di media …

Pagi, Rinai dan Kopi

IA jatuh dari langit dan itu air hujan namanya, sekaligus rejeki bagi semua yang ada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]