Tuesday , October 15 2019
Home / BERITA / Mayat Dalam Karung itu Bernama Jayanti Mandasari
Mayat dalam karung, yang sempat menggegerkan warga Desa Segerang, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar.

Mayat Dalam Karung itu Bernama Jayanti Mandasari

Polewali – Tayang9 – Kepolisian Sektor Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, akhirnya berhasil mengungkap identitas dari mayat dalam karung yang sempat menggegerkan warga Desa Segerang, Kecamatan Mapilli.

Kapolsek Kecamatan Wonomulyo AKP Deny Irwansyah mengatakan, bahwa nama dari mayat perempuan tersebut adalah Jayanti Mandasari alias Uwa (33), yang beralamat di Dusun Lambung, Desa Ugi Baru, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar.

“Nama Jayanti Mandasari alias Uwa, usia 33 Tahun, pekerjaan wiraswasta, alamat Labuang, Desa Ugi Baru, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polman,” ucap AKP Deny Irwansyah,via WhatsApp, Jum’at, 04/10/19. Malam.

Untuk diketahui, kejadian penemuan sesosok mayat berjenis kelamin perempuan yang ditemukan oleh warga di Saluran Irigasi Desa itu, berdasarkan keterangan dari Kasat Reskrim Polres Polewali Mandar AKP Saiful Isnaeni, sejauh ini diduga adalah korban penganiayaan atau pembunuhan.(FM)

About MASDAR

lahir dari keluarga petani, dan kini tengah serius menjadi seorang jurnalis dan penulis baik.

Check Also

Ketua DPRD Sulbar Ajak Masyarakat Tolak Radikal dan Terorisme

Mamuju -Tayang9 – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Derah (DPRD) Provinsi Sulawesi Barat Suraidah Suhardi, menghadiri …

Wiranto Ditikam, MUI Sulbar : Itu Tidak Dibenarkan Dalam Islam

Mamuju – Tayang9 – Menanggapi peristiwa penikaman terhadap Menkopolhukam Wiranto, yang terjadi beberapa waktu lalu, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]