BERITAFEATURE

Kisah Jeruk dan Akhlak Rasulullah

Catatan Peringatan Maulid Ponpes Attahiriah Annahdiyah Kalukku

SYAHDAN dalam sebuah riwayat dikatakan, pernah suatu ketika Rasulullah Muhammad Saw yang tengah bersama sejumlah sahabat, didatangi seorang ibu yang membawa jeruk untuk dinikmati Rasulullah.

Menerima pemberian jeruk itu, Rasulullah Muhammad Saw kemudian dengan senyum bahagia tampak begitu lahap menikmatinya dengan tidak berbagi sebiji jerukpun kepada para sahabat.

 

Sepulang ibu sang pengantar jeruk itu, para sahabat kemudian bertanya kepada Rasulullah Muhammad Saw penyebab Rasulullah tidak membagi jeruk kepada mereka, sebagimana kebiasaannya.

Rasulullah kemudian menjawab bagaimana mungkin saya akan membagi jeruk yang sungguh kecut dan tidak enak ini. Saya tidak ingin pada wajah para sahabat saat memakan jeruk itu tampak kepada ibu itu kalau jeruk yang ia bawa tidaklah manis dan akan membuat ibu itu kecewa.

 

Begitu kisah akhlak Rasulullah Muhammad Saw yang disampaikan Ustad Mas’ud Shaleh saat membawakan hikmah Maulid Nabi Muhammad Saw yang digelar pondok pesantren Attahiriah Annahdiyah di Masjid Arrahman Balatedong Kalukku Kabupaten Mamuju, Sabtu 2 Januari 2020 siang tadi.

Dikatakan Pimpinan Pusat GP Ansor ini, peringatan maulid adalah momentum untuk mempelajari akhlaknya Rasulullah Muhammad Saw sebagai rahmatan lil alamin dan insan kamil.”Melalui Maulid Nabi Muhammad Saw kita mempelajari akhlak yang diwariskan oleh Rasulullah dan menjaga ukhuwah sebagai sesama muslim, sesama bangsa dan sesama manusia ciptaan Tuhan,” tutur Mas’ud Shaleh.

Sementara itu, pembina Pesantren Attahiriyah Annahdiyah. Ir. Alimuddin Abbas dalam sambutan pengantarnya mengatakan, maulid yang dirayakan di Mandar Sulawesi Barat telah menjadi tradisi yang meninggalkan banyak catatan kebudayaan.”Maulid di Mandar sering diiringi dengan saiyyang pattu’du yang dalam catatan budaya mandar dikatakan bahwa tradisi ini awalnya menyebutkan, yang berhak naik menunggangi kuda pattu’du hanya putra putri mahkota. Namun karena begitu dihargainya Alquran dalam tradisi budaya Mandar, anak-anak yang khatam Al-Qur’an pun dinobatkan selayaknya sejajar dengan putra putri mahkota sehari”, tutur Ir. Alimuddin cucu KH. Muhammad Thahir Imam Lapeo itu.

Dikatakannya, penghargaan itu kemudian juga bisa dilihat dalam kalinda’da Mandar yang menyebutkan, “i’o diting bunga kodza, dao melo’ disullu’ mua tania tomamea gamban, pano pindan daranna tamma topa mangayi“. Bahkan orang Mandar dulu kalau ada yang melamar anaknya gadisnya maka pertanyaan pertamanya adalah khatam tidaknya ia mengaji. Dan bagi yang tamma mangayi reppo gayangi passorong. Semoga acara Maulid Nabi Muhammad Saw yang kita laksanakan hari ini menjadi momentum kiranya budaya baik ini dilanjutkan tentu saja ditengah pandemi korona ini kita juga tetap memperhatikan protokol kesehatan”, urainya.

Tak heran, jika dalam perayaan maulid yang diselenggarakan itu tampak begitu ketat mengikuti protokol kesehatan dan tampak dihadiri Camat Kalukku, Kapolsek Kalukku dan Lurah Sinyonyoi. [/*]

“i’o diting bunga kodza, dao melo’ disullu’ mua tania tomamea gambana, pano pindan daranna, tamma topa mangayi”

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button