CERPENGAGASAN

Bukan Kesia-sian

 

Aku dan dia.

Mungkin lebih dari kata miris untuk meyempurnakan kisah kami berdua. Seperti memaksakan timur dan barat bersatu. Hingga aku melupakan satu hal dalam mempertahankan kisah kami berdua adalah kisah yang diawali dengan tindakan yang tidak sehat, sehingga kekecewaan adalah hal yang sudah biasa dalam hubungan ini.

Dendam. Itu yang terus dirasanya hingga merusak hubungan ini secara terus-menerus sedang aku berkali-kali menerimanya kembali dan keadaan menjadi baik-baik lagi. Kemudian kembali kefase pelarian dimana ia coba memamerkan padaku bahwa ia baik-baik saja tanpa diriku. Dan aku coba memahami sikap abainya padaku. Lepas itu, ia datang lagi dengan sejumlah perasaan bersalah dan memintaku kembali padanya. Menurutmu, apa yang kulakukan ?. Aku menerimanya kembali dan hubungan pun kembali baik-baik saja. Begitu seterusnya yang berlaku dihubungan kami. Ia dengan sikap petualangannya yang bila tersesat akan berbalik arah dan mendapatiku membuka lebar lengan untuknya kemudian semua akan baik-baik lagi. Bodoh bukan ?

Antara bodoh dan sayang. Orang menatap prihatin dengan kisahku dan coba menasehati dengan cara mereka. Tapi ini adalah perihal hati, jadi tak akan sama dalam hal merasai. Aku yang gembira bukan kepalang saat ia kembali mencariku lepas dengan petualangan sesatnya. Bukan kah aku menang. Antara luka dan bahagia saat ia pergi berpetualang dan kembali dengan menahan rasa yang bukan kepalang, jujur lebih banyak bahagia yang kurasa.

Semua perhatian yang ditujukannya padaku adalah kelemahanku. Dan ia memanfaatkan hal itu.

Salahkah diriku, dengan sikap terbuka kepadanya, dengan sikap pemaaf yang berlebihan, dengan sikap mengabaikan nasihat, dengan sikap yang secara tak langsung menutup hati untuk orang baru. Sedang disisi lain, aku bahagia dengannya. Lupa akan rasa sakit yang ia berikan.

“Yah, aku tak berhak mengatur hidupmu. Sebab bukan aku yang berada diposisimu dan bukan aku yang merasakannya hingga berhak menasihatimu. Selagi itu hal yang kau suka, lakukan saja sesuka mu. Jika engkau mulai lelah, ada aku disini yang siap mendengar rentetan tangismu,” ucap salah seorang kawanku saat aku mulai sesegukan menceritakan kebodohanku.

“Iya, aku kesal. Semua menuduhku bodoh, gagal move on,” kesalku.

“Mereka menyayangimu, tapi sepertinya kau lebih menyayanginya. Yah sudahlah, semua orang terlalu benar untuk disalahkan,” aku mendengar sambil mendengus kesal.

“Yah, sudahlah. Aku lebih menyayangi perutku yang mulai merindukan pisang nugget Jupe,” ucapnya akhirnya.

“Dasar,” dengusku.

Kelakuannya tak cukup sampai disitu saja. Runyamnya kisah kami juga mungkin dirasanya. Ia memilih pergi dan tak berkata apa-apa. Aku, aku lagi-lagi cukup memaknai kepergiannya bahwa ia akan kembali dan akan memperbaiki keadaan seperti awal lagi.

Namun harapku mungkin sedikit melenceng dengan kenyataan, sebab ia kembali berpetualangan disana. Sakit, jangan ditanya. Biar bagaimanapun sakitnya, toh aku tetap bernapas, tetap menikmati indahnya aktor dan aktris korea, tetap menyelesaikan tugas kuliah, tetap berkawan baik dengan teman pejuang “HALAL”, tetap menyelesaikan skirpsi dengan baik, dan tetap menghadiri acara wisuda dengan baik-baik saja. Ok sejauh ini, baik-baik saja.

Baik-baik saja yang kupendam, sakit yang kutahan disepertiga malam. Tegar walau ku tau semakin ku menginginkannya, semakin ku mengharapkannya, besar kemungkinan jatuh lagi. Antara jatuh hati kepadanya dan jatuh disakitinya, sungguh tak ada bedanya. Karna ku jauh membayangkan indahnya janji yang ia utarakan kepadaku.

Jika dipikir lebih jauh, seharusnya kisah kami menjadi mudah. Keluarga saling mengenal, kepercayaanku padanya tak perlu ditanya lagi, tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat. Jika saja kami paham, namun sepertinya hanya aku yang memahami kisah ini.

Terbukti dengan sikapku yang tetap menerima kekurangannya, tetap terbuai dengan bualannya, tetap percaya akan ada kejaiban disuatu hari nanti.

Dan hari itu datang, kabar pernikahannya berhembus kencang diberanda facebook. Tak lama berselang, berhembus kencang kepanikan ku.

Masih adakah yang salah dengan ucapanku, masih ingatkah ia dengan segala kenangan. Masih pahamkah ia dengan janji menghadiri acara wisudaku, mengapa selalu mencari yang lebih, sedang ia sendiri terlalu menutupi kekurangannya, bersembunyi dibalik sikap manis penuh perhatian. Masih kurang kah waktu tujuh tahun untuk memahami mengapa aku masih bertahan dengan kesakitan ini.

Lebih tepatnya pertanyaanku adalah mengapa ia tak memperhatikan dan memilih ku ?. Bahkan untuk sekedar membalas perasaan dan menjelaskan padaku. Bahwa kisah kita cukup sampai disini. Tak beranikah ia mengutarakan maksud mengapa terlalu lama mengucapkan perpisahan dan membiarkan aku diambang harap-harap kepastian.

Ini adalah puncak dari sekedar sakit hati. Saat kau terlalu rapuh, pundak siapa yang tersandar. Tangan siapa yang tak melepas, ku yakin aku. Bahkan saat kau memilih untuk meninggalkan aku tak pernah lelah menanti. Karna ku yakin. Kau akan kembali*.

Dengan balasan yang tak sepantasnya kudapat, aku menjadi paham bahwa bodoh dan sayang adalah dua hal yang berbeda namun tetap dapat berdampingan bahkan terlihat sama. Karna sekali lagi, ini adalah masalah hati, jadi tak kan sama dalam hal merasai, walaupun telah berkali dilukai, takkan habis rasanya untuk menyayangi. Sedalam ia menyakiti, sedalam lagi ku menyayangi.

Aku belajar tegar ditengah harapan suram, belajar kuat tetap baik-baik saja, belajar mengikhlaskan cerita yang telah usai, belajar menghargai kenangan, belajar menyayangi tak harus memiliki. Setidaknya, tidak ada yang sia-sia meski ia dan aku bukan lagi KITA.

 

TELUK BAYUR, 19 APRIL 2018

 

NIKEN BORORESMI

Penulis yang dikenal blak-blakan ini kini aktif sebagai redaktur disalah satu koran harian yang terbit di Sulbar. Selain berprinsip menulis dan membaca adalah suatu kewajiban dirinya juga kini kini bersetia hidup sebagai perempuan yang merindu

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button