Tuesday , July 23 2019
Home / NIKEN BORORESMI

NIKEN BORORESMI

Penulis yang dikenal blak-blakan ini kini aktif sebagai redaktur disalah satu koran harian yang terbit di Sulbar. Selain berprinsip menulis dan membaca adalah suatu kewajiban dirinya juga kini kini bersetia hidup sebagai perempuan yang merindu

TUGAS HARIAN

Aku berangkat menuju rumah mu Berpagar ego, berumput kesepian Ku ketuk berlahan agar pintu mu tak retak Tak ada jawaban Ku ketuk lagi, sedikit lebam dan berdarah Pintu mu rusak, mampus aku Kau mendongak dari jendela Mata sayu, pipi tirus, bibir menghitam Sedikit menggambarkan kesakitan Kau persilahkan aku masuk Aku …

Read More »

PUNTUNG

  Aku menertawai sepi Rata wajah mengiringi lagu kusut dari radio Malam tak menampakkan nuansa kelam Juga jendela rumah mu yang rontok diterpa rindu Aku coba tenggelam bersama tabu asmara Biar hilang dendam yang dulu merajai Juga kerikil senyum selalu membuatku tersandung Apakah itu dari mu semua ? Lama pertanyaan …

Read More »

LARUT

Ada sesak diantara hati yang rapuh Merupakan kesenangan jika hanya berupa senyuman Pun sebaliknya kesengsaraan jika mengajak berkenalan Pada satu kesempatan Coklat putih dengan secangkir kerinduan bertemu Tak banyak percakapan yang terjadi Hanya pertanyaan basa-basi Kaku dan getar getir menjawab Untung saja tak kau lihat sebagaimana otak ku berputar Mencari …

Read More »

DENDAM

Dikira ketulusan yang ku sentuh Nyata luka tertutup duka Pernah berharap untuk diistimewakan Nyata jauh terisolasi Wangi rona mawar mencuat Tapi aku tertusuk duri kecil Kecil tak kasat mata Jauh mungkin harapan bersemayam dalam keraguan Tindak gegabah jauh nyata dalam khayalan Aku mundur berlahan dan kau tak rela aku pergi …

Read More »

Suram

Malam masih setia menunggu Tumpahan kelelahan dari pagi hingga petang Aroma nasi goreng dari pak tua mulai tercium Serta beberapa pemuda yang siap bermalam mingguan Tembus pagi karna esok libur Seseorang duduk diatas awan Mengamati induk ayam mengekor ular Diam ingin mematuk ekor ular Tapi ular acuh tetap berlalu Induk …

Read More »

Bukan Kesia-sian

  Aku dan dia. Mungkin lebih dari kata miris untuk meyempurnakan kisah kami berdua. Seperti memaksakan timur dan barat bersatu. Hingga aku melupakan satu hal dalam mempertahankan kisah kami berdua adalah kisah yang diawali dengan tindakan yang tidak sehat, sehingga kekecewaan adalah hal yang sudah biasa dalam hubungan ini. Dendam. …

Read More »

Puisi Niken Bororesmi

Isyarat Kemana lagi arah kan kutuju Jika semua yang kulalui adalah kebohongan Bernostalgia pada senja Akan membuatku terbungkam Karna tak berani mengungkapkan kebenaran Prasangka tak pernah berbohong Jikapun berbohong, itu hanyalah secarik kecewa Lalu, aku tak pernah berdamai dengan keadaan Hidup hanyalah kesia-siaan Jika bisa sekali lagi …. Hhhhh Sekali …

Read More »
KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]