CERPENGAGASAN

Solidaritas Baru Si Bangau Sakti

TERSEBUTLAH nun di sebuah wilayah pinggiran hutan terdapat banyak danau. Di danau-danau itu hidup bangsa unggas pemakan ikan. Disana banyak bangau juga. Diantara bangau itu ada bangau sakti. Badannya besar, kakinya panjang, sayap-sayapnya lebar, makannya banyak, makan ikan dan segala renik yang ada di dalam danau. Ia bisa terbang tinggi bersembunyi di balik awan, bahkan menghilang.

Ia juga bisa menyihir hewan untuk mengeluarkan bunyi hanya dengan jalan semedi sambil merafal mantera. Lembu disihir agar melenguh, kambing mengembek, anjing menggonggong dan harimau mengaum. Begitu banyak kekuatan mantra dan sihir bangau sakti yang sudah menggerakkan hewan dan pepohonan sekitarnya.

Sebenarnya dialah raja secara tidak resmi, dialah raja diraja. Kesaktiannya melebihi raja hutan. Ia memimpin danau, persis danau itu seperti negara di dalam negara.

Karena kesaktiannya bangau kecil mengangkatnya sebagai pelindung sembari berkata, “oh, lindungilah kami yang kecil ini”.

Tapi bangau sakti menolaknya. “Apa? pelindung? Kita sama berusaha dan sama mencari makan sendiri saja. Tidak dilindungi dan tidak pula melindungi”, kata bangau sakti.

Bangau kecil berkata, “katanya kamu punya hubungan baik dengan raja hutan?”

Bangau sakti menjawab, “iya, tapi hubungan itu personal tidak kolektif”.

Sepertinya bangau kecil curiga dengan ketidak inginan bangau sakti diangkat jadi pelindung. Sementara ada banyak musuh bangau, termasuk para pencari ikan. Para penangkap ikan, pengail dan para penjala, bahkan penyetrum dan para peracun ikan.

Paling tidak disukai adalah penyetrum dan peracun ikan. Karena semua ikan mati dan merusak lingkungan, dtakutkan pasokan makanan bangau akan segera habis. Kalau pengail dan penjala yang datang, bangau kecil yang tangani.

Suatu waktu ada pengail berpasangan datang. Pacaran sambil bakar ikan dan makan bersama. Lalu bangau kecil mengeluarkan bunyi, “kaok, kaok, kaok”.

“Waduh mati kita dek”. “Iya kangmas”, jawab adek.

Pengail yang tengah asyik pacaran itu, lari tunggang-langgang, meninggalkan ikan dan gagang pancingnya.

Ketika penyetrum dan peracun datang lengkap dengan racun dan kabel kawatnya. Maka bangau saktilah, yang harus bertugas untuk menangani tugas yang berat namun penting itu.

Tidak lama berselang, terdengar suara gonggongan anjing bergemuruh. Spontan Penyetrum dan peracun ikan lari. Namun besoknya datang satu dusun, sepertinya ada acara makan-makan ikan di danau itu.

Tapi ini sudah diketahui oleh bangau sakti. Dia pun membaca mantra dan menyihir semua harimau dan singa.
“Auummm auummm aummm”, terdengar suara auman harimau dan singa terpantul-pantul di pepohonan dan lalu menggema di danua hingga ke dalam hutan. Lutut warga lemas, takut, lumpuh seakan tidak bisa bergerak.

“Ayoo mari kita pulang”.

Namun, ada yang aneh, akhir-akhir ini bangau sakti punya kebiasaan aneh. Setiap seusai ia menjalankan tugasnya, setiap pagi setelah sarapan dengan lahapnya, ia akan membawa sekeranjang penuh ikan-ikan hidup dari danau.

Sesumbar kabar, ikan-ikan itu akan disebarkan di danau negeri diatas angin. Tidak ada yang tahu sebenarnya maksudnya apa? sebab dia akan menghilang setelah itu. Terbang kembali dan meraib di balik awan.

Ternyata unggas dan bangsa bangau yang kecil mulai meradang dan akhirnya memiliki kekuatan untuk memprotes kelakukan bangau sakti. Berbondong-bondong mereka datang menghadap raja hutan. Menuntut kebiasaan bangau sakti itu. Kata bangsa unggas, “kini, bangau sakti tidak lagi solider kepada sesama penghuni hutan, patalnya, bangau sakti malah telah menguras tandas ikan-ikan di danau”.

Tak butuh waktu lama dan jalur birokrasi yang berbelit, memutar dan melingkar pula meliuk-liuk, raja hutan setelah mendengar tuntutan itu, kemudian mencoba menenangkan suasana dengan berpidato dihadapan unggas dan bangau-bangau kecil yang tengah berunjuk rasa itu.

“Saudara-saudaraku, ketahuilah keengganan bangau sakti untuk tidak dijadikan panutan bahkan raja hutan, serta pelindung bagi kalian semua itu adalah pertanda kian melemahnya rasa solidaritas yang dimiliki oleh bangau sakti. Bangau sakti telah menginjak-injak konsitusi dan kesepakatan kita semua”.

“Ia, si bangau sakti telah terbukti menguras isi danau dan memindahlan ikan-ikan ke danau lain di atas awan. Ini bukti pengingkaran nilai solidaritas yang paling nyata”, tegas raja hutan.

Dengan geram raja hutan melanjutkan pidatonya, “ini sudah keterlaluan. Tidak boleh dilanjutkan, ini adalah solidaritas semu yang mengatasnamakan kesaktian. Ini model solidaritas baru. Sama seperti mereka, bangsa manusia, setelah dimuliakan dan diundang pada sebuah kenduri. Bukan saja memakan hidangan yang disediakan di acara kenduri, tetapi makanan itupun dibawah pulang ke rumahnya”.

Luyo, 15 Agustus 2021

FARHAM RAHMAT

Alumni Hukum IAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta Timur, Blogger juga aktif dalam pengembangan skill Bahasa (Inggris, Arab dan Teks Lontara) Alumni SKPB Akbar Tandjung Institute. Kini Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar dan nyantri di Majelis Shalawat Simpang M, dan didaulat sebagai Ketua Zain Office, editor di media katalogika.com. Serta dirinya tercatat sebagai pemuda pelopor Literasi Digital Kabupaten Polewali Mandar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button