Selasa , April 7 2020
Home / BERITA / Antara Duka dan Dilema
Ilustrasi

Antara Duka dan Dilema

TAYANG9 – Sejak dinyatakan hilang tahun 2016 silam, pihak keluarga sudah mengikhlaskan kepergian suaminya atas musibah yang melanda saat hendak melaut menangkap ikan Cumi. Berbagai upaya yang dilakukan untuk mencarinya namun itu semua sia-sia. Mulai dari perairan Sendana sampai di wilayah tanjung Rangas.

Berselang tiga hari, harapan itu muncul setelah perahu yang digunakan Acong ditemukan di wilayah perairan Makassar oleh nelayan asal ujung Lero, Pinrang. Perahunya terlihat tak bertuan, hanya terdapat mesin Katinting, bekal makanan, kail pancing beserta ikan Cumi hasil tangkapan yang mulai membusuk dilambung perahu. Namun Acong tidak terlihat yang biasanya duduk di buritan perahunya.



Dari sisa-sisa yang didapat, keluarga pun menganggap bahwa Acong sudah tiada. Kemungkinan terjatuh dilautan saat hendak memancing Cumi. Dalam tradisi keluarga, setiap orang yang meninggal akan diperingati dengan baca tahlilan. Keluarganya turut menggelar do’a tahlilan dari malam ke 3 sampai baca puranna (akhir) yakni 100 hari untuk mendiang Acong.

Satu tahun berlalu sejak Acong dinyatakan hilang di lautan, istrinya Subaedah harus berjuang sendiri diselimuti duka dengan status janda untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya yang berjumlah tiga orang. Dua masih status balita dan anak sulungnya sudah kelas 2 SD. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Subaedah lantas bekerja serabutan. Dari tukang cuci, jualan ga’de sampai jadi buruh nelayan (Ma ombang) di punggawa lopi.

Menjelang malam, Subaedah sering melantungkan lagu-lagu pelepas rindu kepada suaminya. Nyanyian-nyanyian “Bura’ Manus” sering terdengar di uru bongi. Lalu melantungkan lagu peondo buat anaknya diatas Toyang. Ujian tuhan sedang menimpanya.



“Kambe, Patindo Naung
Kaerimmu Ottongngi
Apa Kanangmu Namambue Masara”

Pahit hidup dirasakan dalam getirnya hidup setelah ditinggal suami tercinta. Kesunyian rentang dirasakan saat dirumah mampu ditutupi dari kasih anak-anaknya. Lambat laun nasib dilakoni, takdir pun membawanya ke dalam lembaran baru. Setelah menjanda kurang lebih 4 tahun. Ia akhirnya dipersunting lelaki yang juga berstatus duda 1 anak bekerja sebagai tukang bangunan.

Dari pernikahan itu, Subaedah mulai sedikit menikmati waktunya sebagai ibu rumah tangga setelah mendapat perhatian lahir bathin dari suami ke duanya. Ia tidak harus bekerja keras lagi, namun sesekali masih terlibat dalam pengerjaan ikan. Lambat laun duka dalam tragedi kecelakaan yang menimpa suaminya perlahan bisa dilupakannya. Hari-harinya lebih banyak untuk merawat anak dan mengerjakan urusan rumah tangga. Dukanya mulai tersisih atas cinta yang didapati.

Bersambung…

About NASRUL MASSE

Seorang nelayan yang ingin terus menulis kemudian membaca saat di daratan.

Check Also

DPD II Golkar Polman Sepakat Tak Beri Dukungan Kepada Kandidat di Musda, Begini Alasannya,

POLMAN, TAYANG9 – Pemilihan Ketua Umum Partai Golkar Provinsi Sulwesi Barat yang sedianya akan digelar …

Akibat Langka dan Mahal, Pemuda Galeso Buat Antiseptik Ramah Lingkungan

Polman, Tayang9 – Kelangkaan antiseptik saat ini membuat sekelompok pemuda di Desa galeso Kecamatan Wonomulyo, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]