
API telah padam. Tetapi bagi Usmar, 35 tahun, warga Desa Karombang, Kecamatan Bulo, Polewali Mandar, persoalan belum benar-benar selesai. Di atas lahan sekitar setengah hektare yang sebelumnya menjadi tumpuan hidup keluarganya, sekitar 500 batang pohon kakao produktif kini tinggal menyisakan kerusakan akibat kebakaran. Pohon-pohon yang selama ini dirawat dan diharapkan terus menghasilkan buah untuk menopang kebutuhan keluarga, kini tidak lagi dapat memberikan penghasilan seperti sebelumnya.
Bagi orang lain, kebakaran itu mungkin terlihat sebagai peristiwa yang selesai ketika api berhasil dipadamkan. Namun bagi Usmar dan keluarganya, api meninggalkan persoalan yang jauh lebih panjang. Karena yang terbakar bukan sekadar batang-batang kakao, tetapi sumber penghasilan keluarga juga ikut ludes dan terbakar.
Untuk kembali menjadikan lahan itu produktif, Usmar tidak bisa melakukannya dalam hitungan hari atau minggu. Pohon kakao membutuhkan waktu untuk tumbuh dan kembali menghasilkan. Artinya, kerugian yang dialaminya tidak berhenti ketika api padam. Dampaknya dapat dirasakan bertahun-tahun karena sumber penghidupan yang selama ini menopang keluarganya telah hilang. Kisah Usmar adalah salah satu wajah dari tekanan yang kini dihadapi masyarakat kecil di Polewali Mandar ketika cuaca semakin tidak menentu.
Di tempat lain, petani sedang berhadapan dengan persoalan berbeda. Sawah-sawah mereka terancam kekurangan air. Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah membuat ketersediaan air untuk pertanian semakin terbatas. Tanaman yang seharusnya mendapatkan pasokan air yang cukup kini harus bertahan dalam kondisi yang semakin sulit. Jika kekeringan berlangsung lebih panjang, tanaman berpotensi mengalami kerusakan, pertumbuhannya terganggu, bahkan gagal panen.
Bagi petani kecil, gagal panen bukan sekadar cerita tentang tanaman yang mati atau hasil produksi yang berkurang. Di balik hamparan sawah, ada keluarga yang harus makan. Ada anak-anak yang harus tetap bersekolah. Ada kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi. Ada biaya produksi, modal usaha, bahkan utang yang harus dibayar. Karena itu, ketika air mulai menghilang dari lahan pertanian, yang sesungguhnya berada dalam ancaman bukan hanya tanaman, tetapi kelangsungan hidup keluarga petani juga menjadi taruhannya.
Situasinya menjadi semakin berat karena lahan yang kering juga meningkatkan risiko kebakaran. Vegetasi dan permukaan tanah yang kehilangan kelembapan membuat kawasan hutan dan perkebunan masyarakat menjadi semakin rentan terbakar. Bagi masyarakat yang hidup dari perkebunan, kebakaran dapat berubah menjadi bencana ekonomi.
Bencana Lingkungan, Bencana Kehidupan
Apa yang dialami Usmar memperlihatkan bagaimana bencana lingkungan dapat menjelma menjadi bencana bagi kehidupan sebuah keluarga. Ratusan pohon kakao produktif yang terbakar berarti hilangnya sumber pendapatan yang seharusnya dapat menopang kehidupan keluarga secara berkelanjutan.
Dan ketika petani berhadapan dengan tanah yang kering serta kebun yang rentan terbakar, masyarakat pesisir menghadapi ancaman dari arah yang berbeda.
Dalam waktu yang bersamaan, laut juga pelan mulai tak bersahabat. Angin kencang dan kondisi laut yang kian ekstrem membuat nelayan tradisional kesulitan melakukan aktivitas penangkapan ikan. Bagi nelayan kecil di Polewali Mandar, persoalan itu menjadi kian serius, karena sebagian besar masih menggunakan perahu tradisional dan bergantung pada hasil tangkapan harian.
Bagi mereka, laut bukan sekadar hamparan air asin. Laut adalah tempat mencari makan. Laut adalah tempat mencari nafkah. Bagi mereka, laut adalah sumber penghasilan yang dibawa pulang untuk menghidupi keluarga.
Namun ketika angin kencang datang dan laut tidak lagi aman untuk dilayari, nelayan harus mengambil keputusan yang sulit: tetap berangkat dengan mempertaruhkan keselamatan, atau tinggal di rumah dengan konsekuensi tidak mendapatkan penghasilan.
Pada akhirnya, keselamatan tentu harus menjadi pilihan. Tetapi pilihan itu memiliki harga. Artinya, ketika nelayan tidak lagi melaut, kontan tidak akan ada pendapatan yang dibawa pulang ke rumah. Sementara kebutuhan hidup tidak pernah berhenti menunggu cuaca membaik. Pangan keluarga tetap harus tersedia. Anak-anak tetap harus bersekolah. Biaya operasional perahu tetap membutuhkan uang. Bahan bakar tetap diperlukan. Kebutuhan rumah tangga tetap berjalan sebagaimana biasanya.
Cuaca buruk mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Tetapi bagi nelayan kecil, beberapa hari tanpa penghasilan dapat menjadi persoalan besar. Di sinilah persoalan cuaca ekstrem menjadi jauh lebih luas daripada sekadar persoalan lingkungan.

Negara Harus Hadir
Muh. Muhsin R, Anggota Dewan Daerah WALHI Sulawesi Barat sekaligus Ketua DPD KNTI Polman, menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kecil berada pada posisi paling rentan ketika terjadi perubahan cuaca ekstrem.
Menurut Muhsin, petani membutuhkan air untuk mempertahankan tanaman mereka. Nelayan membutuhkan laut yang aman untuk mencari ikan. Ketika dua sumber penghidupan tersebut terganggu, dampaknya akan langsung terasa pada ekonomi rumah tangga masyarakat.
Persoalannya semakin berat ketika gangguan itu tidak berlangsung sebentar.
“Petani yang kehilangan tanaman tidak dapat begitu saja kembali memperoleh hasil dari lahannya. Apalagi jika tanaman produktif telah terbakar dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali menghasilkan,” katanya.
Bagi Muhsin, bukan hanya petani, tetapi begitu pula para nelayan. Ketika kondisi laut tidak memungkinkan mereka melaut, tidak ada kepastian kapan mereka dapat kembali bekerja secara normal.
Karena itu, masyarakat kecil membutuhkan lebih dari sekadar imbauan untuk bersabar dan menunggu cuaca kembali normal. Mereka membutuhkan perlindungan. Mereka membutuhkan dukungan. Dan mereka membutuhkan negara yang hadir ketika sumber penghidupan mereka terganggu.
Muhsin mengatakan pemerintah tidak boleh hanya menunggu cuaca membaik, kekeringan berlalu, dan berharap bahwa “badai pasti berlalu.”
Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya bergerak tatkala bencana telah terjadi atau setelah masyarakat mengalami kerugian. Langkah pencegahan, mitigasi, perlindungan sosial, dan penyediaan solusi bagi masyarakat yang kehilangan sumber pendapatan harus dilakukan sejak awal.
Muhsin menilai pemerintah harus memiliki skema bantuan langsung khusus bagi masyarakat yang terdampak kekeringan dan kebakaran lahan. Kekeringan, menurutnya, tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa yang harus ditanggung sendiri oleh masyarakat. Dampaknya dapat sama seriusnya dengan bencana alam lainnya karena menyentuh langsung kehidupan dan sumber penghasilan masyarakat.
Ketika sawah gagal panen, petani kehilangan pendapatan. Ketika kebun terbakar, petani kehilangan tanaman produktif. Ketika nelayan tidak dapat melaut, keluarga kehilangan pemasukan harian. Rangkaian persoalan tersebut pada akhirnya bertemu pada satu titik yang sama: melemahnya kemampuan masyarakat untuk bertahan hidup.
Karena itu, pemerintah sudah harus turun langsung ke tengah masyarakat. Bukan sekadar hadir setelah bencana terjadi, tetapi hadir sejak masyarakat mulai menghadapi ancaman. Pemerintah harus masuk ke desa-desa pesisir, wilayah kepulauan, hingga kawasan pegunungan dan lahan-lahan perkebunan masyarakat untuk melihat secara langsung kondisi yang dihadapi warga. Ketersediaan air bersih bagi masyarakat harus dijamin. Air untuk lahan pertanian dan perkebunan juga harus menjadi perhatian serius.
Masyarakat yang terdampak kekeringan dan kebakaran membutuhkan bantuan dan perlindungan agar kehilangan sumber penghidupan tidak membuat mereka semakin terpuruk.
Di sisi lain, keselamatan nelayan kecil juga harus menjadi perhatian.
Ketika laut tidak memungkinkan untuk dilayari, nelayan tidak seharusnya dibiarkan menanggung sendiri kehilangan pendapatan. Pemerintah perlu memastikan adanya perlindungan bagi mereka yang tidak dapat melaut, sekaligus menjamin ketersediaan BBM bersubsidi bagi nelayan kecil agar ketika kondisi laut kembali memungkinkan, mereka tetap memiliki kemampuan untuk kembali bekerja dan mencari penghasilan.
Sebab bagi masyarakat kecil, satu hari tanpa penghasilan bukan sekadar angka. Ada kebutuhan yang tertunda. Ada makanan yang harus tetap tersedia. Ada biaya sekolah yang tetap menunggu. Ada kebutuhan keluarga yang tidak mengenal istilah cuaca ekstrem.
Itulah sebabnya perlindungan sosial tidak boleh hanya muncul sebagai respons sesaat setelah bencana. Perlindungan harus menjadi bagian dari kebijakan yang memahami bagaimana masyarakat kecil bertahan hidup di tengah perubahan cuaca yang semakin ekstrem.
Muhsin menegaskan bahwa persoalan kekeringan, kebakaran lahan, dan cuaca ekstrem bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan ekonomi, pangan, keselamatan, dan keberlangsungan hidup rakyat kecil.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa persoalan ini tidak bisa dilihat secara terpisah. Ketika sawah kekurangan air, yang terdampak bukan hanya tanaman. Ketika kebun kakao terbakar, yang hilang bukan hanya pohon. Ketika nelayan tidak dapat melaut, yang berhenti bukan hanya aktivitas menangkap ikan.
Ancaman Ketahanan Ekonomi Keluarga
Di balik semua itu, ada keluarga yang ikut terguncang. Ada keluarga petani yang menunggu panen tetapi berhadapan dengan ancaman gagal panen. Ada keluarga yang kehilangan sumber pendapatan setelah kebun terbakar. Ada keluarga nelayan yang harus bertahan ketika perahu tidak dapat berangkat ke laut.
Ketika petani kehilangan hasil panen dan nelayan kehilangan kesempatan melaut, yang terancam bukan hanya pendapatan individu. Ketahanan ekonomi keluarga dan masyarakat ikut berada dalam tekanan.
Ketika sumber penghasilan hilang, kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pangan, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya juga ikut melemah. Karena itu, menghadapi cuaca ekstrem tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat harus beradaptasi.
Betul memang, masyarakat perlu beradaptasi, tetapi negara juga memiliki tanggung jawab memastikan masyarakat tidak dibiarkan menghadapi risiko tersebut seorang diri. Petani tidak mungkin menciptakan air dari lahan yang kering.
Nelayan kecil tidak mungkin memaksa laut yang sedang ganas agar menjadi tenang. Dan masyarakat yang kehilangan kebun akibat kebakaran tidak mungkin dalam waktu singkat mengembalikan pohon-pohon produktif yang telah mereka rawat selama bertahun-tahun.
Di situlah kehadiran pemerintah menjadi penting. Bukan hanya untuk datang membawa bantuan ketika semuanya telah terbakar atau gagal panen. Bukan hanya untuk menghitung berapa besar kerugian setelah laut tidak dapat dilayari.
Tetapi untuk hadir sebelum keadaan menjadi semakin buruk—memastikan air tersedia, memastikan masyarakat terlindungi, memastikan nelayan dapat kembali bekerja ketika laut aman, dan memastikan mereka yang kehilangan sumber penghidupan tidak jatuh sendirian.
Sebab bagi Usmar, 500 pohon kakao yang terbakar bukan sekadar 500 batang pohon. Itu adalah ratusan harapan yang ikut terbakar. Bagi petani yang menatap sawahnya yang kekurangan air, kekeringan bukan sekadar perubahan cuaca.
Itu adalah kecemasan tentang panen yang belum tentu datang. Dan bagi nelayan yang terpaksa menarik perahunya kembali ke daratan karena laut terlalu berbahaya, gelombang besar bukan sekadar fenomena alam. Itu adalah hari ketika dapur rumah mungkin harus bertahan tanpa penghasilan.
Mereka telah lama menghidupi keluarganya dari sawah, kebun, dan laut. Kini, ketika alam semakin sulit diprediksi, mereka membutuhkan lebih dari sekadar keberanian untuk bertahan. Petani membutuhkan air. Nelayan membutuhkan laut yang aman. Masyarakat membutuhkan perlindungan. Dan negara harus hadir memastikan semuanya terpenuhi.
Sebab ketika kekeringan semakin panjang, api semakin mudah membakar lahan, dan laut semakin sulit diprediksi, masyarakat kecil tidak boleh menjadi pihak yang selalu diminta menanggung sendiri seluruh kerugian akibat perubahan cuaca ekstrem.
Mereka telah berjuang untuk hidup dari apa yang tersedia di sekitar mereka. Dan ketika alam semakin tidak bersahabat, sudah seharusnya negara hadir untuk memastikan mereka tetap memiliki kesempatan untuk bertahan, bekerja, dan melanjutkan kehidupan.




