BERITASTRAIGHT NEWS

Malam Kedua Pekan Sastra Hadirkan Penampilan Puisi dan Monolog Finalis

Irma Trisnawati: Pekan Sastra Diharap Menguatkan Ekosistem Sastra dan Seni Pertunjukan

POLMAN, TAYANG9 – Malam Ketua Pekan Sastra Provinsi Sulawesi Barat 2026 akan menghadirkan pertunjukan sastra yang memadukan pembacaan puisi dan monolog dari para finalis terpilih. Kegiatan yang digelar di Baruga Boyang Kaiyyang, Kompleks UPTD Taman Budaya dan Museum (TBM), Buttu Ciping, Desa Batulaya, Kecamatan Tinambung, Polewali Mandar, pada Jumat malam (17/7/2026), menjadi salah satu rangkaian utama Pekan Sastra Sulawesi Barat 2026.

Mengusung tema “Tubuh Kata: Tradisi Lisan, Tubuh, dan Suara Masa Kini”, malam pementasan ini menjadi ruang apresiasi bagi para finalis yang telah lolos proses kurasi sekaligus akan dinilai langsung oleh dewan juri.

Dalam kegiatan yang dipandu Rosmaddiana Tammalele selama tiga malam itu, selain penampilan para finalis, malam puncak ini juga akan diisi dengan testimoni dari dua juri monolog, yakni Muhammad Adil dan Cristin Natalia, yang akan berbagi pandangan mengenai perkembangan seni monolog, proses penjurian, serta pentingnya regenerasi pelaku teater di Sulawesi Barat.

Tak hanya itu, juri puisi Hendra Djafar juga dijadwalkan memberikan testimoni sekaligus membacakan puisi sebagai bentuk apresiasi terhadap para peserta dan penikmat sastra yang hadir. Penampilan tersebut diharapkan menjadi inspirasi sekaligus memperkaya pengalaman estetik dalam perhelatan Pekan Sastra tahun ini.

Pada kategori pembacaan puisi, tiga finalis akan menampilkan karya terbaik mereka, yakni Fadilah dengan puisi berjudul Sumpah yang Menetas dari Lidah, Gestari Pasimbong dengan puisi Salu yang Bertutur, serta Muhammad Fathanah dengan puisi Di Atas Sajadah Lusuh.

Sementara itu, kategori monolog akan menampilkan Syaifa Falisya dengan naskah Dukun dan Google, Sajlia dengan naskah Tersisa, serta Hasmia yang akan membawakan naskah monolog Jawaban di Balik Ombak.

Kepala UPTD Taman Budaya dan Museum (TBM) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Irma Trisnawati, mengatakan bahwa rangkaian Pekan Sastra tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang refleksi bagi pelaku seni dan masyarakat.

“Pekan Sastra bukan sekadar ruang untuk mempertunjukkan karya, tetapi juga menjadi ruang renung bersama. Melalui puisi dan monolog, kita diajak mendengar kembali suara-suara yang lahir dari tradisi, pengalaman hidup, hingga realitas sosial yang kita hadapi hari ini,” ujar Irma.

Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan Pekan Sastra mampu memperkuat ekosistem sastra dan seni pertunjukan di Sulawesi Barat, sekaligus memberi ruang bagi lahirnya karya-karya baru dari para sastrawan muda.

Pekan Sastra Sulawesi Barat 2026 berlangsung selama tiga hari, 16–18 Juli 2026, dengan beragam agenda, mulai dari pementasan sastra, diskusi, eksibisi, hingga pertunjukan seni yang melibatkan komunitas kreatif dari berbagai daerah.

Panitia mengundang masyarakat, akademisi, pelajar, mahasiswa, dan pegiat seni untuk hadir menyaksikan rangkaian kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya merawat tradisi literasi dan kebudayaan di Sulawesi Barat.

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: