KOLOMMURSYID SYUKRI

Bustan Basir Maras: Asal Sehat Jiwa Raga, Faham, Bisa dan Mengerti Baca Tulis, Menulislah!

UNGKAPAN “Asal sehat jiwa raga, faham, bisa dan mengerti baca tulis, menulislah” merupakan sebuah seruan intelektual dan kebudayaan yang sangat mendalam maknanya. Kalimat ini bukan sekadar ajakan untuk menulis, tetapi juga sebuah panggilan moral kepada generasi muda agar mencatatkan jejak kehidupan, budaya, bahasa, dan peradaban masyarakatnya sendiri.

Dalam konteks Tanah Mandar, ungkapan ini menjadi sangat penting karena Mandar memiliki kekayaan budaya, sastra, bahasa, adat, dan kearifan lokal yang sangat besar, namun sebagian di antaranya belum terdokumentasikan secara baik dalam bentuk tulisan.

Secara teoritis, menulis merupakan salah satu bentuk tertinggi dari kemampuan literasi manusia. Dalam ilmu pendidikan dan kebudayaan, kemampuan menulis bukan hanya aktivitas menyusun kata, tetapi proses membangun memori kolektif suatu bangsa.

Banyak peradaban besar di dunia dikenal karena meninggalkan catatan tertulis yang diwariskan lintas generasi. Oleh sebab itu, ungkapan “jika ingin hidup dan dikenal maka menulislah” memiliki dasar ilmiah dan historis yang kuat. Tulisan mampu melampaui batas ruang dan waktu, bahkan tetap hidup meskipun penulisnya telah tiada.

Tanah Mandar sendiri sejak dahulu telah memiliki tradisi sastra dan budaya tutur yang kaya. Nilai-nilai lokal diwariskan melalui kalindaqdaq, hikayat, petuah adat (Pappasang), lagu rakyat, hingga cerita pelaut Mandar yang terkenal di Nusantara. Para sastrawan dan tokoh budaya Mandar terdahulu telah meninggalkan jejak pemikiran yang menjadi identitas masyarakat Mandar hari ini.

Karena itu, budaya lokal Mandar sesungguhnya merupakan “bahan mentah” yang sangat besar nilainya untuk dijadikan karya sastra, penelitian, buku literatur, maupun catatan sejarah bagi generasi muda.

Dalam kegiatan Workshop Talenta Bahasa dan Sastra yang dilaksanakan di Taman Budaya Mandar Buttu Cipping, tokoh sastra Mandar Bustan Basir Maras menyampaikan seruan penting kepada para pemuda, guru, mahasiswa, dan pelajar agar senantiasa menulis tentang realitas budaya lokal Mandar. Ajakan tersebut bukan tanpa alasan. Menurut pandangan kebudayaan modern, suatu daerah akan kehilangan identitasnya apabila generasi mudanya tidak lagi mencatat dan merawat sejarah budayanya sendiri.

Perjalanan hidup Bustan Basir Maras juga menjadi contoh nyata bahwa sastra lahir dari pengalaman kehidupan. Sebagai anak dari Mekkatta yang pernah menjalani kehidupan penuh perjuangan, pendidikan pesantren, hingga menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ia memahami bahwa menulis bukan sekadar bakat, tetapi hasil dari pergulatan hidup, pembacaan realitas sosial, dan ketekunan intelektual. Dalam dunia sastra, pengalaman hidup sering menjadi sumber utama lahirnya karya-karya besar karena sastra pada hakikatnya adalah refleksi kehidupan manusia.

Dalam pemaparannya, Bustan Basir Maras juga mengaitkan kebudayaan dengan teori sosial dan filsafat sejarah, salah satunya melalui pendekatan Teori Materialisme Historis dari Karl Marx. “Teori ini menjelaskan bahwa segala sesuatu di dunia tidak lahir dari ruang kosong, melainkan saling berkaitan satu sama lain dalam proses sejarah yang panjang”.

Dalam konteks budaya Mandar, teori tersebut dapat dipahami bahwa bahasa, adat, sastra, dan tradisi yang ada hari ini merupakan hasil perjalanan sejarah masyarakat Mandar dari masa lalu hingga masa kini.

Secara ilmiah, budaya berkembang melalui proses yang disebut difusi kebudayaan, yaitu penyebaran nilai, tradisi, bahasa, dan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Apabila budaya tidak dicatatkan, maka proses pewarisan tersebut akan melemah. Karena itu, menulis menjadi salah satu cara paling efektif untuk menjaga keberlanjutan identitas budaya suatu masyarakat. Apa yang hari ini hanya menjadi cerita lisan, dapat hilang bersama waktu apabila tidak dituangkan dalam bentuk tulisan.

Ajakan untuk menulis budaya lokal juga memiliki dampak besar terhadap pendidikan generasi muda. Dalam ilmu literasi modern, menulis dapat melatih kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif. Ketika seorang pemuda Mandar menulis tentang adat, bahasa, atau cerita rakyat daerahnya, maka secara tidak langsung ia sedang membangun kesadaran identitas dirinya sendiri. Ia tidak hanya menjadi pembaca sejarah, tetapi juga menjadi pencatat sejarah.
Kekayaan budaya Mandar sesungguhnya sangat luas untuk dijadikan karya sastra dan literatur. Mulai dari tradisi maritim, lagu daerah, petuah adat, ritual budaya, kisah pelaut Mandar, hingga nilai sibaliparri dan semangat gotong royong masyarakatnya.

Semua itu merupakan sumber pengetahuan lokal yang memiliki nilai ilmiah, sosial, dan budaya yang tinggi. Bahkan dalam kajian antropologi dan sastra modern, kearifan lokal menjadi salah satu unsur penting dalam membangun peradaban yang berakar pada identitas masyarakatnya sendiri.

Karena itu, ungkapan “asal sehat jiwa raga, faham, bisa dan mengerti baca tulis, menulislah” sejatinya adalah ajakan membangun peradaban melalui literasi. Menulis bukan hanya pekerjaan sastrawan atau akademisi, tetapi tanggung jawab generasi yang ingin menjaga warisan budayanya agar tidak hilang ditelan zaman. Dengan menulis, budaya Mandar tidak hanya hidup dalam ingatan lisan, tetapi juga tercatat dalam sejarah dan dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Mandar, 21 Mei 2026

MURSYID SYUKRI

Aktif dalam pergerakan seni budaya Mandar dan serius menghibahkan waktunya sebagai Ketua Sekolah Adat Adolang Pamboang

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
%d blogger menyukai ini: