Selasa , April 7 2020
Home / BERITA / Tradisi Mangakkai’ di Kampung Sumarorong

Tradisi Mangakkai’ di Kampung Sumarorong

Oleh : Tadius Sarrin

Wujud Penghargaan atau penghormatan bagi arwah yang sudah meninggal pada beberapa tempat, memiliki berbagai tradisi yang beragam. Salah satunya adalah Tradisi Mangakkai‘ di Kecamatan Sumarorong Kabupaten Mamasa.

Tradisi Mangakkai‘ adalah warisan budaya ini sejak dari nenek moyang mereka dan tetap dilestarikan oleh masyarakatnya, khususnya di Kecamatan Sumarorong Kabupaten Mamasa. Hanya saja kegiatan tradisi ini langka dijumpai atau dilaksanakan. Sebab, selain tidak mudah untuk dilakukan juga karena memang tidak boleh dilaksanakan pada tahun yang sama.

Salah seorang tokoh yang juga cucu pertama dari tetua adat (Pemangku Adat) saat berkunjung di rumah pribadinya beberapa waktu lalu, memberikan gambaran tentang tradisi Mangakkai‘. Ini sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan tradisi Mangakkai‘ di Desa Sasakan, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa yang baru-baru ini dilaksanakan.

Tradisi Mangakkai‘ ini merupakan kegiatan yang terakhir untuk para arwah almarhum/almarhumah yang telah meninggal beberapa tahun lalu. Selain tradisi ini tergolong mahal, juga tidak bisa serta merta dilakukan oleh seseorang walaupun sarana dan prasarana serta dana dan kekayaannya telah siap sebelumnya.

Kegiatan tradisi ini hanya bisa dilakukan minimal setahun setelah meninggalnya seorang yang akan diakkai‘. Namun tidak ada batasan waktu bagi keluarga yang bersangkutan, setelah setahun meninggalnya bagi almarhum untuk melaksanakan tradisi ini, semua tergantung kemampuan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Proses Mangakkai‘, meskipun dikatakan sebagai acara yang terakhir bagi arwah seseorang yang telah meninggal beberapa tahun lalu, didalam tradisi ini, tidak menutup kemungkinan orang-orang yang telah meninggal dan sudah “diakkai‘ bisa diikutkan kembali. Sehingga jika ada pihak keluarga yang masih ingin mengikutkannya kembali di dalam acara keluarga yang lain yang melaksanakan kegiatan Mangakkai‘, maka itu dibolehkan jika pihak keluarganya masih mau dan mampu untuk melakukan tradisi ini, ketika ada pihak keluarga lain yang baru dan akan melaksanakan tradisi Mangakkai‘ untuk dilakukan secara bersama-sama.

Tradisi ini juga memang dianggap sangat penting oleh masyarakat yang pada umumnya di Kecamatan Sumarorong dan Kecamatan Messawa Kabupaten Mamasa (Meskipun cara dan pelaksanaannya berbeda), tetapi maksud dan tujuan yang sama. Hal itu terlihat jelas di dalam kegiatan Mangakkai‘ ini, karena dalam pelaksanaanya ada penyebutan serta penjelasan tentang silsilah masing-masing keluarga almarhum dan almarhumah yang akan diakkai‘.

Sehingga dengan sendirinya, semua keluarga yang masih hidup bisa mengetahui dengan benar siapa-siapa saja keluarga mereka melalui para pendahulu-pendahulunya.

Terkuhusus tradisi Mangakkai‘ di Kecamatan Sumarorong, pelaksanaannya terkadang memakan waktu selama 3 hari 2 malam. Pada kegiatan awal dilakukan disiang hari diluar kampung dan harus di atas puncak perbukitan/gunung, yang disebut “Membuttu” dengan maksud dan tujuan untuk memanggil arwah para leluhur yang akan diacarakan (diakkai‘) hingga pada keesokan harinya. Kegiatan Membuttu bagi masyarakat disana dipandu oleh seorang pemangku adat yang disebut dengan “Tomammang“.

Kemudian pada sore harinya, dilanjutkan dengan kegiatan yang disebut dengan istilah “Pa’tomatuan“, dengan maksud dan tujuan untuk mempersaksikan serta memohon ijin kepada leluhur agar acara kedukaan yang terakhir ini bisa mendapat restu serta dapat diterima oleh para arwah leluhur yang akan dilakukan di rumah keluarga keesokan harinya.

Selanjutnya pada malam harinya lepas makan malam, dilanjutkan lagi dengan sebutan “Massusu” yang berarti mencari/menelusuri silsilah keluarga almarhum dan almarhumah, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu, yang nantinya akan turut ikut ambil bagian dalam acara mangakkai‘ esoknya.

Ketika keesokan harinya, di awal pagi kegiatan inti dari mangakkai’ pun harus segera dimulai. Mulai dari mengatur posisi binatang sembelihan berupa ternak Babi, hingga berakhirnya acara. Disinilah puncak dari acara tradisi mangakkai‘ yang menghabiskan dana hingga puluhan juta rupiah, karena dilihat dari banyaknya sarana dan prasarana yang dipakai, utamanya hewan ternak yang jumlahnya sangat banyak dan tidak pernah ditentukan batas maksimalnya.

Walaupun di dalam pelaksanaan tradisi ini, memang sudah ditentukan batas minimal hewan yang harus disiapkan yaitu minimal 5 ekor Babi, untuk memenuhi kebutuhan saat proses dan harus cukup saat berlangsungnya tradisi mangakkai’ tersebut. Namun sekali lagi, bahwa jumlah maksimalnya tidak pernah ditentukan selama itu tidak ganjil (Ganna’ Bali) saat acara puncak tradisi mangakkai’ itu.

Acara puncak ditandai dengan selesainya acara makan bersama, yang berarti acara kedukaan pun telah usai, namun acara selanjutnya belum berakhir. Pada keesokan paginya, kembali masih dilanjutkan dengan acara tradisi yang disebut “Ma’balik Daun” yang artinya mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas pertolongan serta kehendak-Nyalah sehingga bisa terselenggara dan suksesnya acara mangakkai‘ oleh keluarga.

Didalam acara tradisi Ma’balik Daun ini, diisi dengan ucapan syukur kepada Tuhan yang ditandai dengan banyaknya uang yang terkumpul pada saat acara terakhir yang disebut “Mamori“. Didalam “Mamori” biasanya pihak keluarga yang pernah mengalami sebuah mimpi, akan menceritakan kronologis mimpinya lalu kemudian diterjemahkan oleh pemangku adat kedalam arti yang lebih baik, agar tidak ada lagi pemikiran-pemikiran negatif tentang mimpi itu.

Hal itu biasanya membuat keluarga Yang lain untuk tergugah dalam memberikan sedekah kepada seorang pemangku adat “Tomammang” melalui sebuah pundi yang telah disiapkan ditengah-tengah keluarga.

Itulah sebagai salah satu ucapan terimakasih kepada pemangku adat yang telah melaksanakan seluruh rangkaian acara dalam tradisi mangakkai’ ini. Uang itu, berapa pun jumlahnya semua harus diambil oleh tetua atau pemangku adat yang telah melaksanakan kegiatan tradisi mangakkai’ itu hingga selesai. (**)

About EDITOR

Redaksi Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Surel: tayangssembilan@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Check Also

Satgas Covid-19 PWNU Sulbar Bagikan 500 Masker bagi Para Pekerja Informal di Polman

POLEWALI, TAYANG9 – Bertempat di Pasar sentral Pekkabata Kota Polewali, Kabupaten Polewali Mandar, Tim Satuan …

Corona Membawa Hikmah

“Ada Cinta Allah Dalam Setiap Musibah” Buya Yahya PENYEBARAN virus corona atau covid-19 di Indonesia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]