ABDUL MUTTALIBKOLOM

Tersesat Kembali

DAKU terbilang lemot alias lemah otak. Biasanya usai saling mengenalkan nama disertai uluran tangan. Jelang berpisah biasanya daku kembali menanyakan nama.

Proses kembali seperti itu tentu tidak mengenakkan, karena bisa jadi cap “aneh” telah ditempelkan ke jidat. Belum termasuk proses kembali ketika tersesat di rimbun makna ketika membaca buku, biasanya daku bergegas kembali ke sub judul terdekat buat cari selamat.

Tidak usah ditanya, proses kembali itu mengganggu apa tidak. Karena dengan gamblang daku berujar: sungguh terlalu. Sebagaimana proses kembali yang juga menimpa temanku, ketika ia tertidur pulas di atas bus hingga kota tujuannya terlewat.

Betapa tidak etis jika temanku beranjak ke samping sopir dan meminta busnya kembali mengantar ke tujuannya, setelah tersesat jauh ke dalam kota yang sama sekali tidak dikenalinya. Proses kembali itu pernah juga daku dengar dari seruan pengkhotbah di masjid yang masih jarang daku kunjungi.

“Jika merasa tersesat, segeralah kembali ke jalan yang benar,” seru pengkhotbah.

Walau tidak hanya diganggu kata “kembali” melainkan ikut disengat kata “merasa”. Karena seringkali daku tersesat tapi tidak sampai “merasa” tersesat untuk bergegas kembali menggiring nafsu yang terkadang seliar banteng.

Proses kembali yang sepertinya tidak hanya bermodal keberanian, tapi ternyata ikut dikuatkan iman. Iman untuk mengekang liarnya nafsu. Iman yang sayangnya, belum daku miliki saat ini.

ABDUL MUTTALIB

pecinta perkutut, tinggal di Tinambung

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button