Monday , December 9 2019
Home / GAGASAN / Romli, Sisi Lain dari Konferwil III NU Sulbar
Perbincangan sejumlah generasi muda NU disela acara Konferwil III NU Sulbar yang dihelat di Ponpes Ihyaul Ulum DDI Baruga Majene

Romli, Sisi Lain dari Konferwil III NU Sulbar

IBU kantin sibuk mengaduk kopi. Kali ini kantinnya begitu ramai oleh pengunjung dan itu tidak seperti biasanya. Tampak mereka rata-rata berkopiah hitam dan tak jarang malah tampak pirrumbu ta’bas (mengepulkan-red) asap rokoknya.

Pemandangan orang-orang sesak dan ramai itu, tidak saja di kantin itu, tetapi nyaris di semua titik lokasi yang ada dalam area Pondok Pesantren (Ponpes) Ihyaul Ulum DDI Baruga Majene ramai oleh orang pakai kopiah hitam tentu saja lengkap dengan sarung, dan tak tak sedikit yang bergaya dengan tampilan jeansnya. Ada yang rapi, tapi tak sedikit pula mare’ma (tak rapi-red).

Romli alias Rombongan Liar. Begitulah mereka menamai dirinya. Romli ini jelas bukanlah peserta resmi dalam acara-acara yang biasa dihelat oleh Nahdlatul Ulama (NU).

Yah begitulah acara NU, tidak lengkap tanpa kehadiran Romli. Tak terkecuali pada perhelatan Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Sulawesi Barat ke-tiga yang sesuai schedule akan berlangsung mulai tanggal 15 hingga 16 Juli 2019 besok.

Setiap acara atau forum keputusan di NU selalu dihadiri Romli. Mulai dari acara tingkat bawah sampai yang tertinggi sekelas muktamar, Romli dipastikan selalu hadir. Bahkan jumlah mereka lebih banyak dari peserta forum.

Bahkan sewaktu Muktamar Jombang yang digelar 2015 lalu jumlahnya bahkan jutaan orang, kalah jauh, bandingannya dengan jumlah peserta penuh. Begitu juga pada Konferwil kali ini.

Peserta penuh hanya beberapa orang saja, tetapi Romli memenuhi hampir semua titik lokasi kegiatan. Mulai dari acara pembukaan yang dilaksanakan di Rujab Bupati Majene sampai di lokasi inti Konferwil di Ponpes Ihaul Ulum DDI Baruga Majene.

Dalam konstitusi NU tidak ada istilah Romli, pun mereka tidak punya kekuatan atau suara dalam forum, seperti yang berlangsung saat ini. Namun Romli ini pun lebih rajin bahkan kelihatan jauh lebih bersungguh-sungguh hadir, mempersiapkan dirinya jauh hari untuk hadir di berbagai forum NU, sementara mereka tidaklah punya hak suara dalam forum.

Yah begitulah Romli, semakin tahun semakin ramai. Di setiap acara NU selalu hadir. Apa yang mereka harapkan dari setiap kehadiran pada forum NU?

Romli hadir diantaranya karena berharap Berkah dari para ulama, berharap dapat ilmu dari forum-forum diskusi yang tercipta di luar forum Konferwil. Ada juga romli yang memanfaatkan momentum ini untuk membeli oleh-oleh khas NU dan seabrek alasan lainnya.

Yang pastinya, Romli punya harapan besar atas Konferwil ini. Berharap kepengurusan NU Sulbar ke depan bisa amanah mengurus organisasi yang didirikan oleh para ulama ini. Romli tentu berharap, pengurus yang terpilih itu, adalah mereka yang telah memiliki rekam jejak sebagai kader NU yang jelas dan memiliki kedalaman ilmu tentang Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan Ke-NU-an itu sendiri.

Akhirnya, penulis sekaligus mewakili para Romli mengucapkan, selamat atas penyelenggaraan Konferwil NU Sulawesi Barat, semoga harapan dan cita-cita warga NU se-Sulbar bisa diwujudkan oleh pengurus yang terpilih ke depan.

About SUDIANTO MAHMUD

Wakil Sekertaris GP Ansor Polewali Mandar juga penggiat kajian pendidikan dan keislaman

Check Also

Setulus Senyum Guru PAUD

WAJAHNYA tak pernah lepas dari senyum, selalu mengembang manis dihadapan anak-anak didiknya. Suasana hatinya selalu …

Cerita Gunung Tasik Manau’

PANAS terik cukup menyengat dikulit. Aroma khas tandang kelapa sawit sisa pengolahan dari pabrik, seperti …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]