Thursday , November 14 2019
Home / GAGASAN / Noena Dewi Hardianti
ILUSTRASI Puisi Noena Dewi Hardianti

Noena Dewi Hardianti

entah bagaimana
kita bisa berhadap-hadapan
di satu meja perjamuan
lilin meredup di atasnya
hanya ada satu gelas
terisi setengah air putih

aku haus, katamu
aku juga begitu, kataku
sambil memandangi gelas itu

entah siapa yang akan minum
tak ada mulut benar-benar terbuka
yang banyak mulut menganga
kata seorang pelayan yang sejak tadi memeriksa bola matamu

nyala api dari lilin tak menyambar
asapnya merayapi wajah
segelembung nyusup ke liang hidungku
aku menahan bersin
agar lilin tak padam
dan wajahmu terhindar dari kotoran bau mulutku

adat kita memang begitu
di hadapan orang kalaupun bersin
mulut segera ditutup, katamu

api lilin di meja perjamuan
akhirnya padam juga
entah karena udara kencang
atau sumbunya telah jadi abu

dalam gelap
kulihat bayangan menyumbat mulutmu
aku berteriak
tapi jangankan suara
ngiangpun tak juga keluar dari mulutku

di meja perjamuan
tiba-tiba kita jadi bangkai
dan anehnya kita saling berebut makan

tanpa satu kata, meja ditinggalkan
pulang dengan harga diri sudah sangat ringan

Galeso, Juli 2019

About SYUMAN SAEHA

Lahir di Campalagian 17 Agustus 1975 Menulis puisi sejak usia 15 tahun. Selain puisi juga menulis cerpen dan naskah lakon. Menekuni dunia teater sejak tahun 1997. Dan sekarang berkecimpung di teater PALATTO. Karya-karyanya yang sudah dibukukan, Interogasi, kumpulan cerpen bersama (2015), Requiem Terakhir, kumpulan puisi bersama (2016) dan antologi puisi tunggalnya, Bayi Langit (2016)

Check Also

Pahlawan untuk Dirimu

ENTAH apakah kabar itu benar adanya, sebuah postingan yang diupload oleh seseorang yang memberitakan, jika …

Kursi dan Kabinet

BEBERAPA hari sebelum pengumuman dan pelantikan kabinet Indonesia Maju, saya dan bersama anda, boleh jadi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]