Thursday , January 23 2020
Home / GAGASAN / Setulus Senyum Guru PAUD

Setulus Senyum Guru PAUD

WAJAHNYA tak pernah lepas dari senyum, selalu mengembang manis dihadapan anak-anak didiknya. Suasana hatinya selalu ceria berbalut gembira, saat bermain bersama dengan anak-anak didiknya. Dia bermain dengan ragam pembelajaran, sebagai metode belajar untuk mengenal tentang diri, alam disekitar bahkan tentang jagad raya yang luas ini.

Terkadang ada rasa lelah menyerangnya, namun dia sembunyikan dengan senyuman manis yang tersungging, agar selalu nampak rasa bahagia dihadapan anak didiknya disepanjang waktu. Dia tak ingin anak-anak didiknya menjadi kaku dan bingung, ketika senyum manisnya berubah menjadi kecut.

Dan begitupun dengan nada suara yang keluar dari bibirnya, seperti irama yang selalu saja menyiram kelembutan sekaligus menyejukkan. Dirinya bak tiada cela rasa bosan yang hinggap di tiap tingkahnya.

Saya memberanikan diri untuk lebih dekat, mencoba menyelami lautan senyum yang menyejukkan itu. Tentu saja kami saling menyapa, sebagai awal untuk membuka cerita. Agar tak terkesan kaku, saya memanggilnya dengan sebutan adek saja.

Dia kemudian berkisah tentang kecintaannya terhadap dunia anak-anak. Dalam tuturnya pun dia berkisah tentang alasan-alasan sehingga dia memilih menjadi pendidik Anak Usia Dini sebagai profesinya.

Pengalaman tentang suka dan haru menjadi seorang guru PAUD pun dia urai, menjadi cerita yang sangat asyik untuk didengarkan. Ada beberapa bait cerita haru yang langsung begitu saja mengalir dari bibirnya. Dan mungkin itu sebuah kejujuran, namun baru kali ini tersampaikan.

Dari cerita itu, saya kembali jadi banyak tahu tentang bagaimana perjuangan seorang guru PAUD, yang kadang harus menepiskan ego, dituntut kreatif, dan mesti memaksimalkan kesabaran dan keikhlasan.

Walau kisah itu ada rasa haru, tapi sekali lagi senyumnya tak pernah berubah, tetap hangat dalam sapaan dan menyejukkan hati. Ia tetap setia melebarkan senyum, walau tuntutan dan beban besar dipundak, sebagai peletak dasar pendidikan awal bagi anak bangsa di negeri ini.

Tak sedikit orang yang menganggap guru PAUD adalah sebuah profesi yang menjadi pilihan pelarian saja. Profesi guru PAUD dianggap sedikit norak, tidak kreeeenn tak seperti guru ditingkatan dasar ataupun menengah, kurang gaul sebab hanya bersama dengan anak kecil, tiap hari hanya bernyanyi dan bertepuk tangan saja.

“Saya sangat senang jadi guru PAUD Kak, bisa bermain sambil memberi pelajaran kepada anak-anak..!! “, Perempuan ini sepertinya ingin menegaskan kepadaku, jika profesinya sebagai guru PAUD itu sangatlah penting dan memiliki andil besar bagi pendidikan generasi di masa “golden age” mereka.
“iyakah…??? ” jawabku, seperti ingin lebih jauh memahaminya.
“Iya Kak, makanya sampai sekarang saya tetap senang jadi guru PAUD disini”. Saya mengangguk dan tersenyum saja, sebuah penghargaan untuk semangatnya.

Saya teringat dengan cerita seorang kawan beberapa waktu lalu. Jika umumnya orang tua yang memasukkan anaknya di sekolah PAUD, selalu menginginkan anaknya begitu lulus sudah bisa “calistung” alias sudah mampu membaca, menulis dan berhitung. Padahal berdasar surat edaran Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah nomor 1839/C.C2/TU/2009, menegaskan bahwa tidak diperbolehkan mengajarkan calistung pada anak usia dini. Lah regulasinya dah ada.

Hanya saja yang terjadi, justru calistung menjadi tuntutan para orang tua serta menjadi syarat saat penerimaan siswa baru di sekolah dasar. Mereka para lulusan PAUD harus bisa baca tulis, sebab untuk masuk ada tes yang akan dijalani sebelumnya agar bisa menjadi siswa dijenjang dasar itu.

“Itu kadang menjadi beban bagi kami guru PAUD kak, lain sisi kami harus menerapkan metode bermain sambil belajar, tapi orang tua kadang menimpa kesalahan ke kami, jika ada anaknya tidak bisa membaca, menulis atau berhitung”
Ada gurat kesal terlihat diwajahnya, tapi buru-buru tertutupi dengan senyum. Mungkin dia sedikit lega telah berbagi beban kepada saya.

Dari cerita itu, sangatlah penting memang cara berfikir atau mindset orang tua siswa PAUD untuk diberi edukasi. Seperti saat-saat dikegiatan parenting bersama, ataukah ketika kunjungan tempat tertentu yang melibatkan orang tua dalam hal pengasuhan.

“Kak, kira-kira nilai Akreditasi untuk sekolah PAUD ku nanti gimana kak, karena sekolah kami seperti ini mi adanya ..?”, tanyanya dengan sedikit mengulum senyum. Dia sepertinya ingin buru-buru tahu hasil penilaian hari ini.

“ini masih tahap proses, masih ada tahapan berikutnya. Saya hanya sebatas mencatat, merekam dan memotret seluruh proses performance pembelajaran saat kita mengajar tadi”

“Deh… Kita rekam ka’ tadi Kak,..? jadi maluka ini, aaaisshhhh,..!!!, tapi bagusji caraku mengajar tadi Kak nah…??,

Saya tak menjawab, saya hanya melempar senyum sembari mengambil gambar beberapa aktivitas. Saya hanya membatin, yang bisa saya beri nilai hari ini bukanlah sekolahmu, melainkan Nilai untuk senyummu yang tulus sebagai guru PAUD kepada anak didikmu dan juga kepada saya.

“Tersenyumlah dengan setulus hatimu, maka semesta disekitarmu pun akan menjadi bahagia”

Ahhhhh.. Kira kira Nilai apa yang akan saya berikan untuk senyum itu…??

About SULHAN SAMMUANE

Selain Menulis dirinya juga dikenal aktif sebagai pemerhati pendidikan anak usia dini

Check Also

“Ada” Gusdur di Jalan Pemuda

Oleh : Muh.Wahyu Hidayat Akhir-akhir ini, di penghujung tahun terjadi akan sebuah fenomena tsunami informasi, …

Rindu Orde Baru di Era Milenial

DEMOKRASI subtansinya dari rakyat untuk Rakyat, rakyat memilih pemimpinnya secara lansung dan juga memilih wakilnya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]