KOLOMMS TAJUDDIN

Kreatif

SEDIKITNYA lima belas orang anak muda gondrong tanggung tengah asyik berbincang. Kebanyakan dari mereka yang mengenakan baju kaos oblong hitam bertuliskan Workshop Produksi dan Penayangan Konten Kreatif Media.

Siang itu, Sabtu 08 Januari 2022 di Wonomulyo, di tengah mereka ada sosok berkacamata minus sedang serius menjelaskan ihwal terkini tentang dunia kreatif yang berbasis digital dengan beragam varian dan platformnya. Dialah Anto Lupus, seorang lelaki sepuh yang telah malang melintang dalam dunia kreatif yang oleh lima belas pemuda kreatif ini memanggilnya Om Anto, termasuk saya tentu saja.

Om Anto yang alumnus jurusan Perporming Art negeri Paman Syam itu, dulu tatkala saya masih berstatus anak putih abu mengenalnya melalui berbagai tulisan dan karya kreatifnya yang kemudian difilemkan dan berjudul Lupus.

Kala itu, Lupus menjadi satu-satunya filem kegandrungan anak muda di usia saya. Setelah perjalanan puluhan tahun berlalu, sosok penulis cerdas, kreatif dan brilliant yang ada di belakang filem itu, kini hadir lebih intim di hidup saya. Juga di dalam hidup dan kegelisahan kreatif anak muda millenial Polewali Mandar bahkan Sulawesi Barat.

Ia hadir menemani dan bersetia mengawal kegelisahan para pemuda, di tengah era yang kian intens berasyik masyuk dengan dunia digital yang kecepatan perubahannya tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Membuat sebagian pihak gagap dan hanya bisa melongo dan ternganga meresponnya.

Hidup mau tidak mau, cepat atau lamban, sepakat atau tidak sepakat, serius atau main-main, memuatlakkan kita meresponnya dengan segenap kesiapan. Kesiapan yang boleh jadi, sangat terletak pada kedisiplinan, laku arif, serta kemampuan membaca tanda dan petanda, juga membaca diri tempat tanah tempat kaki kita berpijak.

Nah soal tanah tempat berpijak inilah, yang kepada anak-anak muda itu saya banyak belajar, bahwa era kikinian yang sungguh adalah milik mereka itu tantangan dan problemnya luar biasa hebatnya. Karena mereka tidak hanya berpijak di atas tanah dengan lipatan sejarah dan spektrum sosial seni budayanya yang beragam.

Tetapi sebagaian kaki, bahkan separuh hidup mereka juga tengah berada di dalam dunia internet dan sosial media dengan beragam platform dan variannya. Dunia yang ada namun tiada. Dunia yang syarat dengan kecepatan, presisi dan kalkulasi saintik. Dunia yang penuh dengan tipu muslihat, hoax, bully dan cacian juga makian.

Dunia yang juga menyadarkan kita, betapa jejak digital terkadang jauh lebih berbahaya dari jejak tapak kaki kita di tanah. Tanah yang dulu ditata kelola oleh leluhur kita yang begitu ikhlas dan juga santun, dimana lelaku hidupnya setia disandarkan pada kesadaran uluhiah.

Pertanyaannya kini, mungkinkah jejak-jejak kita di internet, juga bisa kita kelola baik dan ditata berdasar pada kesadaran uluhiah? Sebab jika tidak, ruhaniah kita tidak akan menjadi lebih sehat dan jernih ditengah era 4.0 yang sisa satu kali enter lagi kita telah berada di era 5.0.

Saat catatan ini saya tulis, saya tengah berada di depan laptop menulis ini seraya membayangkan, bahwa kini hidup juga harus selalu dicharger jika tak ingin lobet dan limbung menghadapi era dan dunia kreatif yang kian tak terpermanai dan dikerubuti rivalitas yang kadang brutal.

Tentu saja dengan tetap berideologikan kebaikan. Sebagimana tugas utama hidup kita hanyalah menjadi hamba Tuhan, dan karenanya harus ikut mensifati sifat Tuhan yakni berlaku baik, arif dan bijak. Tidak terkecuali di dalam dunia internet sekalipun. Bismillah mari tekan enter om!


Catatan ini telah dimuat di Kolom Rinai Kata Koran Harian Sulbar Express Edisi Senin 10 Januari 2022

MS TAJUDDIN

belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: