GAGASANOPINI

Kita Selamat Karena Keberuntungan; Cerita Korban Gempa Majene

Gempaaa!! Gempaaa!! Begitu teriakan orang-orang yang sambung-menyambung. Mendengar itu, saya yang sedang jaga toko bergegas keluar sambil memanggil keluarga yang masih di dalam rumah (Toko dan rumah saya bersambung).

Di saat itu pula warga di kampungku, yang tengah dibalut rasa was-was berkumpul di jalanan untuk menjaga jarak dengan bangunan. Selang beberapa menit, gempa terjadi lagi dan yang ini terasa lebih kuat. Tak ada toleransi lagi untuk berleha-leha, warga lari berduyun-duyun menuju tempat yang lebih tinggi membawa apa yang sempat dibawa, itu karena kampung saya berada di pinggiran laut.

Menurut informasi BMKG, gempa ini berkekuatan 5.9 SR berpusat di Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Sekitar 50 KM dari kampung saya. Terjadi pada kamis siang, 14 Januari 2021.

Beberapa jam berlalu ketika sebagian besar warga sudah berada di pengungsian, beberapa kali saya mendapat kiriman gambar di grup WhatsApp mengenai kondisi kecamatan Malunda. Terlihat banyak rumah yang rusak dan fasilitas umum seperti Puskesmas dan Sekolah
12 jam setelah gempa kedua.

Dini hari saat sebagian pengungsi terlelap, gempa terjadi lagi dan yang ini terasa lebih lama dan kuat. Para pengungsi berhamburan keluar. Listrik yang padam menambah suasana cekam. Menurut BMKG, gempa ini berkekuatan 6.2 SR dengan durasi 7 detik di pusat yang sama.

Saya segera lagi-lagi dikirimi gambar kondisi terkini Malunda, terlihat kerusakan bertambah, Sekolah-Sekolah dan Puskesmas tambah rusak, dan jumlah rumah warga yang roboh pun bertambah. Di kabupaten Mamuju -tetangga kabupaten Majene-, Kantor Gubernur, Hotel, Mall, Rumah warga dan Toko-Toko roboh. Batinku, Ini gempa mengerikan.

Esoknya, Ekskavator-eskavator dikerahkan mencari korban yang masih berada dalam timbunan tembok dan beton. Empat hari dalam proses pencarian itu telah terlapor korban meninggal yang ditemukan sudah mencapai 85 orang. Dan tercatat kurang lebih 1500 rumah warga dan fasilitas umum rusak. Syukurlah korban meninggal tidak sebanyak gempa-gempa kuat lainnya padahal kerusakan yang ditimbulkan cukup parah. Namun, kematian tetaplah tragedi sekalipun yang meninggal hanya satu orang.

Menurut BMKG, Gempa yang mengguncang wilayah Kabupaten Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat merupakan jenis Gempa Tipe 2. Gempa jenis ini dicirikan dengan adanya serangkaian aktivitas gempa pembuka (foreshocks) yang mendahului sebelum terjadinya gempa utama (mainshock) dengan kekuatannya paling besar, selanjutnya diikuti serangkaian aktivitas gempa susulan (aftershocks).

Namun, bila kita bayangkan sekitar jam sepuluh pagi di saat ribuan anak sekolah duduk di kelas, Kantor-Kantor ramai pegawai, para tenaga kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit ramai lalu lalang melayani pasien-pasiennya, di Mall dan Pasar ramai pengunjung, di rumah-rumah para ibu rumah tangga memasak dan mengurus balitanya. Di saat suasana yang tenteram itu tiba-tiba gempa kuat terjadi tanpa didahului gempa pembuka, dan merobohkan bangunan-bangunan tadi yang sedang ramai-ramainya, dipastikan banyak orang-orang yang tak siap lari. Dan tentunya banyak yang kena reruntuhan.

Maka, beruntunglah kami sebab gempa pembuka yang lebih dulu menghantam kami seakan jadi warning agar segera meninggalkan rumah karena akan ada gempa utama yang lebih besar. Sehingga, di saat gempa utamanya terjadi, banyak warga yang sudah tak tinggal di rumah sehingga selamat dari reruntuhan bangunan. Ini artinya, kami sebagian besar selamat bukan karena sistem dan teknologi keselamatan kita yang canggih melainkan keberuntungan semata.

Saya membayangkan yang tidak-tidak ini bukan karena tidak empati (justru ini sangat empatis). Saya sedang menawarkan skenario buruk agar kita bisa mengantisipasinya karena tidak menutup kemungkinan itu bisa terjadi lagi. Dan akan terjadi lagi mengingat Indonesia adalah negara rawan gempa. Terkhusus di Sulawesi terhitung ada 44 sesar aktif.

Bayangan-bayangan buruk yang saya jelaskan tadi sebenarnya sudah terjadi. Mungkin, kita masih ingat bagaimana Bantul digoyang bumi berkekuatan 6.4 SR selama 53 detik, kemudian membunuh kurang lebih 6000 orang. Ini terjadi karena rumah-rumah tidak didesain untuk tahan gempa.

Bapak saya sudah mengalami tiga kali gempa kuat, semuanya terjadi di Majene yakni gempa tahun 1969, 1984 dan terakhir 2021. Sepanjang pengalamannya diguncang bumi itu, ia menyaksikan ketangguhan rumah kayu.

Bapak saya sependapat dengan Pak Daryono, Kordinator Bidang Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG, malah Pak Daryono menyarankan agar orang Indonesia yang tinggal di daerah rawan gempa memakai rumah berbahan kayu saja. Namun jika masih memilih rumah tembok, yah, yang tahan gempa saja, namun itu relatif mahal.

Saya sendiri sudah menyaksikan ketahanan rumah kayu. Seminggu pasca gempa. Dalam misi kemanusiaan, saya berkunjung ke kampung-kampung yang dekat dengan pusat gempa. Saya perhatikan kebanyakan rumah panggung berbahan kayu masih berdiri kokoh. Ada juga rumah panggung yang berdiri tegar sementara rumah berdinding batu bata yang ada di sekelilingnya ambruk, seakan rumah kayu itu berkata, akulah yang tertangguh.

Tapi, saya sebenarnya penasaran seperti apa rumah tahan gempa yang disebutkan Pak Daryono itu? Bukan cuma saya, tapi mungkin hampir semua orang penasaran. Sepertinya rasa penasaran ini adalah wujud jarangnya pemerintah mensosialisasikan rumah standar tahan gempa. Rasa penasaran ini kemudian memantik saya untuk Googling.

Perkelanaan saya di Google dalam menghimpun informasi seputar rumah tahan gempa ternyata membawa saya pada kesimpulan bahwa dalam hal konstruksi rumah tahan gempa kita bisa sedikit mencontoh jepang. Pemerintah Jepang telah membuat undang-undang rumah tahan gempa. Dimana, rumah-rumah di Jepang harus dibangun dengan standar tahan gempa. Sementara di Indonesia pembangunan rumah cenderung ngasal karena tak ada pengawasan.

Salah satu bukti mutakhir kelalaian pemerintah dalam mengawasi warganya perihal membangun rumah, kita bisa lihat banyaknya orang membangun rumah tanpa mempertimbangkan perspektif tanah dengan teliti. Pada gempa Bantul tahun 2006 letak kerusakan terbesar tidak berada di sekitar episenter, melainkan di tanah endapan. Pun gempa Palu tahun 2018 kerusakan terbesar juga terjadi di tanah yang tidak terkonsolidasi dengan baik. Jika tak ada edukasi masif perihal ini, akan banyak rumah yang dibangun di atas tanah labil yang kemudian membahayakan para penghuninya.

Sementara itu, dunia pendidikan kita juga tak menaruh perhatian serius terhadap mitigasi kebencanaan. Padahal lembaga pendidikan merupakan sistem yang sangat mendukung untuk melakukan itu.

Saya sendiri adalah ulumnus fakultas pendidikan di salah satu kampus swasta di Makassar, jadi saya dicetak kampus untuk jadi tenaga pendidik. Selama menjalani masa studi itu, hampir tak pernah saya dapatkan dari kampus pengetahuan mengenai langkah-langkah menghadapi bencana.
Sebagai calon pendidik, semestinya saya wajib dijejali pemahaman mengenai antisipasi kebencanaan, agar saat terjun ke sekolah saya bisa mengajarkannya pada para siswa.

Ini sangat bagus. Bayangkan saja, angkatan saya yang jumlahnya sekitar ratusan orang sudah memahami mitigasi kebencanaan kemudian menyebar ke daerahnya masing-masing, mereka mengajar di sekolahnya, mengajari siswa-siswanya tentang mitigasi kebencanaan, kemudian saat siswa pulang ke rumahnya ia bisa membagikan pengetahuan kebencanaan ke orang tuanya, atau ke keluarganya yang lain. Nah, bukankah ini mekanisme penyebaran pengetahuan mitigasi kebencanaan yang sangat bagus karena lanskap penyebarannya luas ? Sayangnya, peran lembaga pendidikan kita masih sangat minim.

Kita bisa dengan mudah tes pemahaman para guru tentang dunia keselamatan. Kita bisa menanyai mereka bagaimana cara menyelamatkan orang yang sedang tenggelam? Saya yakin, kebanyakan dari mereka akan geleng-geleng kepala, atau jangan-jangan mereka sendiri tak tahu berenang? Nah, bila guru saja gagap menghadapi potensi bahaya bagaimana dengan siswa-siswanya.

Terkahir, sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita membiarkan kerancuan-kerancuan ini? sampai kapan keberuntungan tak lagi berpihak pada kita yang kemudian membuat korban bertambah banyak?

MUHAMMAD GUFRAN

Sarjana biasa-biasa yang kebetulan hobi menulis.

Related Articles

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button