Friday , August 23 2019
Home / ADVETORIAL / Habsi Wahid dan Cahaya Mandar Berkibar di Festival Sandeq Race 2019
Perahu sandeq Cahaya Mandar yang sukses menjadi jawara di gelaran Festival Sandeq Race 2019.(Foto :HMS)

Habsi Wahid dan Cahaya Mandar Berkibar di Festival Sandeq Race 2019

Mamuju – Tayang9 – Perahu sandeq Cahaya Mandar yang disponsori oleh Bupati Mamuju Habsi Wahid berhasil memimpin Etape ke IV Deking-Mamuju, pada pelaksanaan Festival Sandeq Race Sulawesi Barat 2019 yang mengangkat tema “Lautmu Hidupku” Kamis,15/08/19.

Dinobatkannya perahu sandeq Cahaya Mandar yang disponsori oleh Habsi Wahid sebagai pemenang, setelah sukses mengungguli lawan-lawannya.yakni Mandala Bintang Timur, yang di sponsori oleh Kemenpora Imam Nahrawi menempati posisi kedua. Sementara posisi ketiga ditempati oleh Merpati Putih disponsori oleh Sekda Provinsi Sulawesi Barat Muhammad Idris, ke empat AIM Benar yang di sponsori oleh Bupati Polewali Mandar Andi Ibrahim Masdar, serta menyusul Diposisi Kelima Cahaya Reski yang disponsori oleh BKKBN Sulawesi Barat Rita Mariani.

Bupati Mamuju yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Suaib dalam sambutannya, menyampaikan ucapan selamat datang  Bumi Manakarra,pada semua peserta lomba dan Selamat kepada para pemenang.

“Festival Sandeq Race atau yang kita kenal dengan lomba perahu Sandeq yang sudah berlangsung puluhan tahun di tanah Mandar ini dan menjadi salah satu budaya maritim yang menarik dan elok di tonton. Lomba perahu layar tradisional Mandar ini sudah terkenal ke penjuru dunia dan masuk dalam daftar 100 event Nasional, karenanya Festival ini harus terus kita pertahankan dan tingkatkan sebagai salah satu kearifan lokal di Tanah Mandar,” ucap Suaib.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat Farid Wajdi, mengaku sangat mengapresiasi dan berterimakasih pada Pemkab di 5 Kabupaten, khsususnya Mamuju, karena telah memberi support terhadap pelaksanaan sandeq race.

“Saya mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah di lima Kabupaten Sulbar terkhusus Kabupaten Mamuju yang banyak mensupport pelaksanaan kegiatan ini” ungkap Farid Wajdi.

Selain itu ia juga menambahkan, bahwa gelaran festival sandeq harus tetap dipertahankan, mengingat hal tersebut merupakan warisan budaya masyarakat mandar yang memiliki keunikan dan tidak ada duanya.

“Sandeq Race ini harus kita pertahankan, yang pertama ini adalah satu-satunya warisan kebudayaan masyarakat mandar, yang paling unik dan tidak ada duanya di seluruh dunia,dan kalau bukan kita yang melestarikan siapa lagi. Sudah banyak peneliti yang datang mempelajari Sandeq, kita akan mengatakan bahwa Sandeq akan hidup di Sulawesi Barat” tutupnya.

Untuk diketahui, festival Sandeq Race Sulawesi Barat 2019. resmi dimulai di Kabupaten Polewali Mandar, di Pantai Bahari 08 Agustus 2019 lalu, yang di dahului pelaksanaan lomba segitiga Polewali. Denga rangkaian keseluruhan pelaksanaan di Tanggal 07 – 16 Agustus 2019, yang terdiri dari Empat etape diantaranya etape I Polman-Majene, etape II Majene-Sendana, etape III Sendana-Deking dan etape IV Deking-Mamuju.(HMS/FM)

About MASDAR

lahir dari keluarga petani, dan kini tengah serius menjadi seorang jurnalis dan penulis baik.

Check Also

Ombudsman Sulbar Buka Pos Pengaduan di Kecamatan

Mamuju – Tayang9 – Dalam rangka memaksimalkan proses tindaklanjut penanganan pengaduan masyarakat, tim Penerimaan dan …

Di Forum Muktamar, PKB Mamasa Dorong Percepatan Pembangunan Daerah

Polewali – Tayang9 – Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Mamasa, dipastikan akan tetap …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]