Monday , December 9 2019
Home / BERITA / Bulan Agustus, Harapan “Polman Jago” di Jalan Poros Lenggo

Bulan Agustus, Harapan “Polman Jago” di Jalan Poros Lenggo

NURJANNAH tentu saja tidak pernah menduga sebelumnya. Derita sakitnyalah kemudian akan menjadi jalan baginya untuk menakar begitu tebalnya nilai kebersamaan dan naluri kepekaan sosial keluarga dan masyarakat disekitar tempat ia tinggal.

Tak tanggung-tanggung, pagi itu jarum jam menunjuk angka 08.00 pagi bermodalkan batangan bambu menjadi alat tandu seadanya, perjalanan perih luka sakit yang dideritanya kembali mencari titik celah kesembuhan. Tentu saja bernama harapan dan semangat untuk melanjutkan kehidupan dalam kondisi yang sehat.

Pagi itu, selasa pagi 13 Agustus 2019 secara bergantian masyarakat yang dilewati dengan setia menunggu di sejumlah titik penantian untuk saling bergantian memandu dirinya yang terdiam dalam lesu bersama derita sakit di atas tandu bambu yang seadanya itu.

Awalnya,  Nurjannah diantar  menggunakan kendaraan bermotor sampai di perbatasan Jalan Poros Lenggo. Namun sisanya dirinya harus ditandu oleh keluarga dan sejumlah masyarakat.

“Yang terlibat mengangkut orang sakit tidak sedikit, sekarang saja melibatkan 30 orang. Mungkin yang terlihat hanya beberapa orang, tapi sebenarnya masyarakat membagi diri di beberapa titik. Mereka bergantian mengangkut, ketika tiba di titik tempat mereka menunggu, maka bergantianlah mereka mengangkut ibu saya,” ungkap Ayub anak Kandung Nurjannah kepada media ini.

Ungkap Ayub, jarak jalan poros lenggo menuju rumah Nurjannah di Dusun Tanete sekitar 25 Km.

“Saya bersama masyarakat memulai memandu sekitar pukul 08.00 dan tiba pukul 14.00. Artinya butuh waktu sekitar enam jam perjalanan mengangkut Ibu kami untuk bisa sampai”.

Lanjut Ayub, begitulah masyarakat Lenggo dari dulu, bertahun-tahun lamanya kalau ada yang sakit masyarakat saling membantu mengangkut dan memandu. Mulai dari yang sakit parah dan butuh tindakan medis segera, sampai orang meninggal seperti yang juga terjadi baru-baru ini.

“Alhamdulillah, suatu kesyukuran operasi pengangkatan tumor rahim ibu kami, berhasil dan berjalan lancar. Walau kini, masih dalam tahap pemulihan, setelah melakukan operasi di rumah sakit Polewali Mandar,” bebernya dalam nada sedih.

Selanjutnya, masih menurut Ayub, yang dipersiapkan keluarga adalah bagaimana Nurjannah bisa pulang ke rumahnya di Desa Lenggo Kecamatan Bulo.

“Desa Lenggo yang berbatasan dengan Mambi Kabupaten Mamasa dikenal karena kondisi jalannya yang rusak parah. Jangankan kendaraan roda empat, motor saja sulit untuk bisa melewati jalan poros Lenggo,” beber Ayub.

Dikatakan Ayub, butuh keahlian khusus dalam mengendarai motor ketika melewati jalan di daerah Lenggo, sehingga ketika ada orang sakit harus ditandu agar bisa melewatinya.

Bahkan dikisahkan Ayub, baru-baru ini viral pula di sosial media video yang diunggah di Facebook oleh Akun “Masdar Dahlan Nitzz”. Tampak masyarakat Lenggo memandu almarhumah Jala yang meninggal di salah satu rumah sakit di Makassar.

Kejadian itu terjadi, Senin 12 Agustus belum lama ini, sesampainya Jala di jalan poros Lenggo, masyarakat sambil berlari memandu almarhumah menuju kerumahnya.

“Kalau orang meninggal kami berlari memandunya. Perih hati melihat saudara apalagi orang tua sendiri yang sangat sulit mendapatkan pelayanan fasilitas kesehatan. Harus ditandu dengan jarak yang jauh, belum lagi kondisi jalan yang terjal dan mandaki yang harus dilalui. Padahal mereka yang sakit segera membutuhkan tindakan medis,” urai Ayub.

Harapan besar masyarakat Lenggo hemat Ayub, kiranya pemerintah serius memperbaiki jalan yang hampir setiap hari mereka lalui itu.

“Saya berharap Pemerintah Polman khususnya Bupati serius memperhatikan kondisi kami,” tambah Ayub.

Terakhir, Ayub menyampaikan bahwa Meski terbilang pelosok di kabupaten Polman, mereka juga sangat mengidamkan untuk menikmati “Jago” sebagaimana orang Polman kebanyakan membanggakan pelayanan Pemerintah Kabupaten Polman yang mengusung jargon “Polman Jago”.

“Tentu “Jago” nya Polman bukan hanya untuk dinikmati oleh mereka yang di perkotaan. Mereka yang di pelosok juga ingin menikmati pelayanan yang baik. Sehingga Ayub berharap ke depan tidak ada lagi masyarakat yang mengalami hal serupa, harus ditandu dengan waktu yang lama padahal mereka segera membutuhkan pelayananan Fasilitas Kesehatan.

“Semoga di momentum kemerdekaan tahun ini pemerintah Polman bisa menghadirkan kemerdekaan “Jalanan” di Desa Lenggo. Diantara manfaatnya, agar masyarakat lenggo semakin mudah mengakses fasilitas kesehatan,” tandas Ayub penuh harap.

About SUDIANTO MAHMUD

Wakil Sekertaris GP Ansor Polewali Mandar juga penggiat kajian pendidikan dan keislaman

Check Also

SDK Harap Kunker Mentan di Sulbar Membawa Angin Segar Bagi Pertanian

Mamuju – Tayang9 – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) wakil …

Didaulat Memimpin Projo Mamuju, Rekomendasi PDI-P Mengarah ke Sutinah (?)

Mamuju – Tayang9 – Bakal Calon (Bacalon) Bupati Kabupaten Mamuju  Tahun 2020 Sutinah Suhardi, secara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]