BERITAFEATURE

Merawat Jejak, Menciptakan Kebaruan: Seni Sulawesi Barat Mencari Jalan ke Masa Depan

Catatan Dari Dialog Kuratorial Annual Art Mammesa dan Sulbar Arts Space

BAGAIMANA merawat warisan kebudayaan tanpa terjebak dalam romantisme masa lalu? Bagaimana pula seni terus melahirkan kebaruan tanpa kehilangan akar yang membuatnya tumbuh dan bermakna? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang saling berkelindan di Jeans Cafe & Billiard, Majene, Kamis sore 15 Oktober 2026, tatkala para seniman, kurator, mahasiswa, komunitas, dan awak media bertemu dalam Presentasi Tema Kuratorial yang diselenggarakan Taman Budaya Sulawesi Barat bersama @tbm_sulbarofficial dan @annualartmammesa.

Pertemuan yang dimulai pukul 16.00 WITA itu bukan sekadar agenda untuk memperkenalkan pameran seni yang akan datang. Di balik pemaparan tema dan rencana penyelenggaraan, tersimpan percakapan yang lebih mendasar: tentang bagaimana seni membaca zaman, menafsirkan kembali jejak kebudayaan, dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi kehidupan seni di Sulawesi Barat.

Dua agenda menjadi pokok pembicaraan sore itu, yakni Annual Art Mammesa #3 dan Sulbar Art Space 2026. Keduanya direncanakan berlangsung pada November mendatang, membawa gagasan kuratorial yang berbeda, tetapi bertemu dalam satu kepentingan: memberi ruang bagi pertumbuhan seni dan keberlanjutan kebudayaan.

Ketua UPTD Taman Budaya Sulawesi Barat, Irma Trisnawati, S.Pd., M.M., membuka kegiatan dengan menekankan pentingnya memperkenalkan gagasan kuratorial kepada publik sejak awal. Menurutnya, presentasi terbuka semacam ini merupakan pengalaman pertama yang perlu dibangun sebagai bagian dari proses penyelenggaraan kegiatan seni.

Bagi Irma, sebuah agenda seni tidak cukup hanya diketahui melalui jadwal, tempat, dan daftar karya yang akan dipamerkan. Publik juga perlu memahami gagasan yang melatarbelakanginya, arah yang hendak dituju, serta ruang yang disediakan bagi para seniman untuk mengembangkan kreativitas.

Sebab, sebelum karya-karya memenuhi ruang pamer, ada pemikiran yang lebih dahulu bekerja. Ada pertanyaan yang perlu diajukan, kebiasaan yang patut ditinjau ulang, dan kemungkinan yang menunggu untuk ditemukan.

Percakapan sore itu kemudian memasuki wilayah tersebut melalui tema Annual Art Mammesa #3, Desing of the De-Sign. Tema yang dipaparkan kurator Abdul Azis, S.Pd., M.FA., mengajak seniman keluar dari kebiasaan penciptaan yang selama ini dianggap lumrah, terutama dalam pemilihan material untuk karya lukis.

Dalam dunia seni, kebaruan tidak selalu lahir dari sesuatu yang sepenuhnya belum pernah ada. Terkadang, ia justru muncul ketika seseorang berani mempertanyakan hal-hal yang selama ini diterima begitu saja. Material yang biasa digunakan dapat dipandang dengan cara berbeda. Benda yang semula dianggap tidak memiliki nilai artistik dapat menemukan kehidupan baru ketika bertemu dengan gagasan dan tangan yang tepat.

Di situlah tema Desing of the De-Sign membuka ruang penjelajahan. Para seniman tidak diarahkan untuk menghasilkan karya dengan bentuk seragam. Sebaliknya, mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan interpretasi, konsep, dan pilihan material masing-masing, sepanjang tetap berhubungan dengan kerangka kuratorial yang telah ditetapkan.

Abdul Azis juga menyinggung gagasan tentang ketiadaan tanda dan kekuatan yang diharapkan hadir dalam sebuah karya. Pemikiran ini membawa pembicaraan pada sesuatu yang mungkin belum terlihat, belum terbaca, atau bahkan belum disadari keberadaannya, tetapi memiliki potensi untuk muncul melalui proses penciptaan seni.

Dengan kata lain, karya tidak semata-mata hadir untuk memperlihatkan sesuatu yang sudah dikenal. Ia juga dapat menjadi jalan untuk menemukan hal-hal yang sebelumnya luput dari perhatian.

Gagasan tersebut terasa semakin hidup ketika sesi diskusi dibuka. Pertanyaan dan tanggapan peserta membawa pembicaraan dari wilayah konseptual menuju persoalan yang lebih praktis: bagaimana gagasan itu diterjemahkan ke dalam penyelenggaraan, siapa yang terlibat, serta bagaimana ruang pamer dan kerja kolaboratif dapat mendukung penciptaan karya.

Irfan Panggalo, misalnya, mengajukan pertanyaan mengenai aspek teknis pelaksanaan Annual Art Mammesa. Menanggapi hal tersebut, kurator Muhammad Gazali, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini direncanakan melibatkan sekitar 30 seniman.

Rencana tersebut juga membuka kemungkinan kolaborasi lintas komunitas dan cabang seni. Dengan demikian, pertemuan antarseniman tidak berhenti pada kehadiran karya-karya individual, tetapi berpotensi berkembang menjadi perjumpaan gagasan, pengalaman, dan praktik artistik yang beragam.

Ruang pamer pun direncanakan tidak hanya bertumpu pada bagian dalam Galeri Marasa, Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat. Halaman juga akan dimanfaatkan untuk menampilkan karya.

Pilihan ini memberikan kemungkinan yang menarik. Ruang tidak lagi dipahami semata-mata sebagai wadah yang membatasi karya, melainkan sebagai bagian dari pengalaman artistik itu sendiri. Karya dapat menemukan tempatnya di dalam maupun di luar galeri, bergantung pada kebutuhan, karakter, dan gagasan yang hendak disampaikan senimannya.

Bagi Abdul Azis, kebebasan berkarya bukan berarti setiap orang berjalan tanpa arah. Kebebasan tetap memiliki hubungan dengan tema, sementara keberagaman interpretasi menjadi bagian penting dari proses penciptaan. Setiap seniman dapat menemukan jalannya sendiri, tanpa harus kehilangan hubungan dengan gagasan besar yang mempertemukan mereka.

Upaya menemukan kembali jejak yang tertinggal menjadi salah satu landasan pemikiran Annual Art Mammesa. Namun, merawat jejak bukan berarti sekadar menengok ke belakang. Jejak dapat menjadi titik berangkat untuk mempertanyakan kembali sesuatu yang telah ada, membaca ulang maknanya, lalu menemukan kemungkinan baru yang relevan dengan kehidupan hari ini.

Percakapan kemudian menyentuh aspek keterbukaan proses kuratorial. Salah satu peserta mengajukan pertanyaan mengenai kemungkinan konflik kepentingan dalam penyelenggaraan. Menanggapi pertanyaan itu, Abdul Azis menjelaskan bahwa tim kurator tidak memilih individu tertentu dari kalangan pendaftar.

Pertukaran pandangan tersebut memperlihatkan bahwa diskusi kuratorial juga menjadi ruang untuk membicarakan proses, mekanisme, dan prinsip penyelenggaraan. Seni memang membutuhkan kebebasan dalam penciptaan, tetapi kepercayaan publik terhadap sebuah agenda seni turut ditentukan oleh bagaimana prosesnya dijelaskan dan dijalankan.

Sulbar Art Space 2026

Dari Annual Art Mammesa, pembicaraan beralih ke Sulbar Arts Space 2026. Agenda ini membawa perhatian pada upaya membangun kesinambungan kegiatan seni sekaligus memperkuat ekosistem kebudayaan di Sulawesi Barat.

Kurator Baharuddin menyampaikan harapan agar kegiatan tersebut menjadi bahan evaluasi dan pijakan bagi penyelenggaraan agenda seni berikutnya. Sementara itu, kurator Ahmad Saleh menekankan pentingnya menghubungkan masa lalu dengan kehidupan kebudayaan masa kini.

Hubungan itu tidak cukup diwujudkan melalui perayaan simbolis atau pengulangan bentuk-bentuk tradisi. Penghargaan terhadap maestro, perawatan kesenian dan kebudayaan, serta pembangunan ekosistem yang memungkinkan pengetahuan diwariskan kepada generasi berikutnya juga menjadi bagian penting dari pekerjaan kebudayaan.

Di titik ini, persoalan seni bertemu dengan persoalan regenerasi. Warisan kebudayaan tidak akan terus hidup hanya karena pernah berjaya pada masa lalu. Ia memerlukan orang-orang yang bersedia mempelajari, merawat, menafsirkan, dan meneruskannya. Ia juga membutuhkan ruang yang memungkinkan generasi baru berkenalan dengan warisan tersebut tanpa merasa harus meninggalkan kreativitas mereka sendiri.

Kehadiran para pelaku seni dan budaya dalam pertemuan itu menambah warna pada percakapan. Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Tammalele, Asmadi Taro Alimuddin, sutradara teater Cristine Natali, dan Andi Apo dari Teater Anjoro Lupa. Perwakilan TVRI dan sejumlah media lainnya turut mengikuti kegiatan.

Pertemuan berbagai kalangan ini memperlihatkan bahwa kehidupan seni tidak tumbuh dalam ruang yang terpisah dari masyarakat. Seniman membutuhkan ruang untuk berkarya, kurator membutuhkan percakapan untuk menguji gagasan, mahasiswa membutuhkan kesempatan untuk belajar, sedangkan media memiliki peran dalam memperluas jangkauan informasi dan mempertemukan karya dengan publik.

Usai kegiatan, Irma Trisnawati kembali menegaskan harapannya agar rangkaian agenda seni tersebut dapat mendorong regenerasi kebudayaan di Sulawesi Barat. Pelestarian, menurutnya, perlu dikemas melalui pendekatan yang relevan dengan generasi sekarang agar identitas budaya tetap terjaga sekaligus semakin dikenal luas melalui seni.

Harapan itu sejalan dengan pandangan kurator Rahmat Pulonagau dalam wawancara mengenai Annual Art Mammesa. Ia menekankan pentingnya terus menciptakan kebaruan. Kebaruan bukan semata-mata soal menghasilkan bentuk yang berbeda, melainkan juga membuka cara pandang baru terhadap seni dan kebudayaan.

Di tengah perubahan zaman, tantangan kebudayaan bukan hanya bagaimana mempertahankan sesuatu yang diwariskan, tetapi juga bagaimana membuatnya tetap memiliki arti bagi mereka yang hidup hari ini. Tradisi perlu dirawat, tetapi ruang tafsir juga perlu dibuka. Maestro perlu dihormati, tetapi kesempatan bagi generasi penerus untuk tumbuh pun harus tersedia.

Annual Art Mammesa #3 direncanakan memulai rangkaian kegiatannya pada 16–18 November 2026, dengan kemungkinan pameran berlangsung hingga satu bulan. Sementara itu, Sulbar Art Space 2026 dijadwalkan berlangsung pada 23–25 November 2026. Jadwal dan durasi akhir kegiatan masih perlu dikonfirmasi kepada penyelenggara.

Pada akhirnya, Presentasi Tema Kuratorial di Majene bukan hanya berbicara tentang dua agenda seni yang akan datang. Pertemuan itu juga membawa satu pertanyaan penting bagi masa depan kebudayaan Sulawesi Barat: bagaimana warisan yang telah membentuk identitas bersama dapat terus hidup tanpa membatasi kemungkinan-kemungkinan baru?

Jawabannya mungkin tidak hadir sekaligus, apalagi selesai dalam satu diskusi. Ia akan tumbuh melalui karya-karya yang diciptakan, perjumpaan antargenerasi, keberanian menguji kebiasaan, dan kesediaan membuka ruang bagi gagasan yang berbeda.

Sebab, merawat jejak tidak selalu berarti menjaga segala sesuatu agar tetap sama. Terkadang, cara terbaik untuk menjaga warisan justru dengan memberinya kesempatan untuk tumbuh, berubah, dan menemukan makna baru.

Di sanalah seni menjalankan perannya: menghubungkan ingatan dengan masa kini, mempertemukan kebudayaan dengan kreativitas, dan membuka jalan agar warisan tidak berhenti menjadi cerita tentang masa lalu, melainkan terus menjadi bagian dari kehidupan yang sedang berlangsung.

AYU MELATI

Sejak bergabung dengan komunitas literasi daring pada 2020, ia mulai menggunakan nama pena Alby Manyebang. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN No. 30 INP. Lembang, kemudian dilanjutkan di MTsN 1 Majene dan MAS DDI Baruga. Saat ini, ia merupakan mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris di STAIN Majene. Pada 2022, Alby menerbitkan dua karya novelet berjudul Sun3 Caeru dan PmB (Penyelamat Bumi) melalui Lintang Semesta Publisher. Alby Manyebang atau Ayu Melati dapat dihubungi melalui Facebook: Alby Manyebang, Instagram: @alby_manyebang, atau email: albymanyebang@gmail.com.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: