BERITASOSOK

Satu Lagi To Malaqbi’na Mandar Telah Tiada

Annangguru Syibli Sahabuddin dalam Kesaksian Muhammad Zain (Ketua Umum BPP-KKMSB/Kepala Biro SDM Kemenag RI)

Sekitar Pukul 21.45 WITA, 11 Oktober 2026, kabar itu datang seperti angin senja yang membawa duka. Pelan dan menusuk. Mandar kembali berduka. Perahu di pesisir seakan enggan melaut, ombak berbisik lebih lirih, suara gunung terdiam dan di langit yang biasa riuh oleh camar, kini tersisa sunyi yang panjang.

Seorang putra terbaiknya telah pulang. Annanggurutta K.H. Muhammad Syibli, ulama muda, tokoh panutan, politisi, dan cendekiawan, telah kembali kepada Sang Pemilik segala yang bernyawa. Kita semua kehilangan. Keluarga, murid, sahabat, seluruh tanah, gunung hingga pesisir yang pernah ia sentuh dengan senyum dan doa.

Dalam nadinya mengalir darah para ulama. Ia adalah putra Prof. K.H. Sahabuddin, seorang alim yang namanya harum di tanah Mandar dan bergema hingga ke ibu kota. Dari sang ayah ia mewarisi lebih dari nama. Ia mewarisi cara memandang ilmu sebagai amanah, cara memikul umat sebagai kehormatan, dan cara merendah justru ketika berdiri paling tinggi.

Langkah ilmunya bermula dari bilik-bilik sederhana pondok pesantren, tempat huruf-huruf hijaiyah dieja dalam cahaya lampu temaram dan adab dijahit lebih dahulu sebelum ilmu. Dari sana ia melangkah jauh, menyeberang hingga ke Islamabad, Pakistan. Menimba ilmu di negeri yang jauh dari pesisir Mandar, lalu pulang dengan dada penuh cahaya dan hati yang tetap berpijak di tanah kelahirannya.

Dari kelas-kelas ilmu hingga ruang-ruang politik, ia merajut pergaulan intelektual yang luas. Ia berjalan di lorong parlemen sebagai wakil rakyat DPD MPR RI. Dan dari Partai Kebangkitan Bangsa, ia juga pernah melangkah sebagai calon pemimpin di Polewali Mandar. Namun ke mana pun ia pergi, jubah ulama tak pernah ia tanggalkan dari hatinya. Politik baginya menjadi ladang untuk mengabdi.

Orang-orang menyebutnya friendly bersahabat, dan hangat. Tetapi kata-kata itu terlalu kecil untuk menampung sosoknya. Ia tidak berjarak dengan siapa pun. Tidak ada jarak intelektual, sebab ia menyapa yang berilmu dan yang awam dengan nada yang sama. Tidak ada jarak sosial, sebab ia duduk sama rendah dengan siapa saja. Tidak pula ada jarak spiritual, sebab ia membuat orang merasa Tuhan itu dekat, ramah, dan menyayangi.

Di mana pun ia berjalan, orang-orang mengelilinginya dari berbagai kalangan dan golongan, seperti kunang-kunang yang tak pernah jauh dari pelita. Siapa pun yang diajaknya bicara akan pulang dengan perasaan telah lama menjadi sahabatnya. Kehangatan seperti itu sangat mahal. Ia tidak diwariskan lewat gelar, tidak dibeli dengan jabatan. Ia ditumbuhkan bertahun-tahun, setetes demi setetes, lewat ketulusan yang tak pernah lelah.

Di atas mimbar, ia adalah penutur agama yang lihai, membuat jamaah tertawa sebelum mereka sadar bahwa mereka sesungguhnya sedang diajak merenung dan tentang seorang hamba. Humor ia lemparkan seperti benih, ringan dan menggembirakan. Dari tawa itulah hikmah tumbuh diam-diam di dalam dada.

Ia memahami betul tanah tempat ia dilahirkan. Budaya Bugis-Mandar, dengan segala kearifan, pepatah, dan adatnya, ia rangkul dengan cinta. Doktrin agama ia padukan dengan local wisdom, ayat dan adat ia jahit menjadi satu kain yang indah. Maka ajarannya tak terasa asing bagi siapa pun. Ia hadir sebagai bagian dari tanah itu sendiri, tidak sebagai tamu yang datang menggurui.

Itulah ciri khasnya, kekayaan khazanah keulamaan yang berpadu dengan kecintaan pada kearifan lokal. Sebab itu juga ia mudah dicintai.

Ada kisah yang tak lekang dari ingatanku seorang sahabat. Kira-kira dua puluh tahun silam, di sebuah kantor di Lapangan Banteng, lantai delapan, saat itu, saya baru saja dilantik pada jabatan baru. Hari itu Annanggurutta datang, bukan untuk urusan besar, ia menyampaikan satu hal sederhana, mengucapkan selamat secara langsung.

“Mohon maaf, baru sempat datang,” ujarnya, padahal ia sendiri saat itu seorang anggota DPD MPR RI dengan jadwal yang padat. Ia menanyakan kabar, memberi dukungan, dan ketika hendak pamit, ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyodorkannya.

Saya menolak dengan halus: “Saya sudah menjabat, Alhamdulillah hidup sudah cukup baik.”

“Tidak,” jawab Anregurutta. “Ini dari saya, tolong diambil,” imbuhnya.

Barangkali di matanya, saya itu masih mahasiswa yang dulu hilir-mudik di rumahnya di Jalan Mapala, mendampingi sang ayah, Annanggurutta Prof. K.H. Sahabuddin. Barangkali baginya, pangkat hanyalah kain yang menempel di bahu, sedangkan kasih sayang tidak pernah berubah ukurannya. Begitulah cinta yang tulus. Ia tidak menghitung seberapa tinggi orang telah naik. Ia hanya mengingat siapa dulu yang pernah ia peluk.

Ada manusia yang pandai hadir di pesta. Ada pula yang tahu cara hadir di saat air mata jatuh. Annanggurutta termasuk yang kedua. Ketika mertua saya berpulang, almarhum Drs. H. Alimuddin Lida, ia datang. Ia bertakziah di pintu rumah. Ia turun tangan memandikan dan mengafani jenazah, menyampaikan tausiyah yang menenangkan hati. Ketika “Ummi“, Hajjah Siti Suhuria, wafat, ia kembali datang menemani.

Mungkin karena itu juga saya begitu dekat. Dekat secara intelektual, dekat secara ideologi, sesama warga Nahdlatul Ulama yang dipertemukan oleh pikiran, dan dipersatukan oleh duka dan suka. Ia mengenal tangis orang lain sebagai tangisnya sendiri, dan tahu bahwa kehadiran kadang lebih menyembuhkan daripada seribu kata.

Di antara semua kisah tentangnya, ada satu yang paling terang menerangi jalan.

Saat adik kandungnya, Prof. Wasilah, mencalonkan diri sebagai calon ketua STAIN Majene, Annanggurutta punya segalanya untuk membantu. Ia punya relasi yang kuat, bahkan hingga ke pucuk kementerian. Orang lain mungkin akan memanfaatkannya. Orang lain mungkin akan berkata, “Ini adikku, dan aku bisa.”

Tetapi ia memilih diam. Ia tak ikut cawe-cawe. Ia hanya meninggalkan satu pesan kepada adiknya:

“Dik, kalau bukan saya yang menolong anda, Allah akan menolong, dan itu pasti sebaik-baiknya pertolongan dari siapapun.”

Betapa dalam kalimat yang sederhana itu. Ia menjaga independensi, kompetensi, dan integritas hingga ke lingkaran darah dagingnya sendiri. Ia menunjukkan bahwa kekuasaan dan koneksi bukanlah kunci untuk membuka pintu bagi keluarga, baginya itu adalah amanah yang harus dijaga agar tetap bersih. Dalam sistem yang menjunjung meritokrasi, jabatan sepatutnya lahir dari kemampuan dan kejujuran, bukan dari kedekatan.

Pelajaran ini mahal harganya. Dan kita, yang masih berjalan di dunia yang sering lupa pada pelajaran semacam ini, patut menyimpannya baik-baik. Di zaman yang haus akan keteladanan, ketika kata-kata mudah diucapkan namun jarang dihidupi, sosok seperti Annanggurutta adalah mata air di tengah gersang. Ia dirindukan umat, didambakan, dan akan selalu menjadi kenangan.

Kini tawanya telah mereda. Mimbar itu sunyi, dan kursi di tengah lingkaran sahabat mulai kosong. Tetapi sesungguhnya tidak semuanya pergi. Ilmu yang ia bagikan masih berdenyut di dada murid-muridnya. Kebaikannya masih tinggal di ingatan mereka yang pernah ia sapa. Keteladanannya menjadi pelita yang menerangi jalan bagi kita yang ditinggalkan.

Itulah amal jariyah. Ia tak berhenti saat jasad dikuburkan, ia terus mengalir seperti sungai yang tak kenal muara.

Selamat jalan, Annanggurutta K.H. Muhammad Syibli Sahabuddin.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima arwahmu dan seluruh amal kebajikanmu. Semoga Ia melapangkan jalanmu, menerangi pembaringanmu, serta menganugerahkan martabat dan kemuliaan di sisi-Nya.

أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27-30)

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un

Allāhummaghfir lahū warḥamhu wa ‘āfihī wa’fu ‘anhu.

FARHAM RAHMAT

Alumnus Hukum IAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta Timur dan Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. selain aktif sebagai blogger juga aktif dalam pengembangan skill bahasa Inggris dan Arab serta serius nyantri di Majelis Sholawat Simpang M. Ketua Zain Office ini juga dipercaya sebagai editor di media katalogika.com, serta tercatat sebagai pemuda pelopor literasi digital Polewali Mandar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: