Penutupan Pekan Sastra Sulbar 2026 Malam Tadi, Bertabur Tepukan dan Getar Pertunjukan
Diisi dengan Musikalisasi Puisi, Monolog dan Pembacaan Puisi oleh Juri juga Pengumuman dan Penganugerahan Penghargaan dan Uang Pembinaan kepada para Pemenang Lomba

POLMAN, TAYANG9 – Sabtu malam tadi, 18 Juli 2026 menjadi puncak yang menggetarkan dari rangkaian Pekan Sastra Sulbar 2026. Baruga Boyang Kaiyyang yang berada di kompleks Taman Budaya dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat, Buttu Ciping, Tinambung, dipenuhi sorak-sorai penonton yang larut dalam alunan musik puisi, pertunjukan monolog, pembacaan puisi dan kesaksian serta sorot lampu dan gelegar sound sistem menyatu dengan energi dari aura kreatif para seniman.
Diujung acara penutupan pekan sastra yang bertema Tubuh Kata: Tradisi Lisan, Tubuh dan Suara Masa Kini itu, selain Madatte Art tampil dengan musik puisinya, juga secara khusus dihadirkan pertunjukan spesial yang dibawakan oleh ketua dewan juri monolog, Asmadi ‘Taro’ Alimuddin.

Dalam pertunjukannya yang berdurasi sekitar lima belas menit itu, monolog “Boss” karya Putu Wijaya yang dibawakan oleh Asmadi dengan begitu berkarakter dan mengisahkan tentang seorang boss yang berada di puncak kekuasaannya. Di atas panggung, Asmadi tidak hanya digambarkan sebagai seorang pemimpin perusahaan atau organisasi, melainkan simbol dari otoritas mutlak yang bisa merambah ke ranah politik, sosial, bahkan keluarga.
Cerita bergulir melalui rangkaian celotehan, amarah, perintah, hingga kontemplasi batin sang Boss. Asmadi sukses menggambarkan sosok yang sangat dominan, manipulatif, arogan, namun di saat yang sama menyimpan paranoid dan kerapuhan yang luar biasa. Sepanjang pertunjukan, Asmadi berbicara kepad jam dinding dan juga kepada anak buahnya juga audiens dalam nada yang berganti-ganti secara drastis: dari membujuk, mengancam, memuji, hingga mengintimidasi.
Konflik memuncak, tatkala Asmadi dalam monolog itu, akhirnya tiba pada pertarungan psikologis dengan bayang-bayangnya sendiri. Ia terobsesi untuk mempertahankan kekuasaan dan kepatuhan mutlak dari orang-orang di sekitarnya. Namun, semakin ia berusaha mengendalikan segalanya, ia justru semakin terisolasi, kesepian, dan didera ketakutan akan pengkhianatan serta kehilangan kendali.

Selain pertunjukan naskah monolog Boss oleh Asmadi, tampil pula, Muhammad Syariat Tajuddin juga salah satu juri lomba puisi yang didaulat panitia untuk memberikan kesaksian atas Pekan Sastra yang dihelat Taman Budaya dan Museum itu selama tiga malam berturut-turut itu. Usai membacakan kesaksiannya, Syariat kemudian melanjutkannya dengan membacakan karya puisinya yang berjudul Di Bawah Kaki Menara Imam Lapeo.
Bahkan sebelum penutupan diisi dengan pertunjukan puisi dan monolog dari kedua juri itu, Irma Trisnawati, Kepala UPTD Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat sesaat sebelum menutup secara resmi, dalam sambutannya mengatakan, pekan sastra adalah ruang kreatif yang menghadirkan para penyair dan monologis muda untuk unjuk karya.
“Ini adalah tanggung jawab kami di Taman Budaya untuk menjadi ruang inkubasi, utamanya para seniman muda kita. Semoga pekan sastra dapat melahirkan para seniman-seniman yang berkualitas,” ujarnya.

Irma juga menyampaikan permohonan maaf kepala dinas pendidikan dan kebudayaan daerah Provinsi Sulawesi Barat, yang tidak sempat hadir dikarenakan sejumlah agenda penting di tempat lain yang juga teramat sangat penting untuk diikuti.
“Mewakili pemerintah Provinsi Sulawesi Barat kami memohon maaf jika ada keteledaran atau kekurangan dalam kegiatan yang kami selenggarakan ini. Semoga ke depan kian bisa kita benahi dan tingkatkan kualitas event dan penyelenggaraa kegiatan kita. Percayalah bahwa kami komitmen menjadi ruang yang baik dan sehat untuk semua seniman dan pekerja budaya,” tuturnya di acara yang berakhir hingga pukul 11.22 Wita itu.
Dalam kesempatan itu, Irma Trisnawati juga menyampaikan hatur terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam Pekan Sastra itu, mulai dari kurator beserta timnya, para penampil dan juri serta peserta lomba monolog dan puisi, juga kepada semua pegawai di Taman Budaya dan Museum serta kepada vendor dan sejumlah undanga nyang berkenan membersamai dan utamanya para pihak yang tidak tampak di atas panggung, tetapi memberikan kontribusi dalam menyukseskan kegiatan itu.




