Tuesday , July 23 2019
Home / GAGASAN / OPINI / 9 Alasan Mengapa Mencintai NU

9 Alasan Mengapa Mencintai NU

        Oleh :  Abdul Hakim Madda 

       (Kader muda NU Kabupaten Pasangkayu) 

“Orang NU itu aneh. Orang lain pada ngaku-ngaku NU. Sementara ke-NU-annya tidak jelas. Ini malah minder.” protes seorang teman setelah membaca tulisan saya, di sebuah media daring beberapa waktu yang lalu mengenai curahan hati seorang kader NU,  bernama Mas Gimin tentang suksesi kepemimpin NU di Sulawesi Barat.

Ia seorang Katolik dari Atambua, sebuah kota di Kabupaten Belu. Letaknya berada di perbatasan Nusa Tenggara Timur dan Timor Leste. Saya pertama kali mengenalnya saat pembentukan Forum Kebangsaan Pemuda Pasangkayu, ia hadir mewakili Pemuda Gereja. Usianya masih muda. Gaya bicaranya meletup-letup.

Wawasannya tentang nasionalisme luas dan dalam. Pokonya enaklah diajak diskusi. Ia minta namanya di rahasiakan ketika tahu saya mau menulis pendapatnya tentang NU karena kuatir kalau identitasnya terbongkar. “Saya takut nanti di cap “Katolik Murtad” oleh gereja karena saya mencinta NU.” Katanya sambil tertawa.

Memang dalam beberapa pertemuan kami di Forum Kebangsaan, ia suka mengaku-ngaku sebagai warga Nahdliyyin. Dan itu sering menjadi bahan candaan di sela-sela rapat.

Kawan saya ini memang fanatik NU. Ia rajin mengikuti perkembangan NU, menyukai model dan idelogi gerakannya terutama yang berbau pemberdayaan masyarakat istilah kerennya “empowering People”. Model gerakan itu menurutnya memiliki kemiripan dengan model teologi pembebasasan ala Gustavo Gutierrez. Gustavo Gutierrez adalah seorang uskup dari Peru pencetus gerakan teologi lembebasan,yang banyak di amini di beberapa Negara di Amerika Latin.

Ketika membaca tulisan tentang Mas Gimin, ia jadi penasaran dan berniat berdiskusi. “Pandangan Mas Gimin itu keliru sekaligus naïf melihat jamaah NU, gaya berpikirnya terlalu top down. Saya mencium aroma orde baru yang sangat kuat mempengaruhi Mas Gimin”.Saya Cuma terkekeh mendengarnya.Mana ngerti Mas Gimin tentang kritik sosial.

Saya yakin seandainya ia bertemu dengan Mas Gimin pasti diskusinya seru. Karena pendekatan yang ia gunakan dalam melihat NU, berbeda. Ibarat mata uang yang di kedua belah sisinya berbeda. Maka perbedaan itu takkan berujung berpangkal. Karena bertumpu pada kutubnya masin-masing. Satu kutub sturuktural dan lainnya Kultural. Namun satu hal yang bisa ditarik dari perbedaan itu ialah betapa berwarnanya orang melihat NU.

Ketika saya tanyakan apa lagi alasannya mencintai NU, Maka yang keluar pertama kali dan seterusnya dari pemuda itu adalah: Pertama: Gus Dur, sang guru bangsa yang humoris, serba bisa, bijak dan peretas budaya perlawanan. Baginya mantan presiden RI ke-4 itu adalah seorang Santa. Manusia suci dalam tradisi iman Katholik yang selalu menebar welas asih.

Kedua: Pohon rindang, Ini tentu analogi yang ia amati dan dengar sendiri selama ini dari begitu banyak orang. Ia mengibaratkan NU sebagai pohon rindang tempat siapa saja boleh berteduh. Secara lebih khusus, tempat minioritas yang butuh perlindungan khususnya dari penindasan kebebasan beragama, berpikir dan berbicara. ia meyakini bahwa di NU mereka bisa diterima, diajak ngobrol bersama dengan santai sambil makan gorengan dan minum kopi.

Ketiga: Pesantren, Sebuah lembaga pendidikan yang identik dengan NU. Baginya lembaga ini selalu mengajarkan egalitarian, demokrasi dan membuka pintu  selebar-lebarnya sambil tersenyum menyambut kedatangan siapa pun yang datang bertamu tanpa membeda-bedakan, menyalami dan merangkul hangat penuh ketulusan.

Keempat: Banser. “Banser selalu melekat dalam pikiran saya. Karena Banser sering aktif membantu menjaga keamanan dan kenyamanan berbagai acara ibadah umat agama lain. Kami tak bisa melupakan kisah pengorbanan anggota Banser bernama Riyanto saat menjaga Gereja Eben Haezer, Mojokerto Jawa Timur, pada malam Natal 24 Desember 2000. Kematian Riyanto telah menjadi martir buat kami.” Katanya.

Kelima: KH. Said Aqil Siraj, Bagaimana pun ia adalah figur penting di NU dan di bangsa ini. Komentar-komentarnya tajam bahkan dalam kondisi tertentu setajam Gus Dur. Meski sering kontroversial beliau adalah tokoh besar yang sangat mendukung keberagaman.

Keenam: Gus Mus, “Saya belum pernah bertemu langsung dengan beliau. Tetapi puisi dan komentar-komentarnya di media sosial sudah mampu menaklukkan otak saya, kiri dan kanan. Penampilan beliau teduh dan menyejukkan. Kyai inilah yang lebih banyak saya ikuti selain KH. Said Aqil Siraj di era sepeninggal Gus Dur.” Ujarnya lagi.

Ketujuh: Sarungan, Mohon maaf tapi saya berpikir apa adanya tentang NU. Di benak saya lengkap gambaran kyai dan santri NU yang memakai sarung. Ini simbol kesederhanaan dan kedekatan dengan rakyat. Gus Dur pernah bergurau katanya, pakai sarung itu enak dan hemat, karena banyak lubang anginnya, jadi tidak perlu pakai AC.

Kedelapan, Sandal Jepit.  Saat Gus Dur menjabat presiden kyai-kyai NU keluar masuk istana hanya memakai sandal jepit. Ini tentu padanan yang pas dengan memori saya sebelumnya tentang sarung. Lagi pula sandal jepit ini sudah mampu men-desakralisasi istana atau kekuasaan.”Mana ada presiden gini kalau bukan NU.” Candanya.

Kesembilan, anak mudanya. Ada beragam tipikal anak muda NU. Meski berbeda tapi ada yang unik, mereka tetap sepakat mengusung satu wajah. Wajah Islam toleran. Islam rahmatan lil alamin. Para anak muda itu bergerak di berbagai lini. Umumnya  mereka berangkat dari dunia pendidikan atau intelektual kampus, politisi, aktivis, pers, NGO, penerbitan dan lain-lain. Selain professional juga memiiki jaringan yang kuat. NU tidak akan kekurangan stok SDM. Makanya kalau boleh, saya mau seperti Mas Giming mengusulkan pengurus NU Sulbar yang terpilih nantinya banyak mengakomodir anak-anak muda supaya organisasi ini bisa dinamis di masa depan.

Inilah sembilan alasan kawan saya seorang pemuda Katolik mencintai NU. Tapi kalau saya sendiri yang menulisnya jangan di tanya, tentu akan lebih banyak lagi.(*)

About MASDAR

lahir dari keluarga petani, dan kini tengah serius menjadi seorang jurnalis dan penulis baik.

Check Also

Icon Baru Mamuju, Upaya Pemkab Mendorong Laju Ekonomi Masyarakat

Mamuju – Tayang9 – Konsen terhadap pengembangan sektor pariwisata, sebagai salah satu prioritas pembangunan yang …

Diduga Pecat Aparatnya Secara Sepihak, 4 Kades di Campalagian Dilaporkan ke Ombudsman

Polewali – Tayang9 – Lembaga Advokasi Masyarakat Desa (LAMDES), secara resmi melaporkan 4 Kepala Desa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]