Friday , February 28 2020
Home / BERITA / Ziarah Tanah Mandar dan Shalawat Cinta KH. D. Zawawi Imron

Ziarah Tanah Mandar dan Shalawat Cinta KH. D. Zawawi Imron

SEISI majelis bercucuran air mata. Momentum mengharu biru itu terjadi tatkala KH. D. Zawawi Imron mensedekahkan puisinya yang berjudul “IBU”.

Puisi tersebut dibacakan di majelis pengajian Islam boyang Kaiyyang Kandeapi Tinambung, di kediaman keluarga besar almarhum panglima puisi Husni Djamaluddin. Seusai Ashar, Ahad 09 Februari 2020.

Sajak tentang kepahlawanan seorang ibu, yang dibacakan oleh KH. D. Zawawi Imron, sangat menyentuh ruang terdalam sanubari dan menguasai seluruh atmosfere ruang batin sejumlah yang hadir dalam majelis ilmu itu.

Puisi yang mengingatkan sekaligus menegaskan akan sosok yang selalu dipesankan Rasulullah SAW untuk senantiasa dan bahkan wajib dihormati, dihargai dan sami’na waatho’na apa pun perintah yang dititahkan oleh ibu.

Puisi yang membuat KH. D. Zawawi Imron didaulat menjadi penyair terbaik se-Asia Tenggara tersebut, juga di sedekahkan kepada para santri Pondok Pesantren Salafiyah Parappe Campalagian pada malam harinya. Majelis bertajuk “Ngaji Sastra dan Pesantren” bersama KH. D. Zawawi Imron,

Banyak santri yang tertunduk menangis. Teringat ibu bapaknya yang ditinggal sementara waktu di rumah. Santri-santri yang jauh dari keluarga. Ya, para santri yang berjuang menuntut ilmu, demi mengharap barakka’ (berkah) dari ilmu dan cahaya kealiman dari Annangguru yang ada di pesantren.

Takzim Kepada Imam Lapeo

Sebelum acara tersebut dimulai, KH. D. Zawawi Imron terlebih dahulu melaksanakan salat magrib di Masjid Nuruttaubah KH. Muhammad Thahir Imam Lapeo.

Masjid yang didirikan Waliullah tanah Mandar, allahu yarham Annangguru H. Muhammad Thahir (Imam Lapeo). Dari sana, Kiai yang Penyair juga Budayawan asal Madura itu kemudian mengetahui, bahwa Imam Lapeo ternyata dalam pengembaraan ilmunya juga pernah berguru kepada allahu yarham Syaikhona KH. Cholil Bangkalan, guru dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyekh KH. Hasyim Asyari.

Hal tersebut yang kemudian diperbincangkan saat berada di kediaman Annangguru KH Abdul Latif Busra. Pimpinan pondok pesantren Salafiyah Parappe.

Pertemuan dua Kiai sepuh NU tersebut untuk pertama kali, yang sesekali diselingi dengan perbincangan logat dan dialek Madura kental.

Mahfum diketahui, Annangguru KH. Abdul Latif Busra pernah lama menuntut ilmu di Jawa Timur. Suasana yang penuh dengan canda dan tawa antar keduanya.

Banyak hal yang didiskusikan dan guyon segar khas Kiai NU, yang membuat suasana sangat nyaman dan penuh dengan rasa keintiman kekeluargaan.

Pagi sebelumnya, KH. Zawawi Imron juga mengisi ngaji sastra dan kemanusiaan di kampung santri Pambusuang yang diinisiasi oleh Himpunan Sarjana Kesusatraan Indonesia (HISKI) Komisariat Sulawesi Barat.

Pengajian yang dikemas dalam bentuk lesehan, dihelat di depan masjid bersejarah Pambusuang, masjid Attaqwa. Suasana yang terbilang sangat merakyat, karena selain santri, banyak nelayan, aktivis gerakan dan penggiat kebudayaan yang hadir.

Di forum itu, KH. D. Zawawi Imron didampingi Annangguru H. Abdul Syahid Rasyid (Ketua MUI Polewali Mandar), Annangguru H. Bisri (Pimpinan pondok pesantren Nuhiyah Pambusuang) dan Rektor Unasman, Dr. Chuduriah Sahabuddin, anak sulung mendiang pelanjut Tarekat Qadiriyah di Tanah Mandar, Annangguru Prof Dr H. Sahabuddin.

Ziarah ke Makam Anangguru Shaleh

Pada kesempatan sama pula, KH. Zawawi Imron secara khusus melakukan ziarah ke makam Tomatindo di Pambusuang, Annangguru H. Muhammad Shaleh atau yang dikenal sebagai Annangguru Shaleh.

Beliau adalah guru dari Annangguru Prof Dr H. Sahabuddin, yang mendapatkan ijazah tarekat Qadiriyah dari Alim Allamah Al-Habib Alwi Al Maliki Al-Hasani, di Makkah Al Mukarramah.

Sehari berselang, sabtu 08 februari 2020, KH. D. Zawawi Imron bersama Bupati Sumenep Jawa Timur KH. Abuya Busra Karim dan rombongan, berkunjung ke kediaman Bunda Cammana, maestro parrawana Towaine (penabuh rebana perempuan) Mandar, di Kelurahan Limboro, Polewali Mandar.

Mengunjungi bunda Cammana adalah agenda yang sudah lama direncanakan oleh Kiai dan budayawan bergelar “Clurit Emas” asal Madura ini.

Bunda Cammana adalah tokoh perempuan Mandar yang juga selalu dikunjungi Cak Nun (Emha Ainun Najib) tatkala berkunjung ke Tanah Mandar.

Puja-pujian kepada baginda Nabi SAW yang dilantunkan dalam bahasa lokal Mandar oleh Bunda Cammana diiringi tabuhan rebana, membuat KH. D. Zawawi Imron danKH. Abuya Busra Karim (Bupati Sumenep) beserta rombongan, penasaran dan ingin menyaksikannya secara langsung.

Selepas dari sana, KH. D. Zawawi Imron kemudian bertolak ke Kota Polewali. Beliau dijadwalkan mengisi pengajian seusai Magrib di masjid Agung Syuhada dan bersilaturrahim dengan ratusan kader PMII dan GP Ansor di kediaman imam masjid Syuhada, Habib Ahmad Fadl Al-Mahdaly, selepas membawakan pengajian.

Untaian-untaian hikmah yang disampaikan oleh KH. D. Zawawi Imron dikedua kesempatan itu membuat jamaah dan kader-kader muda NU semakin takjub akan sosok Kiai yang sangat bersahabat baik dengan Kiai sepuh NU, Mustasyar PBNU, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) itu.

Ate Marandang

KH. D. Zawawi Imron dalam penyampaiannya mengingatkan hadirin untuk selalu merawat hati. Hati yang senantiasa bersih.Dalam bahasa Mandar disebut Ate Marandang (hati yang bening dan cemerlang). Dalam bahasa orang Bugis “Ate Macinnong”.

Ate Marandang atau Macinnong adalah gambaran hati yang tak pernah terisi kebencian dan penyakit-penyakit hati seperti dengki, hasud, kikir, dan lain-lain.

Kondisi hati yang menggerakkan seluruh anggota badan untuk berbuat baik kepada sesama dan lingkungan sekitar. Hati yang selalu ingin melihat orang lain penuh dengan kebahagiaan. Suasana batin yang selalu bersama dengan Allah SWT dan Rasulullah SAW.

“Jika seorang insan memiliki “ate merandang”, maka ia akan selalu ingin melihat orang lain bersuka cita dan bahagia, tak ada prasangka buruk dan benci didalamnya,” kata KH. D. Zawawi Imron didampingi Habib Ahmad Fadl Al Mahdaly dan ustad Ridwan Hilal.

Insan yang memiliki ate marandang adalah insan yang dirindukan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Karena dalam keseharian hidupnya selalu diisi dengan cinta, kerinduan dan kasih sayang.

Di malam itu juga, beliau menembangkan shalawat cinta yang dilantunkan dengan sangat indah, memukau seluruh jamaah masjid agung Syuhada Polewali Mandar yang hadir.

“Ya Nabi, salam padamu
Ya Rasul, salam padamu
Kekasih, salam padamu
Shalawat selalu untukmu

Kalau cinta kepada nabi
Baca shalawat kepada nabi
Kalau Tuhan tak utus nabi
Gelaplah jiwa gelaplah hati

Nabi Muhammad utusan Ilahi
Wajahnya jernih berseri-seri
Kalau tersenyum bertemu insan
Terhapus sedih dan kesusahan

Akhlak nabi bagai bunga-bungaan
Harum semerbak tiada tandingan
Wahai nabi wahai junjungan
Kami senang mengikut tuan

Ya Allah ilahi rabbi
Kami memohon sepenuh hati
Di alam akhirat nanti
Izinkan kami bertemu nabi”.

About MUHAMMAD ARIF

Selain dikenal sebagai aktivis yang produktif menulis, dirinya kini tercatat sebagai pimpinan pengurus cabang Gerakan Pemuda Ansor Polewali Mandar

Check Also

Aliansi Masyarakat Polman Gelar Aksi Solidaritas Atas Insiden Papua, Wakil Ketua DPRD: Copot Kapolda Papua

POLMAN, TAYANG9 – Berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Polewali Mandar turun kejalan …

Hari Ini, Aksi Solidaritas Atas Insiden Penganiayaan Warga Polman di Papua Akan Digelar

POLMAN, TAYANG9 — Rencananya ratusan masyarakat dari berbagai elemen yang tergabung dalam Aksi solidaritas dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]