Jumat , Oktober 30 2020
Home / GAGASAN / CERPEN / Sebab Cinta, Tak Ingin Durhaka
Sumber poto: admin

Sebab Cinta, Tak Ingin Durhaka

Ini bukan sembarang kisah, namun ini kisah nyata adanya dari seorang lelaki yang telah mengalami bagaimana suramnya hati setelah putus dengan kekasih yang dicintainya. Hatinya pun gersang dilumat duka berkecamuk. Dasar cinta, awa bahagia harus berujung pada penderitaan berkepanjangan dari lelaki setia malang itu.

Ini berawal saat hubungan cintanya dipertengahan tahun pasca pagelaran piala dunia, tepatnya bulan juni tahun 2014. Disitulah ia mulai membabat cinta dengan seorang gadis yang usianya terpaut tiga tahun. Seorang anak yatim yang baru masuk kuliah semester pertama. Sebut saja namanya Hadara. Pemilik bodi tambun mempesona, wajah rupawan khas gadis desa dari pelosok terlihat alami bagaikan menyatu dengan alam.

Satu tahun hubungan mereka berjalan, awal bencana mulai menyapa. Gelombang ujian cinta datang kepadanya setelah keluarga Hadara tak merestui hubungan mereka. Lantaran si lelaki dinilai memiliki latar belakang yang tak ada sebab untuk dibanggakan. Akan tetapi ia terus dan terus meyakinkan kekasihnya Hadara bahwa cinta tak mengenal batasan ruang dan waktu. Maka ia siap bertahan dengan kutipan janji manis bahwa ia akan membahagikannya.

Namun apa daya, Hadara tak sanggup lagi menjalin cinta setelah bertahan 5 tahun ditengah amukan bathin. Sejak kecil Hadara di asuh tantenya, sehingga ia tak mau dicap sebagai gadis durhaka yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri. Ia lebih memilih petuah keluarga daripada harus bertahan dengan cintanya. Pilihan yang begitu sulit memang, namun harus mengorbankan satu diantara dua pilihan.

“Mengapa engkau dengan kejam mengambil keputusan demikian. Bukankah engkau pernah janji disaksikan sambaran petir diatas langit bahwa kita akan tetap bersamaku?,” tanya O’be dengan air mata berlinang

“Engkau harus mengerti, sebab cinta aku tak ingin durhaka. Kuturuti kemauan keluargaku yang kuanggapnya berjasa dalam hidupku,” jawab Hadara

“Engkau harus pahami dan menerima kenyataan ini. Meski saya juga sakit. Sama seperti yang engkau rasakan,” lanjutnya.

Kemudian mereka sejenak saling terdiam, saling menunduk. Tak sepata kata terucap dari mulut mereka. O’be yang awalnya begitu agresif seolah menuntut Hadara atas cintanya pun membisu setelah mendengar penuturan dari mantan kekasihnya. Tiba-tiba O’be mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

“Tuhan ternyata sudah menentukan takdir kita masing-masing. Carilah jodohmu, dan saya pun akan mencari masa depanku diseberang pulau. Ini, kukembalikan selembar photo kenangan kita yang lama tersimpan di dompet kusut ini,” ucap O’be terbata

Hadara masih terdiam, entah apa yang harus diucapkan. Ia begitu bersedih melihat drama diantara mereka. Saling tersakiti dalam keputusan yang begitu berat. Lalu Hadara sejenak mengambil sepucuk kertas dalam tasnya.

“Maaf!!meski ini sulit namun saya harus menyampaikannya. Ini undangan pernikahan saya. Saya tau engkau tak sanggup tuk menghadirinya, tapi setidaknya engkau ketahui agar tak mengharap cintaku lagi,” ucap Hadara

O’be semakin terpukul mendengar dan melihat undangan itu. Ia tak kuasa lagi dihadapan Hadara berlama-lama. Ia pun hendak segera berlalu. Belum lama meniggalkan tempat, tiba-tiba suara pecah tabrakan kendaraan.

About NASRUL MASSE

Anak pelaut yang ingin menulis dan membaca di daratan.

Check Also

Perayan Tulisan Perayaan Buku

MALAM belum lagi begitu matang pula khatam, rinai baru saja jatuh membasahi bumi. Pada musim …

Dia Gadis Di atas Pete-Pete, Oh Ternyata…!!

CERITANYA saat masih kuliah, di akhir semester kan gue nya tuh selalu hendak pulang kampung. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]