Thursday , January 23 2020
Home / GAGASAN / CERPEN / Sebab Cinta, Tak Ingin Durhaka
Sumber poto: admin

Sebab Cinta, Tak Ingin Durhaka

Ini bukan sembarang kisah, namun ini kisah nyata adanya dari seorang lelaki yang telah mengalami bagaimana suramnya hati setelah putus dengan kekasih yang dicintainya. Hatinya pun gersang dilumat duka berkecamuk. Dasar cinta, awa bahagia harus berujung pada penderitaan berkepanjangan dari lelaki setia malang itu.

Ini berawal saat hubungan cintanya dipertengahan tahun pasca pagelaran piala dunia, tepatnya bulan juni tahun 2014. Disitulah ia mulai membabat cinta dengan seorang gadis yang usianya terpaut tiga tahun. Seorang anak yatim yang baru masuk kuliah semester pertama. Sebut saja namanya Hadara. Pemilik bodi tambun mempesona, wajah rupawan khas gadis desa dari pelosok terlihat alami bagaikan menyatu dengan alam.

Satu tahun hubungan mereka berjalan, awal bencana mulai menyapa. Gelombang ujian cinta datang kepadanya setelah keluarga Hadara tak merestui hubungan mereka. Lantaran si lelaki dinilai memiliki latar belakang yang tak ada sebab untuk dibanggakan. Akan tetapi ia terus dan terus meyakinkan kekasihnya Hadara bahwa cinta tak mengenal batasan ruang dan waktu. Maka ia siap bertahan dengan kutipan janji manis bahwa ia akan membahagikannya.

Namun apa daya, Hadara tak sanggup lagi menjalin cinta setelah bertahan 5 tahun ditengah amukan bathin. Sejak kecil Hadara di asuh tantenya, sehingga ia tak mau dicap sebagai gadis durhaka yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri. Ia lebih memilih petuah keluarga daripada harus bertahan dengan cintanya. Pilihan yang begitu sulit memang, namun harus mengorbankan satu diantara dua pilihan.

“Mengapa engkau dengan kejam mengambil keputusan demikian. Bukankah engkau pernah janji disaksikan sambaran petir diatas langit bahwa kita akan tetap bersamaku?,” tanya O’be dengan air mata berlinang

“Engkau harus mengerti, sebab cinta aku tak ingin durhaka. Kuturuti kemauan keluargaku yang kuanggapnya berjasa dalam hidupku,” jawab Hadara

“Engkau harus pahami dan menerima kenyataan ini. Meski saya juga sakit. Sama seperti yang engkau rasakan,” lanjutnya.

Kemudian mereka sejenak saling terdiam, saling menunduk. Tak sepata kata terucap dari mulut mereka. O’be yang awalnya begitu agresif seolah menuntut Hadara atas cintanya pun membisu setelah mendengar penuturan dari mantan kekasihnya. Tiba-tiba O’be mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

“Tuhan ternyata sudah menentukan takdir kita masing-masing. Carilah jodohmu, dan saya pun akan mencari masa depanku diseberang pulau. Ini, kukembalikan selembar photo kenangan kita yang lama tersimpan di dompet kusut ini,” ucap O’be terbata

Hadara masih terdiam, entah apa yang harus diucapkan. Ia begitu bersedih melihat drama diantara mereka. Saling tersakiti dalam keputusan yang begitu berat. Lalu Hadara sejenak mengambil sepucuk kertas dalam tasnya.

“Maaf!!meski ini sulit namun saya harus menyampaikannya. Ini undangan pernikahan saya. Saya tau engkau tak sanggup tuk menghadirinya, tapi setidaknya engkau ketahui agar tak mengharap cintaku lagi,” ucap Hadara

O’be semakin terpukul mendengar dan melihat undangan itu. Ia tak kuasa lagi dihadapan Hadara berlama-lama. Ia pun hendak segera berlalu. Belum lama meniggalkan tempat, tiba-tiba suara pecah tabrakan kendaraan.

About NASRUL MASSE

Seorang nelayan yang ingin terus menulis kemudian membaca saat di daratan.

Check Also

Casing Ponsel, ‘Temannya Tuhan’ dan Pernikahan Komandan

SETELAH capek bermain seusai hujan. Hari itu Kaco kecil duduk dan termenung mendongak ke atas …

Puayi Rahamang, Jumat Seusai Pemilihan

KHATIB telah naik ke atas mimbar sembil menenteng tongkat lengkap dengan jubah kebesaran sang khatib. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]