Tuesday , July 23 2019
Home / KOLOM / Ramadan, Kreatifitas dan Keindahan
ILUSTRASI KOLOM Ramadan, Kreatifitas dan Keindahan

Ramadan, Kreatifitas dan Keindahan

RAMADAN tidak saja menghadirkan kebaikan, namun ia juga menghadirkan keindahan dan kreatifitas yang luar biasa dahsyatnya. Kehadiran kebaikan, keindahan dan kreatifitas yang sulit untuk ditakar dalam takaran nalar standar manusia hedonis pula pragmatik. Begitulah adanya, ramadan bukanlah bulan yang sama dengan bulan sebelum dan sesudahnya. Sebagai bulan suci, ramadan dimuliakan, karena ia menggenapi segalanya.

Sebagai bulan yang akan mengukur seberapa jauh pencapaian nilai-nilai kejujuran dalam diri kita. Dan itu ditandai dengan puasa tidaknya kita, yang untuk itu, hanya kita, Tuhan dan mungkin teman kita berbuka di siang harilah yang akan mengetahuinya. Ditambah dengan orang yang mengintip atau memergoki kita saat sedang berada di warung-warung yang kentara kakinya.

Selain itu, bulan ramadan juga sebagai bulan yang akan menakar seberapa peduli kita kepada sesama, baik kepada yang sedang menjalankan puasa pun kepada mereka yang tidak sedang menjalankannya. Karena perbedaan agama, atau karena alasan lain, seperti musafir, atau memang karena kefakiran dan atau sedang berhalangan atau memang sedang lupa sahur.

Nah lupa sahur inilah yang sering menjadi alasan klise bagi mereka yang tidak berpuasa. Boleh saya, boleh anda dan boleh kita. Padahal kita juga sama tahu, bahwa sahur adalah ihwal sunnah, yang tidak menjadi prasyarat utama, sah tidaknya kita untuk menjalankan puasa.

Selebihnya ramadan juga adalah keindahan, keindahan dari sebuah mozaik perjalanan kehidupan anak manusia. Mulai dari shalat tarwih bersama, buka puasa bersama di jadwal normal, saat matahari tenggelam. Juga tentang cerita perjalanan mudik yang indah dan melahirkan semangat untuk bersua dan bersilaturrahmi dengan saudara dan handai taulan. Bahkan bertemu dan saling besitatap mata seraya membaca memori dengan mantan-mantan kita di kampung.

Ramadan juga tentang kemacetan yang mengular di jalan dan pasar serta mall, tentang sandal yang hilang, tentang kembang api dan leduman, juga tentang jajanan takjil serta tentang jalan-jalan usai shalat dan mengikuti kuliah subuh di masjid dan langgar juga musallah.

Demikianlah, ramadan juga adalah momentum tergelitiknya kreatifitas orang-orang, itu tampak dari iklan di beragam media, dan catatan status serta meme kocak di beragam layanan aplikasi media sosial.

Bahkan ramadan adalah peta panjang perjalanan ekonomi dalam skala kecil rumah tangga, hingga negara bahkan dunia yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena, rasanya tidak akan terbayang oleh kita bagaimana nasib ekonomi bangsa andai tidak ada ramadan. Dimana pusaran dan perputaran ekonomi dan arus lalu lintas kebutuhan dan perbelanjaan begitu cepat melaju begitu kencang. Berbanding terbalik dengan kemacetan arus lalu lintas moda transportasi yang mengular dan melamban.

Ramadan adalah titik kulminasi ekonomi, juga episentrum kebahagiaan dan kebaikan bahkan keindahan kita dalam kehidupan. Maka ramadan adalah penggenap dari ganjilnya kehidupan kita. Termasuk ihwal nalar medis yang telah menurunkan banyak hasil penelitiannya, yang menyebutkan bahwa puasa di bulan ramadan adalah jalan keluar dari beragam penyakit. Puasa sebagai terapi dan bahkan obat paling mujarrab dari berbagai keluhan kesehatan.

Sampai disini, ramadan adalah bulan yang menyiapkan dirinya untuk menjadi ruang, wadah bahkan momentum baik bagi kita untuk katarsis. Ruang renung dan jedah dari bulan-bulan setelah dan sebelumnya yang telah menghajar kita dengan beragam perilaku ganjil dan bahkan janggal.

Terakhir, ramadan dalam takaran tertentu, semoga telah mampu membuat kita kian memahami bagaimana tancap gas dan bagaimana kita melakukan pengereman atau mempuasakan diri kita untuk tidak terjebak pada nilai-nilai hewaniah yang memang ada dan mengada dalam diri kita. Baik secara personal maupun komunal. Selanjutnya, mari berterima kasih kepada Allah yang telah menciptakan ramadan bagi kita.[**]

About IYAT TEHA

Belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Check Also

Sore Ini Aku Minum Teh Buatan Si Sulung

SAMBIL membaca buku tua yang begitu lama ditinggal dan tampak telah dipeluk erat oleh debu, …

Pemilu Bukan Panggung Pertunjukan Sakit Jiwa Sosial

MEMBACA kenyataan politik juga adalah membaca peta panjang sejarah perjalanan manusia. Yang dalam kenyataannya juga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]