Tuesday , October 15 2019
Home / GAGASAN / Politik dan Kemanusiaan

Politik dan Kemanusiaan

         “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan” (KH.Abd.Rahman Wahid) 

Kita sadari bersama, bahwa hajatan pesta demokrasi tahun 2019 telah dinyatakan selesai dihelat, dan pemenangnya pun telah ditetapkan langsung oleh penyelenggara dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sekiranya kita kembali untuk saling merangkul dan menyerahkan seluruh ketidakpuasan kita akan hasil Pemilu, ke jalan konstitusional yakni Mahkamah Konstitusi (MK).

Sungguh berat, menyandang predikat kalah dalam sebuah pertarungan politik, setiap pertarungan tentu sudah menjadi takdir akan menang dan akan kalah. Namun itulah petarungan sejati, ketika prinsip itu melekat didiri setiap politisi, maka Demokrasi kita dipastikan akan maju, serta mendapat pengakuan dari dunia,dan perselisihan hanya cukup diprosesnya bukan pada hasilnya.

Kondisi Jakarta telah memberikan banyak pelajaran berharga bagi regenerasi kita, mulai dari peristiwa aksi demonstrasi yang mewarnai pasca perhelatan Pemilu Calon Presiden dan Wakil Presiden, hingga pada berpulangnya Ibu Negara Hj.Kristiani Herrawati Yudoyono istri dari Presiden Ke – 6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang dimana para tokoh dan elit politik berbondong-bondong hadir melayat di Cikeas, untuk menyampaikan bela sungkawanya.

Melihat situasi dan kondisi itu dapat ditarik suatu kesimpulan, bahwa sungguh tidak bisa kita memisahkan antara politik dan kemanusian. Meski publik mengetahui jelas bahwa dalam  politik khsususnya di Pemilu 2019 SBY berseberangan dengan Ibu Mega.Tapi soal kemanusian tetaplah dinomorsatukan.

Sungguh menjadi suatu pemandangan yang sejuk, melihat kedua tokoh nasional tersebut saling bersalaman. Ini menandakan bahwa politik itu tidak selamanya kejam ada momentum tersendiri dan elit politk mampu menempatkan posisinya itu. (*)

About HAMKA BAHARUDDIN

Sebelumnya dikenal sebagai aktivis dan kini tercatat sebagai poltisi muda PDI-P sekaligus Kader Muda NU Kabupaten Polewali Mandar

Check Also

Perayan Tulisan Perayaan Buku

MALAM belum lagi begitu matang pula khatam, rinai baru saja jatuh membasahi bumi. Pada musim …

Dia Gadis Di atas Pete-Pete, Oh Ternyata…!!

CERITANYA saat masih kuliah, di akhir semester kan gue nya tuh selalu hendak pulang kampung. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]