GAGASANOPINISALAHUDDIN SOPU

Musa As dan Seorang Gembala

SUATU ketika, Musa berjalan di sebuah lembah pegunungan. Nabi Musa as terusik oleh seorang gembala yang sedang khusuk berdoa dengan suara yang keras. Di dalam doanya, gembala itu mengatakan bahwa ia ingin menjumpai Tuhan, membawakan-Nya semangkuk sop, menyisir rambut-Nya, membasuh kaki-Nya dengan air susu dan membersihkannya. Mendengar doa sang gembala ini, Nabi Musa menegur dan mengatakan bahwa dia sesungguhnya tidak berdoa kepada Tuhan tuli. Karena itu tidak usah berteriak-teriak seperti itu.

Tuhan adalah zat Maha Agung dan tak terjangkau oleh persepsi manusia. Nabi Musa menyuruhnya berdoa seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Ia harus berdoa dengan suara yang lembut dan khusuk, karena Tuhan Maha mendengar segala permintaan hamba-Nya. Demikian Nabi Musa menegur gembala itu. Gembala itu pulang dengan hati yang terluka.

Setelah peristiwa itu, selama beberapa hari kemudian, Nabi Musa tidak lagi menerima Wahyu, dan Tuhan tidak pernah lagi menyapanya. Nabi Musa merasa gelisah dan khawatir. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa Tuhan tak juga menyapa dan menurunkan wahyu kepadanya.

Setelah beberapa lama, justru wahyu berupa teguran turun. Tuhan menegur Nabi Musa karena sikapnya yang keras kepada si gembala. Tuhan menjelaskan, gembala itu berdoa kepada-Nya dengan cara terbaik yang ia ketahui. Itu bahasa cinta dan rindu seorang gembala. Gembala itu memersepsi Tuhan sesuai dengan pikiran dan perasannya. Seperti itulah Tuhan dalam benaknya. Doanya benar-benar sempurna, tak ada bedanya dengan cara Nabi Musa berdoa kepada-Nya.

Bahasa cinta itu berbeda antara satu dengan yang lain. Banyak hal yang mempengaruhinya; tingkat pengetahuan, strata sosial, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Rasul Saw menyabdakan, “خاطب الناس على قدر عقولهم” (bicaralah kepada manusia sesuai dengan kemampuan intelektualnya).

Yang menarik dari cerita di atas betapa seorang nabi seperti Musa yang senantiasa berdialog dengan Tuhan terkadang bisa keliru memahami bahasa hati seorang pecinta Ilahi, bisa salah mengartikan keakraban seorang yang dimabuk rindu dengan Tuhan.

Ada satu kaedah prinsip di sini yang harus diingat, di dalam cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. “Kami tidak memperhatikan keindahan kata-kata atau komposisi kalimat. Yang Kami perhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah Kami mengetahui ketulusan makhluk Kami walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah. Buat mereka yang dibakar dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai makna”.

Sungguh benar sabda Rasul-Mu, إن الله لا ينظر إلى صوركم ولا الى أجسامكم ولكن ينظر إلى قلوبكم (Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada bentuk rupa kamu, dan juga kepada badan kamu, tapi melihat kepada hati kamu)

Kalau Nabi Musa as bisa keliru, apatah lagi kita? Subhanallah! Wallahu a’lam

SALAHUDDIN SOPU

Dosen Pemikiran Islam UIN Alauddin Makassar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button