GAGASANHAMDAN eSAOPINI

Balalavora

SUATU hari, anak-anak kelas tiga Sekolah Dasar sedang belajar bidang studi Matematika. Kemampuan menghitung mereka cukup baik untuk levelnya, kecuali Si Udit yang kerap lambat loading soal hitungan. Guru matematikanya senantiasa berupaya sekreatif mungkin mencari cara terbaik untuk membantu meningkatkan kecerdasan matematis Si Udit. Ia berpikir bahwa siswanya yang satu ini tidak cukup hanya dengan menuliskan angka-angka di papan tulis. Ia harus didukung alat peraga untuk membantu secara visual.

Tibalah giliran Si Udit untuk menyelesaikan sebuah soal yang bagi teman-temannya mungkin sangat mudah, tetapi baginya cukup problematis. Ibu guru menyiapkan alat peraga lima buah pisang kuning segar di atas meja.

“Baiklah Udit, lima di kurang tiga, hasilnya berapa? Perhatikan di atas meja sekarang ini ada lima buah pisang. Saya memberikanmu tiga buah”, kata ibu guru sambil menjauhkan tiga buah ke sisi kanan dan menyisakan dua buah.

“Berapa sisa pisang?” Tanya ibu guru. Si Udit terlihat sedikit berpikir menatap alat peraga pisang di atas meja. Ibu guru gembira dalam hati karena nampaknya metode yang ia berikan dapat berpengaruh pada Si Udit.

“Nanti dulu bu! Kalo saya tergantung dari pisangnya. Karena pisang itu sudah matang, maka saya memakan semua tanpa menyimpan sisa.” Tiba-tiba sekelas gempar tertawa. Ibu guru ikut tersenyum sambil menggaruk kepala. Rupanya ikhtiar belum membuahkan hasil.

“Astaga Udit… ternyata kau tidak hanya sekedar bodoh, tapi juga serakah”.

***

Pada masa sekolah dahulu dalam bidang studi Biologi, kita pernah mempelajari tentang pengelompokan hewan yang dibedakan menurut jenis makanannya. Dari sana kita mengenal beberapa jenis hewan, yakni; herbivora sebagai pemakan tumbuhan, karnivora sebagai pemakan daging, serta omnivora sebagai pemakan tumbuhan dan daging. Jenis ini termasuk manusia. Adapula disebut insektivora, yakni hewan pemakan serangga.

Tetapi manusia masih dapat dibedakan lagi ke dalam beberapa jenis, yakni vegetarian dan nonvegetarian. Vegetarian lebih dekat ke herbivora dan nonvegetarian lebih dekat ke karnivora. Perbedaan pola makan vegetarian dan nonvegetarian terletak pada ada tidaknya asupan makanan hewani dan makanan nabati.

Rupanya kelompok vegetarian pun masih dapat dibedakan, yakni; lacto-vegetarian, ovo-vegetarian, lacto-ovo-vegetarian, fleksitarian, pescatarian, dan vegan yang konon sebagai versi ekstrem dari gaya hidup vegetarian.

Pembagian di atas dilakukan berdasarkan studi biologi; terkait apa yang dimakan oleh hewan. Saya ingin mengajak kita melihat “makan sebagai prilaku”, yang meliputi beberapa hal yakni; bagaimana cara mendapatkan makan, berapa banyak, seberapa sering, sampai kapan?

Melalui lagu berjudul Opini, Iwan Fals melantunkan syairnya seperti ini; “manusia sama saja dengan binatang // selalu perlu makan // namun caranya berbeda // dalam memperoleh makanan // binatang tak mempunyai akal dan pikiran // segala cara halalkan demi perut kenyang // binatang tak pernah tahu rasa belas kasihan // padahal di sekitarnya tertatih berjalan pincang…”

Iwan menegaskan bahwa dari segi kebutuhan (need), tak ada perbedaan manusia dengan binatang, sama perlu makan. Yang membuat beda adalah akalnya dan caranya. Namun menurut Iwan, kadang-kadang ada juga jenis manusia mirip binatang bahkan lebih keji. Atas nama “makan”, ia menggunakan segala cara, tak pernah merasa cukup, lalu merampas milik orang sekitarnya tanpa empati sedikit pun.

Saya ingin menyebut jenis manusia seperti ini dengan istilah “balalavora”. Balala, dalam tradisi Bugis-Makassar bermakna rakus, tamak, serakah. Sedangkan vora berasal dari bahasa latin yaitu vorare yang berarti untuk dimakan atau dilahap. Balalavora merupakan jenis manusia yang tertus-terusan merasa lapar, karena itu ia memakan apasaja yang dapat ia temui, menghalalkan segala cara, namun tak pernah menjadi kenyang.

Mengapa tak pernah kenyang? Karena manusia jenis balalavora ini sebenarnya tidak sekedar menikmati apa dan seberapa banyak yang ia makan. Namun lebih dari itu, cara-cara memperoleh makanannya itulah yang justru sebagai kenikmatan. Nikmat rasanya mengejar milik orang lain, merampas, menguasainya, lalu mengamankannya sebagai milik pribadi. Nikmat rasanya mengakal-akali uang milik rakyat, nikmat rasanya mengusai jalur dari hulu ke hilir, dan lain-lain.

Mungkin perwujudannya yang pernah kita kenal serupa sepupu Musa alaihissalam yang namanya masyhur disebut Qarun dan hartanya hingga kini menjadi mimpi-mimpi hampir setiap orang. Atau King Midas dari mitologi Yunani yang melegenda dengan “Hand of Midas”.

Atau bisa juga Si Udit yang masih kelas tiga SD, melalui otak serakahnya sudah dapat menekuk rumus logika matematis. Atau para koruptor yang skillnya super mahir menyulap arah uang dan membungkam hukum.

Atau boleh juga seseorang atau sekelompok orang yang memiliki hasrat berlama-lama pada sebuah singgasana kekuasaan. Bukankah penjajahan di atas dunia berlangsung karena hasrat besar kelompok penjajah menguasai bangsa lain dalam waktu yang tidak mereka tentukan?

Pada level satu digit di atasnya sudah sampai ke titik ekstrim. Balalavora dapat menjadi kanibalisme, hewan yang “memakan” sesama jenisnya. Seperti kisah Sumanto yang mencuri dan memakan mayat nenek Mbah Rinah. Terlalu banyak kisah kanibalisme untuk dituliskan. Namun yang lebih mengerikan adalah kanibalisme yang memakan sesama saudara-saudaranya sebangsa. Level ini sangat mengerikan.

Dalam bayang-bayang balalavora itu, saya mulai sedikit mengerti atas pertanyaan saya sendiri sejak dulu. “Mengapa soal makan dan tidak makan ini menjadi ibadah pokok (rukun) dalam ajaran Islam?” Ternyata, manusia memang harus dilatih untuk mengendalikan hasratnya. Jika tidak terkendali, akan terbukti apa yang menjadi prediksi malaikat saat menerima informasi langsung dari Tuhan tentang penciptaan manusia.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al Baqarah: 30).

Banga, 8 April 2022

HAMDAN eSA

Dosen Universitas Al Asyariah Mandar, lahir di Kendari, pernah nyantri dan belum punya cita-cita.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button