BERITAFEATURE

Membaca Millenial dan Panggung Pertunjukan

Catatan dari Arena Jambore Budaya TB Sulawesi Barat

MALAM ditemani gemintang, dililit dingin Buttu Ciping, sejumlah pelajar yang berasal dari sejumlah sekolah menengah atas se-Sulawesi Barat tertawa cekikikan, bergemuruh dan bercampur dengan tawa lepas penonton lainnya. Di depannya sebuah panggung pertunjukan terbuat dari batang bambu tampak tengah diiisi oleh sejumlah aktor pertunjukan dari komunitas Tammengundur.

Malam itu, Jumat Malam, 26 Maret 2022 sekitar pukul 21.00 Wita komunitas yang yang berpersonilkan sekitar 27 orang itu gonta ganti naik ke atas panggung pertunjukan. Setelah sebelumnya diawali dengan tabuhan rebana ditemani tembang yang memuat pesan spritual berupa dzikir dan shlawat.

Seirama waktu bergerak, sejumlah materi dan gendre pertunjukan bergonta ganti. Mulai dari tabuhan rebana hingga lagu-lagu pop, dangdut, lagu india dan parodi serta banyolan pun menjadi ciri khas yang diusung dalam karya Tammengundur malam itu. Tak terhitung berapa banyak scene dan plot cerita lawakan yang sukses mengocok perut para penonton. Tak terkecuali perut para penggiat seni budaya yang juga tampak hadir dan ikut menjadi penyaksi malam itu.

Menariknya, Wahab salah satu personil yang malam itu menjadi MC paling kocak saat berbincang dengan penulis sesuai pertunjukannya mengatakan, usungan pertunjukan mereka itu merupakan kreativitas yang mereka bangun tidak secara instan.

“Sejumlah proses telah kami lewati. Tapi fokus utama kami adalah pada pertunjukan rebana yang awalnya hanya mengisi sejumlah kegiatan tradisi pappatamma’ dan lalu pelan berubah menjadi komunitas yang mengusung berbagai gendre kesenian,” ucapnya.

Dikatakan Wahab, pertunjukan mereka pelan berubah dan mengikuti perkembangan masyarakat itu hanya cara untuk menyiasai pasar serta kebutuhan hiburan masyarakat yang ternyata menurutnya lebih membutuhkan hiburan dan banyolan.

“Perubahan model usungan pertunjukan kami itu adalah bahagian dari cara kami untuk memuaskan para penikmat pertunjukan. Terlebih kami, lebih banyak mengisi hajatan warga di kampung-kampung. Karenanya upaya yang bisa kita lakukan adalah kreatif untuk selalu memikirkan kemasan pertunjukan kami. Kini pilihan yang kami ambil adalah dengan melawak. Tentu saja dengan dibubuhi pesan moral dan hikmah,” tuturnya.

Tak heran jika malam itu, Tammengundur mendulang sukses menyita perhatian para peserta jambore budaya yang dihelat oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Barat. Bahkan durasi tiga jam pertunjukan tunggalnya itu, tak begitu terasa mengalir dan cair begitu saja. Walau tak dapat dipungkiri, sejumlah catatan penting terkait dengan pertunjukan dan cara banyolan Tammengundur yang menurut sejumlah pekerja kesenian yang hadir malam itu, juga dinilai agak berlebihan dan tidak tajam menimbang pakem serta nilai-nilai yang hidup dan bertumbuh di tengah masyarakat.

Titik Nol Kebudayaan

Zulkifli Siddik salah satu penggiat seni budaya yang berbasis digital kepada penulis juga menuturkan, paket yang diusung dalam jambore budaya kali ini dalam hematnya, merupakan upaya menyemangati para pelajar akar bisa merespon era dengan mengusung karya kreatif.

“Di tengah era digital, tidak ada alasan untuk tidak meresponnya dengan karya kreatif. Tetapi tentu saja cara merespon yang baik menurut hemat kami adalah dengan jalan melakukan tafsir tradisi dan karya kesenian klasik yang kita punyai di daerah ini. Dengan tidak meninggalkan pakem. Karenanya, agar karya-karya kesenian kita bisa mengikuti era, pendekatannya haruslah kreatif dengan memanfaatkan sejumlah platporm digital,” ungkap Zul panggilan akrabnya yang juga merupakan motor teknis penggerak jambore budaya itu.

Dikatakannya, kagiatan yang berlangsung sejak tanggal 23 hingga 28 Maret 2022 itu selain diisi dengan penampilan Tammengundur juga diisi dengan perkemahan serta penampilan sejumlah genre kesenian dari peserta jambore itu.

“Kita telah mendesain selain perkemahan, juga diisi dengan penampilan dari peserta jambore serta pemutaran filem, jelajah budaya ke sejumlah objek, permainan tradisional, workshop culturepreneurship, lomba permainan rakyat, masakan tradisional, karnaval budaya, olah tubuh dan pertunjukan dari komunitas Tammengundur. Bahkan salah satu komunitas dari Makassar juga dihadirkan dengan mengusung kesenian pembauran tradisi dan modern,” ungkapnya.

Bahkan di dalam term of reperence kegiata itu, terbaca bahwa, kebudayaan tidak boleh hanya sibuk bertahan tuan rumah di negeri sendiri. Lebih dari itu kebudayaan harus menjadi tamu terhormat di negeri orang. Teknologi tak dapat ditolak, justru harus dijadikan peluang untuk menegosiasikan tradisi dan kebudayaan.

“Format kebudayaan kita ke depan harus memiliki daya tarik bagi kaum millenial, sehingga tradisi dan kebudayaan tidak hanya milik dan urusan kolonial. Tidak cukup hanya dengan merawat dan melestarikan, kaum muda harus memperkaya dengan memberi tafsir baru sesuai dengan semangat zaman,” begitu yang tertulis di liplet kegiatan yang bertema utama Titik Nol Kebudayaan Sulawesi Barat itu.


Catatan: Sebelumnya tulisan ini telah dimuat di Koran Cetak Harian Sulbar Express Edisi Senin 28 Maret 2022

MS TAJUDDIN

belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button