BERITAFEATURE

Karena Malaqbi bagi Manusia Mandar adalah Keniscayaan

Muhammad Zain: Karena Malaqbi adalah Al-karim dalam Al Quran dan Hadits

MANDAR Malaqbi menyentuh seluruh lini, ada point utama, yaitu pakaraya to tondo dai, pakalabbiq sippatutta, asayanngi to tondo naung. Nilai Malaqbi tidak bertentangan dengan agama dan Pancasila. Seperti Malaqbi Pau itu ahsanu Qoula, malaqbi kedzo ahsanu taqwim dan malaqbi gau’ ahsanu Amala. Begitu yang diungkap Wasilah Sahabuddin Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene dalam sambutannya saat membuka secara resmi talkshow awal Tahun yang dihelat di STAIN Majene 08 Januari 2022.

Acara yang bertema Reinventing Mandar Malaqbi dan digelar di Gedung Rektorat STAIN Majene itu merupakan kolaborasi STAIN Majene dan ZAIN OFFICE. Menghadirkan lima Narasumber yang handal di bidangnya. Muhammad Idris (Sekda Provinsi Sulawesi Barat), Usman Suhuriah (Wakil Ketua 1 DPRD Provinsi Sulawesi Barat), Muhammad Zain (Direktur GTK Madrasah dan Zain Office), Syarkawi Rauf (Direktur PTPN IX) dan Muhammad Ridwan Alimuddin (Budayawan). Dipandu langsung oleh Utsan sebagai Host.

Hirarki Siriq dalam mandar ada tiga, Siriq dipomate. Siriq diposiriq dan Siriq biasa. Kehidupan Prof. Baharuddin Lopa, banyak pendapat bahwa perwujudan Amalaqbian orang mandar yang ideal ada pada diri beliau. Beliau menolak semua bujukan dan sogokan, karena itu adalah Siriq diposiriq.

Maka, mandar mengenal Appe sulapaq Malaqbi (Empat Penjuru Nilai Malaqbi) Pertama, Barani (Berani) lalu ia Manarang (Cerdas Intelektual) juga Sugiq (Ekonomi Cukup) dan Panrita (cerdas Spritual). Mentalitas ini yang harus dimiliki mandar, Apalagi jika seorang pemimpin, keberanian, kecerdasan, mampu ekonomi, dan berperilaku Shaleh harus lengkap. Narasumber pertama Ridwan Alimuddin menerangkan.

Narasumber kedua Syarkawi Rauf menegaskan bahwa Orang Sulawesi dikenal dengan pelaut ulung, termasuk mandar. Pelaut itu mesti memiliki karakter keberanian. Dan itu sudah ada pada diri orang mandar. Kita sudah punya modal keberanian. Tinggal kita ciptakan percepatan intelektual. Jika sudah dua kualitas itu ada, kita siap menerima setiap tantangan zaman.

Untuk berubah, kita mesti punya data. Saya harapkan, adek adek mahasiswa STAIN kalian menyandang gelar intelektual. Lahirkan ide dan gagasan baru untuk kemajuan Sulawesi Barat ini. Karena setiap kali saya ke Jepang diskusi hangat diantara mereka mirip yang yang kita bahas hari ini. Ternyata Restorasi Meiji itu lahir dari Poros kebudayaan, seperti Siriq. Itulah mengapa, disana dikenal istilah Hara-kiri, karena mereka tidak ingin menanggung malu, sehingga ia harus bunuh diri.

Muhammad Zain Narasumber ketiga, justru memulai dengan sebuah pertanyaan: “Lalu Mengapa Agama Islam lahir di Mekkah? Padahal sudah ada peradaban besar dunia yaitu Romawi dan Persia? Sudah ada India, Yunani, Asia bahkan China ?”

Ternyata meskipun ada jahiliyah di Arab ada masyarakat Badui, dikenal dengan nama Al-Ummi. Komunitas Arab. Menurut Toshihiko Isuzu dalam bukunya Etika Beragama dalam Qur’an. Juga ada Kitab Mukaddimah karya Ibnu Khaldun. Ada diksi Al-badawa wa Al-Hadharah didalam. Masyarakat Badui dan masyarakat Modern. Lalu diutus Rasul untuk Li utammima Makarim al-Akhlak, ditegaskan Qur’an. Inna Akramakum Indallahi Atqaakum.

Qur’an dan hadits memakai diksi Al-karim, Dan itu adalah makna Malaqbi. Ada beberap indikator untuk sampai pada Karim/malaqbi. Pertama Ash-Sidqu (Kejujuran), kedua Al-Ikhlas (kesetiaan), ketiga As-Syaja’ah (Keberanian) dan keempat Muru’ah (Menjaga harga diri).

Kalau ingin berubah, kita harus menarik busur kebelakang. Semakin ditarik kebelakang, semakin cepat pula panah melesat. Itulah mengapa orang barat maju, karena mempelajari tradisi keilmuan khususnya filsafat Yunani. Membincang kemajuan daerah, tidak boleh meninggalkan sejarah. Dari sana kita berpijak untuk menyambut peradaban. Pentahelix sinergitas semua pihak untuk kemajuan daerah kita tercinta. Lanjut Muhammad Zain.

Ketika ada Reinventing, berarti dia dulu ada, sekarang hilang. Konsep amandaran layak dibawa ke masa depan dalam wilayah afdeling mandar. Lalu Dimana kita bisa temukan? Lalu siapa yang bisa digugat dan siapa contohnya.

Malaqbi ketika dibawa ke gelanggang politik, hanya jadi alat tidak jadi nilai. Bagi Legislatif, malaqbi harus jadi formal di pemerintahan. Standar kerja mestinya Malaqbi harus jadi tolak ukur. Malaqbi secara Ontologi dan epistemologi sudah selesai, tinggal Aksiologinya.

Malaqbi mesti di install ke ruang publik. Seperti amanah pasal 32 ayat 1:
“Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”. Bukan hanya diksi Budaya digunakan para politisi. Sebab Bukan kekayaan yang menjadi modal, tapi sejarah. Whose losing history Will be losing face. Siapa yang kehilangan sejarah, maka ia akan kehilangan wajahnya. Gelitik Usman Suhuriah Narasumber keempat.

Narasumber terakhir Muhammad Idris berpesan bahwa Malaqbi juga dikaitkan dengan waktu. Menghargai waktu dengan disiplin. Waktu yang molor, menunggu lama itu juga termasuk bukan malaqbi, karena kita mesti menciptakan percepatan. Jepang menganut prinsip Homotenasi, membuang satu menit, mereka merasa rugi. Amerika Reinventing Malaqbi adalah new public service dan new public management. Kesadaran masyarakat mengurangi tugas pemerintah.

Malaqbi itu ada tiga, adaptasi struktural dan kultural. Namun satu ini, kita gagal adaptasi instrumental. Kita tidak kekurangan Kebijakan. Tapi surplus kebijakan. Yang kurang instrumental. Paling tidak jangan bohong, jangan korupsi jangan memperdaya. Syaratnya adalah Collectivity harus dikoneksikan. Kalau tidak, ini akan gagal beradaptasi. Dari Instrumental itu, Finlandia menjadi negara terbaik dan paling bahagia di dunia.

Malaqbi berhenti di Aksiologi. Hanya sampai epistemologi dan ontologi. Padahal malaqbi bisa dibawa kemana-mana, sebab ia sifat. Generasi Z hari ini bergeser, dari revolusi mental jadi kena mental. Mental yang kuat adalah orang bekerja dengan Hati. Dan itu adalah ciri khas orang Mandar. [*]

Luyo, 08 Januari 2022

FARHAM RAHMAT

Alumni Hukum IAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta Timur aktif menulis dan di literasi pengembangan skill membaca naskah lontara. Juga Alumni dan aktif di SKPB Akbar Tandjung Institute. Kini nyantri di Mejelis Shalawat Simpang M. dan didaulat sebagai Ketua Zain Office serta Editor di katalogika.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button