KOLOMMS TAJUDDIN

Cuaca dan Sakit Hati

PUA’ Rahing tidak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya menggigil tak berdaya. Dingin menyergap hingga terasa ke dalam sumsum tulang belulangnya. Malam itu, ia tak kuasa menahan dingin yang datang menyeruduk serupa banten Mexico. Kokohnya tulang dan liatnya otot-ototnya tak lagi sanggup membuatnya serupa seorang matador kawakan yang bisa menjinakkan banten seliar dan segarang apapun.

Malam itu usai mengambil air wudhu sekedar untuk menjalankan ritual shalat tengah malamnya, Pua’ Rahing tak kuasa, untuk tidak lagi menarik sarung tidur, setelah dirinya menjalankan ritual shalat malam. Pilihan selanjutnya adalah menuju dapur mencari air hangat dan sedikit garam untuk meredakan batuk yang juga tengah menggelitik tenggorokannya.

Batuknya sesaat memang terhenti, namun belum sempat ia terlelap, kembali batuk itu menyerangnya. Pua’ Rahing gelisah dalam tidurnya. Belum lagi nyamuk yang begitu telaten mengintipnya. Lengah sedikit saja, Pua’ Rahing menyentuh kelambu, nyamuk-nyamuk itu segera akan menyuntikkan spoitnya ke dalam kaki, lutut atau tangan dan lengang Pua’ Rahing.

Pua’ Rahing sungguh tak kuasa menahan beban kantuk, batuk dan dingin yang seakan mengulitinya. Tidak ada ruang baginya untuk sekedar terlelap sejenak. Selain matanya yang tetap nyalang menatap ujung kelambu.

Jelang subuh, Pua’ Rahing seakan menang, matanya tidak kunjung tertutup, ia bangkit saat suara tarhim dari loodspeaker masjid menggema. Pua’ Rahing merasa telah berhasil mengelabui sakit dan batuknya. Hingga jelang adzan subuh ia tak kunjung bisa terlelap. Kindo’ Rahing terbangun dan menjerang air hangat, berharap bisa menyeduh kopi tubruk kegandrungan Pua’ Rahing suaminya.

Namun celaka, kayu bakar yang akan digunakan untuk menjerang air di dapur ternyata sudah habis. Kindo’ Rahing mendongkol. Namun tak ada pilihan lain, selain menggunakan sisa sabuk kelapa yang masih tersisa di kolong rumahnya. Jadilah ia menyalakan api di tungku dengan menggunakan sabuk kelapa.

Asapnya menyeruak hingga ke segenap ruangan rumah kayu miliknya. Pua’ Rahing yang mencium asap sabuk kelapa itu kemudian bersin-bersin tak kuasa menahan asap sabuk kelapa yang menyerangnya. Penderitaan subuh itu ternyata belum juga berakhir.

Pua’ Rahing bangkit, mengenakan sarung tidurnya ia kembali menuju dapur dan menemui istrinya yang tengah menjerang air di sana. Tak ada yang bisa dilakukannya, setelah sesaat sebelum ia hendak marah, karena asap sabuk kelapa, mendadak pencuiumannya menangkap aroma kopi tubruk buatan istrinya. Pua’ Rahing mendekat dengan batuk yang masih setia menemaninya.

Pekan-pekan terakhir ini, cuaca sebagaimana yang dikatakan tetangga Pua’ Rahing memang sedang tidak bersahabat. Kadang hujan mendadak, tetapi sesaat kemudian terik panas matahari segera menggantikannya sedetik kemudian. Itu pulalah mungkin yang membuat Pua’ Rahing harus mengalami sakit yang telah mendera dirinya dalam satu dua pekan terakhir ini.

Padahal jika mau jujur Pua’ Rahing dan Kindo’ Rahing sebagai salah satu warga yang taat azas dan sadar kesehatan telah menjalani vaksinasi hingga level booster. Namun apa daya, sakit bagi Pua’ Rahing tak melulu tentang kesadaran atas kesehatan semata. Dan kali ini rasanya cuacalah yang patut menjadi alasan sekaligus bisa dijadikan tersangka utama yang membuat Pua’ Rahing harus mengalah dan berhenti menjadi seorang matador yang kuat untuk menahan segenap serangan cuaca serupa apapun.

Adakah Pua’ Rahing sakit hati, karena ternyata dengan kesadaran kesehatan yang telah berada pada level tinggi sekalipun, ternyata masih juga sukses membuatnya jatuh sakit. Pua’ Rahing tidak akan sakit hati, karena sakit baginya, adalah cara Tuhan untuk menggamit ingatan dan kesadarannya. Bahwa hidup tak melulu tentang sehat, dan karena itu, sakit yang menimpa badannya tak perlulah membuat hatinya ikut sakit dan kecele pada pilihan hidup sehat yang telah lama ia jalani.

Termasuk kenyataan kembali menukik tingginya angka penderita sakit yang harus menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, sebagimana yang diberitakan di banyak media, termasuk di media sosial yang saban saat membuat Pua’ Rahing dan Kindo’ Rahing nyaris selalu setres dan nyaris sakit hati.

Namun juga mungkin karena aroma asap sabuk kelapa dan kopi tubruk subuh itu pulalah, kemudian yang membuat Pua’ Rahing masih menaruh harapan dan asa yang meledak-ledak dalam batinnya. Setelah aroma sabuk kelapa dan kopi tubruk itu masih terasa pekat tercium oleh indera penciumannya.


Sumber: Catatan ini telah dimuat di Kolom Rinai Kata Koran Harian Sulbar Express Edisi Senin, 07 Maret 2022

MS TAJUDDIN

belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button