MURSYID SYUKRI
-
Apa Itu Hari Buku Untuk Generasi?
APA sebenarnya makna Hari Buku bagi generasi hari ini? Apakah ia hanya sebatas tanggal peringatan di kalender, ucapan seremonial di media sosial, atau sekadar pajangan foto buku yang diunggah lalu dilupakan? Ataukah Hari Buku seharusnya menjadi momentum besar untuk membangunkan kembali kesadaran berpikir sebuah bangsa? Melihat kondisi hari ini, kita hidup di tengah zaman yang penuh ironi. Teknologi berkembang begitu…
Read More » -
Bangga Dengan Mandar Kappung Pembolongan
DI penghujung kegiatan Workshop Talenta Bahasa dan Sastra, suasana ruangan sebenarnya terlihat biasa saja. Para peserta sibuk menyimak pembacaan karya, beberapa berdiskusi kecil, sementara sebagian lainnya hanya duduk mendengarkan dengan tenang. Namun di tengah suasana yang tampak sederhana itu, terdengar sebuah percakapan yang menyentuh kesadaran tentang identitas dan asal-usul. Percakapan itu datang dari diskusi kecil antara Ramli Rusli bersama beberapa…
Read More » -
Ketika Dunia Mengajarkan Pergi, Siapa Mengajarkan Pulang?
PADA penghujung sebuah kegiatan Workshop Bahasa dan Sastra di Taman Budaya dan Museum UPT Taman Budaya di Buttu Cipping, di hadapan peserta, pemateri M. Syariat Tajuddin membacakan sebuah Kisah Cerita yang ditulis sendiri olehnya. Sebuah kisah sederhana, namun mengguncang batin saya yang mendengarnya dari kejauhan. Ia membacakan cerita tentang seorang tua bernama Puayi Kaco. Bukan tokoh besar. Bukan bangsawan. Bukan…
Read More » -
Bustan Basir Maras: Asal Sehat Jiwa Raga, Faham, Bisa dan Mengerti Baca Tulis, Menulislah!
UNGKAPAN “Asal sehat jiwa raga, faham, bisa dan mengerti baca tulis, menulislah” merupakan sebuah seruan intelektual dan kebudayaan yang sangat mendalam maknanya. Kalimat ini bukan sekadar ajakan untuk menulis, tetapi juga sebuah panggilan moral kepada generasi muda agar mencatatkan jejak kehidupan, budaya, bahasa, dan peradaban masyarakatnya sendiri. Dalam konteks Tanah Mandar, ungkapan ini menjadi sangat penting karena Mandar memiliki kekayaan…
Read More » -
Tuttu’ Rawana dan Rampak Dzikir
TUTTU’ rawana dalam masyarakat Mandar bukan sekadar bunyi pukulan rebana, melainkan jejak panjang peradaban spiritual yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat pesisir Sulawesi Barat. Dalam bahasa Mandar, tuttu berarti pukulan atau rempakan, sedangkan rawana adalah sebutan lokal untuk rebana. Akan tetapi, Rawana dalam kebudayaan Mandar memiliki ciri yang berbeda dengan rebana pada umumnya. Ukurannya lebih besar, berdiameter sekitar 60 hingga…
Read More » -
Etika Mappasa’bi Leluhur Mandar
DALAM kehidupan masyarakat Mandar, tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari sistem nilai yang menjaga hubungan manusia dengan Tuhan, alam, leluhur, dan sesama manusia. Salah satu tradisi yang masih dikenal dalam kehidupan masyarakat adat Mandar adalah Mappasa’bi. Tradisi ini dipahami sebagai suatu bentuk penyampaian niat, permohonan restu, serta penghormatan sebelum melaksanakan suatu kegiatan penting, terutama hajatan, upacara adat,…
Read More » -
Seandainya Saya Diminta Memilih
SEANDAINYA saya diminta untuk memilih, di tengah situasi yang masih menyisakan ruang kosong dalam kepemimpinan Wakil Gubernur Sulawesi Barat pasca berpulangnya Mayjen Salim S Mengga, maka pilihan itu tentu bukan sekadar soal politik, tetapi juga tentang rasa, nilai, dan keberlanjutan cita-cita yang pernah dirintis bersama. Hingga hari ini, harus diakui bahwa belum ada sosok dari kandidat lain yang benar-benar menghadirkan…
Read More »